There can be no “teacher” without ‘pupils’ , no rebel without ‘establishment’.

Arti Peimpin

Pemimpin adalah orang pertama sekaligus orang terakhir dalam sebuah kelompok (Mukti 2013)

This is featured post 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Gunung Prahu

SEUMUR HIDUP KITA SEKALIPUN TIDAK AKAN CUKUP UNTUK MENGELILINGI INDONESIA. I LOVE INDONESIA.

Obrolan kamar Astra

0 komentar

Hujan malam ini cukup syahdu seperti hujan sebelum-sebelumnya.
Mau bagaimanapun ia turun hujan selalu mengundang banyak kenangan akan masa lalu dan doa akan masa depan. Tanpa kegiatan yang jelas, hujan dan kondisi sepi asrama mengundang rasa kantuk pada banyak mahasiswa PPG. Syukur saja kopi di blek tango masih ada. Sedikit tambahan amunisi untuk menunda rasa kantuk menjadi pemenang. Sedikit cerita tentang teman-teman di asrama PPG.
Ada beberapa hal yang terjadi yang tentunya bisa diceritakan untuk diambil pelajarannya. Terutama masalah cinta. Balik lagi, untuk soal yang satu ini, mau dibahas bagaiamanapun tidak ada habisnya. Suatu kisah yang sama sekalipun jika pelakunya berbeda, ya tetap berbeda. Belum lagi beda waktu terjadi, ya jelas semakin berbeda. Hal yang ingin aku soroti dari kisah ini adalah tentang lisanku dalam memanas-manasi hubungan seseorang. Bukan sekadar memanas-manasi, tapi mengarahkan hubungan mereka kepada ranah pernikahan. Aku memang sampai saat ini belum pernah menikah, tapi banyak teman yang percaya dan menjadikanku “pembuangan” tempat mereka menceritakan apa yang mereka risaukan.
Jika di kalimantan berhasil memanas-manasi Rudi Tan Seda. Kemudian muncul nama Gilang, sekarang tentang dua orang mahasiswa ppg asrama putra. Hamid dan Dihan. Dua orang kawan yang saat itu ada bersama di dalam kamar asarama putra denganku. Keduanya bercerita tentang masalah mereka dengan tema yang sama, bingung masalah pernikahan. Satu orang masih merasa takut unutk menikah padahal orangtua sudah mengejar-ngejar. Satu yang lain masih bingung dengan hubungannya saat itu. Seperti biasa, aku jelaskan semampuku apa yang aku ketahui dan aku bagi dengan keduanya. Tentu saja berdasarkan literatur dan pengalaman dari perjalanan saudara-saudaraku. Dari situ, mulailah keduanya sedikit berubah. Dihan yang semula cuek dengan calonnya kini cukup terlihat intens dalam berkomunikasi. Hamid, lebih-lebih, nyaris setiap mau tidur dan bangun tidur selalu telponan, haha. Sejauh ini, aku cukup berhasil memanas-manasi mereka. Hamid mulai serius memikirkan bagaimana langkah selanjutnya untuk serius dengan hubungan yang ia miliki. Sejauh ini dia sudah bertemu dengan kedua orangtua dari perempuan yang dia suka. Seorang diri, tanpa ada yang menemani. Dia juga sudah mulai memikirkan langkah selanjutnya untuk melakukan lamaran dan tahap berikutnya. Cukup detail yang pernah kami diskusikan hingga urusan teknis termasuk biaya lamaran. Sampai menghitung berapa persen dari hasil panennya yang harus digunakan untuk melamar. Semoga saja usai PPG atau kalau bisa sebelum PPG selesai lamaran sudah ia lakukan. Aamin. Dihan juga kurang lebih sama. Dia yang sudah lamaran kini lebih sering berbincang dengan ibunya perihal teknis. Hal yang dulu sempat dia hindari. Alhamdulillah, kini dia juga sudah berani mentargetkan dirinya untuk menikah di tahun 2018.
 Lalu bagaimana dengan diriku ?
Mereka tentu saja sempat bertanya. Aku jawab sebisaku. Saat ini, calon yang aku ajukan masih belum mendapatkan rido dari orangtuaku terutama mama. Mungkin 1-1,5 tahun lagi aku baru menikah. Dihan pun bertanya, “Jika pada tahun itu misal kamu belum bekerja apa kamu tetap akan menikah?” “Insya Allah. Yang penting sudah dapat rido orangtua. Selagi keduanya masih hidup, carilah rido keduanya. Insya Allah semua akan dipermudah.” Jawabku.
Tentu saja, itu juga dikembalikan pada si calon mempelai wanita.
Apakah ia mau denganku dengan kondisiku semisal seperti itu atau tidak.
Tentang calon yang aku ajukan kemudian ditolak oleh mama, awalnya tentu saja sedih.
Dasar laki-laki, ditolak pun tetap mengajukan lagi, dan sampai aku ajukan untuk kelima kalinya dengan jarak dan waktu yang berbeda lah ko jawabannya tetap sama. Kekeuh. Akhirnya, mulailah aku terbiasa. Menyadari apa yang ada, diri mulai menata hati dengan hal-hal yang baik. Insya Allah, jika sudah waktunya nanti akan datang calon yang sesuai. Karena bagaimanapun juga janji Allah itu pasti, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik. Hanya saja, sampai saat ini aku belum memberi penegasan pada calonku itu. Semoga ia bisa menerima kondisi ini. Semoga saja.

Senandung adzan di liang lahat

0 komentar

Allah ku. Aku yakin ini salah satu teguranmu untukku atas kealpaanku dan kebobrokanku dalam diam. Siapa sangka jika hari ini, Kamis, 8 September engkau berikan aku pengalaman perdana yang luar biasa. Engkau memberikan aku kesempatan untuk mengumandangkan adzan dan Iqamah. Bukan di masjid atau di mushola, melainkan di liang lahat.
Betul kawan, liang lahat.
Bergetar badan ini. Suaraku nyaris berubah menjadi Isak tangis jika aku tidak ingat adab mengenai jenazah.
Ingin rasanya berhenti dan berkata aku tidak sanggup. Tapi keyakinan bahwa ini adalah suatu hal yang kelak akan sangat berguna menguatkan ku untuk menunaikan amanah yang diberikan oleh orang-orang di sekitar rumah.
*
Tidak ada yang menyangka dan menduga bahwa tetangga depan rumah meninggal dunia dalam usia yang relatif muda. Hanya beberapa tahun saja terpaut usia denganku.
Rasanya baru kemarin dia membantu keluargaku mengurus nikahan mas parjo. Baru kemarin juga dia meminjam sound untuk acara aqiqah kakaknya.
Siapa sangka, siang tadi Allah memanggilnya.
Siapa sangka juga bahwa aku dipilih oleh orang-orang sekitar membantu untuk menerima jenazah lalu lantas mengadzaninya.
Mungkin ini teguran juga bahwa buku fiqih jenazah yang aku beli memang harus lekas diselesaikan untuk dibaca. Penerapan ilmu itu, tidak menunggu waktu kita berleha-leha. Kapan pun penerapan itu akan datang. Pun pasti dengan maut.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers