Biola tak berdawai

Mendengar kata tuna (selain ikan), bayangan kita akan terbawa pada ketidak sempurnaan . Entah kurang pada hal pendengaran, penglihatan, komunikasi verbal, tidak punya rumah, pekerjaan, atau beberapa kekurangan sekaligus yang dimiliki, sehingga kita kenal sebagai tuna daksa.
Mungkin seorang buta, masih bisa membaca dengan huruf braile. Seorang bisu bisa memberikan isyarat tentang apa yang ingin ia sampaikan pun dengan orang tuli. Namun apa yang bisa dilakukan oleh seoarang tunadaksa, kawan?
cobalah baca "BIOLA TAK BERDAWAI" dan rasakan sudut pandang tokoh dewa. Seorang penderita tuna daksa.
Ia yang melihat tapi tak melihat. Mendengar tapi ta mendengar. Diam. Autistik. Bagaikan sebuah ulat dalam kepompong. Ajeg. Tapi kita tahu bahwa ia bernyawa. Meski entahlah, kapan ia akan muncul dan menampakkan kesungguhan tanda-tanda kehidupannya.
Kawan. Dewa. Nama yang indah bukan? meski pada kenyataannya ia tunadaksa.Mengerikan dan terkucilkan. Ia tetaplah manusia.
Kawan. Tanpa kita sadari. Kita sebenarnya lebih parah darinya lho?
Percayalah.
Kita melihat teman dan saudara kita dalam musibah. Susah. Tapi kita seolah tak melihatnya.
Mendengar  jerit minta tolong mereka. Namun kita seolah tuli.
Kita hanya diam dengan hati yang semakin kelam. Jauh lebih buruk dari apa yang sebenarnya dialami oleh dewa.
Kawan......
Bisakah kita memaksimalkan yang kita miliki saat ini tanpa keluhan?

2 komentar:

{ Gilang Kotaro } at: 23 Februari 2012 21.52 mengatakan...

Iya ya mam, aku juga bingung kya kwe mam

{ fauzi_mamfau } at: 25 Februari 2012 00.41 mengatakan...

ya lang, Pr e kita

Posting Komentar

Silahkan untuk memberikan komentar terhadap tulisan ini, demi tulisan yang lebih baik di lain hari.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers