Merbabu part I ---Koreknya mana?

Bagi beberapa orang, naik gunung merupakan hal yang menantang, menghibur dan mengasyikkan. Berangkat dari beberapa anggapan inilah, pada akhirnya aku mencoba untuk mencobanya bersama beberapa teman-temanku. Tidak tanggung-tanggung, gunung yang kami pilih untuk pendakian pertama kali adalah gunung Merbabu. Padahal ada satu gunung yang lebih dekat dari tempat kuliah kami yakni gunung Ungaran.
Persiapan yang kami lakukan terbilang cukup singkat. H-1 kami baru mulai melengkapi peralatan yang akan digunakan. Beberapa alat sudah ada, beberapa kami beli, dan sisanya tentu saja pinjam hehe.
Briefing sejenak usai belanja peralatan,  Si-Mu, yang sering naik gunung diatara kami, menyampaikan apa yang harus dibawa, aku dan gilang mencatat semua peralatan yang harus di persiapkan, termasuk di dalamya tertulis matras, korek, lilin, spirtus, kaleng, nesting, SB, tas carier, baju hangat, dll.
Malamnya, peralatan dibawa ke kosku dan pagi sekitar jam 6 kurang, kami berangkat dengan dua motor. Aku mbonceng  syaiful sedangkan simu dengan gilang. 
Baru 5 menit keluar dari kos, tiba di tikungan pertama, insiden kecil terjadi. Motor yang di setir sepul oleng dan akhirnya
GUBRAK...
motor kami terjatuh. Aku yang membawa tas carier pun pasrah dan ikut jatuh.hehe
Sayangnya, insiden ini tidak kami abadikan dalam bentuk foto.
Perjalanan pada akhirnya kami lanjutkan,, dan sampailah kami di jalur pendakian merbabu via kopeng.
Usai registrasi dan lapor diri, kami mulai mendaki.
Belum sampai di pos 1, nafas kami mulai tidak teratur alias ngos-ngosan, alhasil kami berhenti.
Ini dia rupa kami saatberhenti, beristirahat.
Meski cukup melelahkan, perjalanan terus kami lanjutkan. Semakin kami keatas, semakin terlihat kecil desa-desa di bawah, termasuk pos pemberangkatan. 
Inilah mungkin salah satu kenikmatan sekaligus refleksi bagi kita bahwa jika dari ketinggian tertentu saja kita melihat rumah dan saudara kita menjadi sangat kecil, bagaimana rupa kita jika dilihat dari tempat Allah swt??
Di pos ketiga, kami berhenti untuk memasak. Simu si ahli perapian mulai membuat kompor kecil dari kaleng susu.
Sementara ia sibuk, aku, syaiful dan gilang bergantian sholat. Saat kompor sudah siap tas mlai kami bongkar dan simu mencaricari korek api.
"Koreke ndi mam?"
"Ora ngarti, kayane aku ora nggawa. Lha jare pan tuku nang pasar salatiga? bisane ora mampir"
Simu kesal, diambilnya satu bungkus Indomie rebus dan diremuk lalu dimakan.
(Itu cerita kami, apa ceritamu?)
bersambung

1 komentar:

{ Gilang Kotaro } at: 18 Juli 2012 22.35 mengatakan...

haha... mi mentah pun jadi

Posting Komentar

Silahkan untuk memberikan komentar terhadap tulisan ini, demi tulisan yang lebih baik di lain hari.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers