Hujan is rain

Salah satu waktu menulis yang paling saya suka adalah ketika hujan.
Agak sendu memang (baca galoon eh galau maksudnya ) tapi kondisi demikian mendukung untuk terciptanya suatu ide untuk dituliskan. Dalam irama air yang jatuh mengenai genteng kamar kos, sesekali suara petir, dan yang paling aku suka adalah suara kodok yang bersahut-sahutan bernyanyi. Mungkin suara katak dan kodok saat itu adalah suatu bentuk rasa syukurnya, bagaimana tidak, dalam hujan yang diturunkan-Nya, bukankah banyak sekali nikmat yang tersimpan?
Memang, belakangan hujan menimbulkan beberapa bencana, terutama banjir.
Hampir setiap saat media menayangkan berita tentang banjir di beberapa daerah seperti Ibukota Jakarta dan daerah kudus. Media juga tidak luput meberitakan tentang bencana banjir bandang di daerah Manado serta tanah longsor di perumahan trangkil, yang hanya berjarak 5 menit dari kampusku (Unnes).
Aku jadi teringat akan apa yang disampaikan khotib dalam khotbah jumatnya kemarin. Suatu khotbah dengan tema yang up to date, yaitu banjir dan bencana.
Dalam khotbahnya, sang khotib mula-mula menyampaikan tentang kuasa manusia dengan sains dan teknoloi yang masih kalah jaauh dari kuasa Allah. Kemudian baru khotbah mengalir menuju inti pembicaraan mengenai hujan beberapa saat terakhir, banjir dan bencana lain di lingkungan sekitar.
Jika kita cemati, memang kita (baca manusia) lah yang salah. Kita bukanlah makhluk yang tidak memiliki akal, jadi pasti tahu resiko dari apa yang kita lakukan. Membuang sampah sembarangan (terutama ke salauran air), membangun vila di DAS, dan daerah yang seharusnya menjadi resapan air, semua itu merupakan beberapa penyebab terjadinya banjir.
Ironis memang, melihat orang-orang terutama yang berpendidikan di sekitar kita membuang sampah seenaknya saja. itu orang berpendidikan, jangan tanya deh mereka-mereka yang tidak berpendidikan.
Tentang khotbah yang disampaikan Jum'at lalu, khotib mengutip beberpa ayat tentang banjir yang ada di Al-quran, salah satunya ada di surat Saba ayat 16:


16. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar[1236] dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr[1237].
[1236]. Maksudnya: banjir besar yang disebabkan runtuhnya bendungan Ma'rib.

[1237]. Pohon Atsl ialah sejenis pohon cemara pohon Sidr ialah sejenis pohon bidara.

 Agaknya memang benar apa yang dikatakan pada ayat di atas. Kita sudah mulai atau bahkan sudah berpaling, baik dari aturan yang dibuat oleh pemerintah kita termasuk aturan membuang sampah dll, maupun aturan agama. Semoga saja kita bisa menjadi orang-orang yang bisa mengambil hikmah dari apa yang telah terjadi. Menjadi lebih baik memang tidak mudah, sama seperti ingin mendapat nilai baik dalam ujian, semua butuh proses dan proses itu dimulai dari kita sendiri dari sekarang :)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan untuk memberikan komentar terhadap tulisan ini, demi tulisan yang lebih baik di lain hari.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers