There can be no “teacher” without ‘pupils’ , no rebel without ‘establishment’.

Arti Peimpin

Pemimpin adalah orang pertama sekaligus orang terakhir dalam sebuah kelompok (Mukti 2013)

This is featured post 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Gunung Prahu

SEUMUR HIDUP KITA SEKALIPUN TIDAK AKAN CUKUP UNTUK MENGELILINGI INDONESIA. I LOVE INDONESIA.

DI ATAS BUKIT SANTRI, DI BAWAH LANGIT ILAHI

0 komentar

DI ATAS BUKIT SANTRI, DI BAWAH LANGIT ILAHI KEARIFAN SPIRITUAL PENGELOLAAN HUTAN SANTRI DI PESAN-TREND ILMU GIRI, DUSUN NOGOSARI, DESA SELOPAMIORO, KECAMATAN IMOGIRI, BANTUL
Oleh: Unggul Sudrajat


Hutan Rakyat adalah hutan yang tumbuh di atas lahan milik rakyat baik petani secara perorangan maupun bersama-sama. Salah satu model Hutan Rakyat tersebut adalah Hutan Santri. Hutan Santri adalah hutan yang pengelolaannya melibatkan masyarakat Dusun Nogosari dengan dimotori oleh Pesan-Trend Ilmu Giri, dengan luas area mencapai 160 ha yang  tersebar di Dusun Nogosari dan sebagian kecil tersebar di Dusun Nawungan dan Dusun Kedung Jati, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Berbeda dengan pengelolaan hutan kebanyakan yang lebih menekankan memperoleh keuntungan dan nilai yang sebesar-besarnya dari hutan, metode pengelolaan Hutan Santri lebih berlandaskan pada nilai-nilai   spiritualitas agama berdasarkan pada pemenuhan kebutuhan ekonomi (eco-religi) dan kearifan lokal masyarakat.

Pengantar

Hutan  menurut  Undang-Undang  Kehutanan  No.  41  Tahun1999 pasal 1 ayat 2 adalah suatu kesatuan ekosistem yang berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan (UU No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan). Menurut statusnya (sesuai dengan Undang-Undang kehutanan), hutan dibagi dalam dua kelompok besar yaitu; (1) Hutan Negara, hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah, dan (2) Hutan Hak adalah hutan yang dibebani hak atas tanah yang biasanya disebut sebagai Hutan Rakyat. Hutan Rakyat adalah hutan yang tumbuh di atas lahan milik rakyat baik petani secara perorangamaupun  bersama-sama.  Dalam  pengertian  yang  lain, Hutan Rakyat adalah hutan yang pengelolaannya dilaksanakan oleh organisasi masyarakat baik pada lahan individu, komunal (bersama), lahan adat, maupun lahan yang dikuasai negara (Awang,dkk; 2002, hlm. 26). Pengelolaan Hutan Rakyat pada awalnya adalah program pemerintah yang bertujuan sebagai upaya rehabilitasi lahan kritis atau tidak  produktif  yang kemudian  berkembang  menjadi  usaha perhutanan rakyat sebagai salah satu upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat,  antara  lain memperluas  kesempatan  kerja  dan peluang usaha, di samping sebagai penunjang pemenuhan kebutuhan bahan baku industri pengolahan kayu.
Hutan santri yang berada di Dusun Nogosari, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul termasuk  dalam kelompok Hutan Rakyat. Tanaman  yang  khusus  ditanam di Hutan Santri adalah pohon Jati Jawa. Seperti konsep dalam pembangunan dan pengelolaan Hutan Rakyat, Hutan Santri ini pun  memiliki  fungsi  seperti Hutan Rakyat pada umumnya, yaitu meliputi  fungsi  ekonomi, fungsi perlindungan dan fungsi keindahan. Namun, ada hal berbeda yang terdapat dalam Hutan Santri yang tidak ditemukan pada Hutan Rakyat kebanyakan. Metode pengelolaan Hutan Santri hampir sama dengan Hutan Rakyat, namun lebih berlandaskan pada nilai spiritualitas agama berdasarkan pada pemenuhan kebutuhan ekonomi dan kearifan lokal masyarakat.
Hal lain yang membedakan adalah tujuan pengelolaan hutan yang ingin dicapai. Tujuan pengelolaan hutan adalah untuk memperoleh keuntungan dan  nilai  ekonomis  yang  sebesar-besarnya dari hutan, sedangkan tujuan pengelolaan Hutan Santri adalah untuk melestarikan alam sesuai dengan amanah agama sekaligus memberdayakan penduduk dalam segi ekonomisnya. Hal ini ternyata mampu dilakukan bersama dan berkesinambungan dalam pengelolaan hutan dan lahan di Dusun Nogosari.

Basis pengelolaan maupun penyelamatan lingkungan yang dirintis di hutan santri adalah dengan berbasiskan pada nilai-nilai spiritualitas agama dan kearifan lokal penduduk di Dusun Nogosari, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Hal ini dilakukan karena dipandang sudah saatnya pengelolaan alam harus selaras dengan nilai agama dan kearifan lokal yang ada, sehingga ajaran agama tidak hanya menjadi dogma saja, namun dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Dengan pemahaman yang komprehensif kepada masyarakat terkait konsep ini,  diharapkan dapat tercapamodel  pengelolaan  hutadi Indonesia yang lebih baik kedepannya  agar  kelestarian hutan di Indonesia terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi penerus selanjutnya (Wawancara dengan H.M. Nasruddin Anshory22 Mei 2008 Pukul 17.40 WIB dNogosari, Selopamioro, Imogiri, Bantul).

Konsep Eco-Religi Pesan-Trend Ilmu Giri

Sejak dulu hingga saat ini jutaan masyarakat sekitar hutan menggantungkan hidup dan kehidupannya pada produksi dan jasa hutan. Masyarakat sekitar hutan dengan gaya hidup subsistennya semakin hari semakin terpinggirkan akibat adanya sebuah pergeseran pemahaman, yakni ketika hubungan antara hutan dan masyarakat  dilihat sebagai faktor ekonomi belaka. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk melakukan pengelolaan sumber daya hutan secara sentralistik, sehingga masyarakat sekitar hutan sangat sedikit bahkan sama sekali tidak mempunyai akses pada sumber daya hutan yang ada disekitarnya. Akibatnya, keadaan masyarakat sekitar hutan taraf hidupnya sangat memprihatinkan. Terbatasnya akses pada sumber daya hutan, terbatasnya kesuburan dan luas lahan yang dimiliki, tingkat pendidikan dan keterampilan yang relatif rendah yang diikuti dengan jumlah pendapatan yang rendah merupakan faktor-faktor penyebabnya (Sutaryono, 2008; hlm. 14).
Kondisi lingkungan yang tandus dan kering di Dusun Nogosari identik dengan kondisi masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kemiskinan tersebut melahirkan kebodohan dan keterbelakangan. Hal inilah yang kemudian menjadi titik tolak dari Pesan-Trend Ilmu Giri dalam mengembangkan dalam mengembangkan dan mengenalkan kepada penduduk pengelolaan dan pelestarian hutan yang baik. Misi pembangunan Hutan Santri adalah untuk menyelamatkan lingkungan dengan mengajak para warga (santri) untuk melakukan penanaman pohon dengan berbasis pada nilai spiritual agama. Selain itu, hal tersebut juga dalam rangka pelestarian tanaman hutan juga sebagai lahan multifungsi, yaitu fungsi ekonomi, perlindungan, keindahan dan religi. Sehingga pada akhirnya agama tidak hanya menjadi dogma saja tetapi, dapat diaplikaskan dalam kehidupan masyarakat melalui pengelolaan hutan dan pemberdayaan masyarakat setempat. Dengan pelestarian hutan menggunakan media tanaman produksi ekonomi, diharapkan warga masyarakat akan memperoleh kemakmuran dan kesejahteraan (Wawancara dengan H.M. Nasruddin Anshory, 22 Mei 2008 Pukul 17.40 WIB di Nogosari, Selopamioro, Imogiri, Bantul). 

San Afri Awang mengungkapkan bahwa, konsepsi ekosentrisme menempatkan manusia mempunyai kedudukan dan peran yang sama dengan lingkungan alam. Manusia merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari alam, man in environment (manusia adalahbagian dari alam dan manusia sangat tergantung pada alam). Konsep ini mempunyai pandangan yang ramah lingkungan dan ecological oriented di dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam, di mana asas sustainability menjadi sebuah keharusan. Hutan sebagai  sebuah  ekosistem mempunyai sumber daya di satu sisi dan masyarakat di sekitar hutan di sisi lain yang mempunyai jalinan ketergantungan yang tidak dapat dipisahkan (San Afri Awang, 1999; hlm. 4, dalam Sutaryono, 2008; hlm. 13).

 Konsep kesatuan antara manusia dengan alamnya juga terwujud dalam pandangan masyarakat Jawa bahwa ada keterkaitan antara manusia dengan alam. Inilah yang diinterpretasikan sebagai bagian dari pengetahuan mengenai kearifan lokal. Dalam hal ini,
Heddy Sri Ahimsa-Putra (2006) mendefinisikan kearifan lokal sebagai perangkat pengetahuan pada suatu komunitas -baik yang berasal dari generasi-generasi sebelumnya maupun dari pengalamannya berhubungan dengan lingkungan dan masyarakat lainnya- untuk menyelesaikan secara baik dan benar persoalan dan/atau kesulitan yang dihadapi, yang memiliki kekuatan seperti hukum maupun tidak. 

Tumbuh-tumbuhan dalam perspektif kearifan Jawa mempunyai makna filosofis penting yang menjadi pelajaran untuk masyarakat. Diungkapkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana X, dalam filosofi manusia “Hamemayu Hayuning Bawana” yang terbagi menjadi tiga landasan:
Hamengku Nagara 
Hamengku Bumi 
Hamengku Buwana 

Filosofi yang paling berkaitan dengan pelestarian lingkungan adalah Hamengku Bumi. Hamengku Bumi didefinisikan bahwa manusia wajib menjaga, merawat dan  engembangkan kelestarian lingkungan alam karena alam telah memberikan sumber kehidupan bagi manusia untuk bisa melanjutkan keturunan dari generasi ke generasi (Nasruddin Anshory, Soedarsono., 2008). Pemaknaan nilai filosofis tersebut misalnya juga terwujud pada nilai filosofis pohon Jati. Pohon Jati dimaknai sebagai simbol proses hidup manusia yang harus lurus tegak ke atas. Lurus dalam hal ini adalah jalan kehidupan manusia yang harus dijalani dengan benar tanpa menyalahi aturan yang telah ditetapkan Sang Pencipta. 
ditetapkan Sang Pencipta. 

 Aksi pelestarian hutan yang dilakukan oleh Pesan-Trend Ilmu Giri diwujudkan melalui kegiatan yang cenderung bersifat keagamaan seperti; TPA bagi anak-anak, pengajian,  dll. Selain itu, gagasan baru yang juga diberikan adalah melalui media pernikahan, khususnya pernikahan secara Islam. Dalam pernikahan, selalu diadakan mahar perkawinan sebagai salah satu syarat wajib dan sahnya sebuah pernikahan. Kepada warga masyarakat yang akan menikah, disarankan untuk menyediakan bibit pohon sebagai mahar pernikahan di samping mahar-mahar yang lainnya. Mahar berupa bibit pohon tersebut dijelaskan sebagai investasi masa depan bagi pasangan pengantin dan keturunannya. 

Selain dari sisi filosofi Jawa, juga dijelaskan mengenai peran pentingnya tumbuhan dari segi agama, khususnya agama Islam. Pohon merupakan makhluk yang paling dirahmati sejak diciptakan, karena pohon adalah makhluk yang paling bisa menerima tanpa meminta. Dia memberikan segala yang dimilikinya untuk memberikan manfaat kepada manusia, binatang, dan alam. Untuk mendukung penjelasannya tersebut, H.M. Nasruddin Anshory menggunakan dalildalil dari kitab suci Al-Qur’an dan Hadist sebagai pegangan orangorang
Islam.  Seperti ciptaan Allah yang lain, pohon merupakan makhluk yang tak henti-hentinya
Bersujud dan bertasbih padaNya.

Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan, keduanya tundukkepadaNya”. (Arrahman ayat 6).
Juga dijelaskan dalam hadist, Tidaklah seorang  muslim yang menanam pohon atau yang mananam  tanaman yang kemudian hasilnya dimakan burung, manusia atau binatang, melainkan hal itu bagi penanam itu menjadi sedekah (HR. Bukhori) 




Baca kelanjutannya di buku kearifan lokal Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Silahkan download di tautan langsung berikut ini.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers