D(a)N(u)

Imaji malam hari

Sebuah permintaan tulisan dari seorang adik angkatan

**
#
Gerhana bulan. Bumi menghalangi cahaya matahari yang mengarah ke bulan. Alhasil, bulan yang semula terang terlihat sedikit gelap. Peristiwa yang tidak setiap hari dapat aku saksikan dari jendela kamar rumahku ini. Banyak legenda dan kepercayaan yang mengiringi peristiwa ini. Di beberapa tempat, ibu-ibu hamil ribut menabuh apa saja untuk mengusir roh jahat agar tidak mengganggu janin yang dikandungnya. Di tempat lain, puluhan bahkan ratusan orang berkumpul, berdoa bersama, memohon pada Tuhan agar diberi keselamatan. Aku lebih memilih untuk menikmati peristiwa ini tanpa melakukan apa-apa. Aku hanya keluar kamar, menuju teras yang ada dan duduk di sana menatap langit.
Cahaya bulan perlahan kembali normal. Terang. Hari ini tanggal 15 dalam kalender Jawa. Bulan tengah purnama. Aku memandangi bulatan penuh bulan yang menawan. Ah, andai ia dapat berbicara ingin rasanya aku berbincang-bincang dengannya. Menceritakan apa-apa yang tengah aku rasakan saat ini.
**
“Jadi bagaimana dok?”, tanya Ibuku pada dokter dihadapan kami.
“Sepertinya anak Anda tidak mengalami masalah berarti Bu. Mungkin sakit perutnya dikarenakan dia memakan makanan yang kurang sehat,” jawab sang Dokter.
Ibuku terlihat sedikit lega mendengar jawaban Dokter. Di elus-elusnya kepalaku dengan lembut.
“Sabar ya nak,”begitu bisiknya ditelingaku.
Aku hanya mengangguk lemah. Tangan kananku seperti tidak mau lepas memegangi perutku yang masih saja sakit. Sesekali keringat dingin di dahi aku usap dengan tangan kiriku.
“Baik Bu. Ini resep untuk anak Ibu. Semoga dia cepat sembuh,” ucap dokter menutup pembicaraan.
“Terimakasih dok. Permisi,” Ibu pamit.
Aku dan Ibu pulang. Di tengah perjalanan aku perhatikan wajah Ibu dengan seksama. Dia tetap cantik meski tanpa riasan mahal. Mungkin perawatan tradisional nenek yang diturunkan pada Ibu menyumbang peran besar pada kecantikan Ibu. Aku sesekali melihat Ibu meracik sendiri lulur wajah dengan bahan-bahan sederhana di halaman belakang rumah. Kakakku- Devi, sesekali ikut-ikutan memakai lulur wajah Ibu. Aku ? Tentu saja tidak. Aku anak laki-laki. Mana mungkin aku seperti ibu dan kakak?
**
Kringg...
Bunyi Hp dari dalam kamar membuyarkan lamunanku. Sedikit kesal, aku melangkah masuk kembali ke dalam kamar. Hp ku kembali berbunyi. Dua pesan lain secara berurutan masuk. Pesan pertama dari layanan operator. Pesan kedua sama saja. Hanya pesan ketiga yang menyita perhatianku.
Vi, tolong bawakan Pakaian Ibu dan danu ke  RSUD Pemalang.
Pesan singkat dari Ayahku itu membuatku bertanya , Ibu dan danu di rumah sakit ? Apa yang terjadi dengan mereka ? Mengapa semenjak sore tadi tidak ada orang di rumah selain Bi Inah?
Ada apa  Yah? Siapa yang sakit dan sakit apa?
Sembari menunggu sms balasan, aku bergegas menyiapkan pakaian Ibu dan adikku.
Beruntung, Bi Inah dengan sigap membantuku menyiapkan semua. Masing-masing ada tiga stel pakaian milik Ibu dan danu yang kami masukkan ke dalam tas.
Bi Inah, seperti biasa, tidak terlalu banyak bicara. Tapi aku sangat yakin beliau tahu ada sesuatu yang tengah terjadi.
“Bi, tolong jaga rumah yah?”, ucapku.
Bi Inah hanya mengangguk dengan mantap.
Aku bergegas berangkat. Sepeda motor kunyalakan. Malam minggu, jalanan yang aku lalui cukup ramai dengan sepeda motor dari pasangan muda-mudi yang ingin menghabiskan malam ini dengan berjalan-jalan dengan pasangannya. Seharusnya, aku masih bisa seperti mereka jika malam Jumat kemarin, Andi tidak memutuskanku. Sial, kenapa aku memikirkan kelakuan mereka? Apa aku iri ? Entahlah. Ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan itu semua. Sepeda motorku bertambah laju. “Aku harus segera sampai,”pikirku.
**
Mengapa aku merasa semakin dingin? Mengapa aku merasa semakin banyak cairan yang jatuh dari dahiku ? Mengapa pandanganku semakin kabur ? Aku ingin berbicara, tapi susah.
“Bu..,”akhirnya aku berhasil mengeluarkan suara.
“Ya Dan,” Jawab Ibuku. Beliau menoleh kepadaku.
“Dan,, kamu kenapa? Kamu pucat sekali,” Ibuku Panik.
“Yah, kita langsung ke rumah sakit saja. Danu semakin kurang baik kondisinya,”.
“Ok”, jawab ayahku.
Kami bergegas ke rumah sakit. Saat kami tiba, Ayah dengan sigap mengangkatku dan meminta suster membawakan ranjang dorong. Ibu terlihat sangat cemas. Jujur saja, aku merasa takut. Apa yang akan terjadi nanti ?
**
Aku tiba di rumah sakit. Segera aku menelpon Ayah, menanyakan posisinya. Aku segera masuk dan mencari Ayah. Tidak terlalu lama untuk menemukannya.
“Kenapa Yah?”, tanyaku singkat.
“Danu harus di operasi. Dia mengalami gangguan akut di bagian usus buntu,” jawab Ayah.
“Lalu Ibu?”
“Ibu terlalu kaget, dia pingsan saat mendengar dokter harus mengoperasi Danu.”
“Lalu?”
“Ibu masih belum sadar sampai sekarang. Dia ada di ruang UGD. Danu ada di situ,” ucap Ayah sambil menunjuk ruang operasi di depan kami.
Tanpa terasa, mataku berkaca-kaca. Ibarat bendungan yang jebol, air mataku dengan segera tumpah. Membayangkan dokter dan suster yang tengah melakukan pembedahan. Membayangkan tangan mereka penuh dengan darah. Mebayangkan adik kecilku terbaring lemah tak berdaya, berbalut baju hijau, berselang oksigen. Membayangkan dia masih harus puasa setelah operasi berlangsung. Kasihan dia.
Ibu? Bagaimana dengan Ibu ? Apakah Ibu baik-baik saja ?
Aku ingin segera berlari menuju bangsal tempat Ibu berada. Aku melepaskan diri dari pelukan Ayah. Aku mencoba berjalan. Hey..kenapa semua gelap?
Ayah? Ibu? Danu?

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan untuk memberikan komentar terhadap tulisan ini, demi tulisan yang lebih baik di lain hari.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers