Partus

Partus
Dia membanting dirinya dikursi itu. Keringat dari dahinya cukup jelas untuk menandakan bahwa dia tengah kelelahan. Napasnya terengah tertutup masker hijau. Tangannya yang mungil dengan segera membuka masker itu. Fuuh. Udara segar dengan segera dinikmatinya. Beruntunglah dia. Kipas angin yang telah lama rusak telah digantikan dengan AC oleh petugas pusat. Dia bergerak dengan posisi masih duduk dikursi. Diambilnya buku catatan dan menuliskan sesuatu dalam daftar panjang.
Partus kedua. Dia tidak menyangka jika hari itu, di jam jaga malamnya ia akan menemui dua kejadian partus sekaligus. Partus kedua itu hanya berselang setengah jam dari partus pertama. Partus yang berlangsung cukup lama dari proses biasanya. Calon ibu yang datang dengan tiba-tiba, sempat mengalami pingsan sebelum proses partus selesai. Karuan saja, dia dan beberapa rekan kerja yang sama-sama berjaga malam, sempat panik. Untung kondisi itu tidak sampai menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan. Kedua pihak,ibu dan anak selamat.
Dia meneguk air putih. Mencoba mencari ketenangan seusai mengalami ketegangan tadi. Jika dipikir-pikir, sebenarnya hari itu dia sangat kelelahan. Sebelum berangkat kerja di puskemas ini, dia harus mengantar dan mengurus Ibunya yang akan dirawat di RSUD. Otomatis, hari itu juga, dia harus mengambil alih tugas Ibu mengurus rumah, seperti mencuci, menyapu, mengepel dan memasak. Belum lagi, kedatangan kakak dan keponakan-keponakan untuk menjenguk Ibu, membuat rumah yang sudah ia rapikan berantakan lagi. Dia maklum saja, mereka masih anak-anak, masih usia bermain.
Dia melirik ke jam tangan berbentuk doraemon di tangannya. Jarum di jam itu menunjukkan pukul  dua dini hari. Di waktu ini, seharusnya dia tengah tidur di kamarnya. Tapi, tak apalah, bukankah ini memang bagian dari tuntutan pekerjaannya sebagai bidan ? Tentu dia ingat dengan sumpah jabatan yang ia ucapkan dulu.
“Capek Bu?”, tegur Santi.
“Lumayan San,” Jawabnya sambil tersenyum, menampakkan deretan gigi putih bersih.
“Mau saya buatkan teh, kopi atau coklat hangat Bu?, tawar santi
“Teh hangat saja ya San. Terimakasih,” jawabnya
“Ok”
Santi adalah mahasiswa akper yang tengah melakukan praktek magang di Puskesmas itu. Hidungnya mancung dan bertubuh tinggi menandakan bahwa gen timur tengah dari keluarga Ibunya turun dengan baik pada Santi. Bersama dengan tiga temannya, secara bergantian dia berjaga di puskesmas. Kebetulan kali ini giiliran dia untuk berjaga malam, menemani Bidan desa yang juga secara bergiliran berjaga.

“Dorong bu..Ayo dorong lagi...terus bu..teruss...kepalanya sudah mulai terlihat...dorong Bu”
“emmmhhh...hah hah hah... embhhh,” wanita yang sebentar lagi menjadi seorang Ibu itu terus berusaha mendorong calon bayinya keluar sesuai instruksi yang diberikan.
“Terus bu...terus....sebentar lagi Bu...sedikit lagi...”, kembali sang Bidan memberikan arahan.
Si suami tidak kalah menyemangati, “Ayo sayang, kamu pasti bisa, ayo... demi anak kita, kamu harus bisa”.
“Bu...Ibu...”, tiba-tiba si Suami berteriak panik.
“Bu bidan...”, teriaknya masih panik sembari memberi kode agar Bidan segera melihat ke arah yang dia maksud. Ibu bidan tanpa menunggu lama melihat ke sana.
Calon Ibu yang berbaring di hadapan bidan itu tiba-tiba saja lemas tak bergerak. Dorongan yang semula ia berikan mendadak berhenti. Suster jaga yang membantu proses partus itu dengan sigap memberikan stetoskop pada sang bidan. Dia segera mengecek kondisi calon Ibu di depannya. Belum ada tanda-tanda kehidupan yang berhasil di dapatkan.
“Suster, kita harus selesaikan dulu kelahiran ini. Cepat nyalakan alat hisap,”perintah sang bidan.
Kembali suster dengan tanggap mengikuti perintah yang diberikan si Bidan. Alat penghisap dinyalakan, dan tidak berapa lama kemudian sang bayi selamat dilahirkan. Berlomba dengan waktu, suster segera mengambil alih penangan bayi setelah bayi itu menangis, sementara Bidan itu kembali menangani Ibu baru dihadapannya. Stetoskop dengan segera ia gunakan untuk memeriksa denyut nadi Ibu baru itu. Syukurlah, kali ini, dia berani menyimpulkan bahwa pasiennya hanya pingsan.*
“Bu...Ibu...Bu....”
“Bu...bangun bu...”
“mm...”
“Ini teh hangatnya Bu”
“Oh iya San, terima kasih”
“Ibu tidak apa-apa?”, tanya Santi.
“Aku baik-baik saja San,” jawabku.
Ah, rupanya aku tadi tertidur sebentar dan bermimpi. Mimpi akan proses partus yang baru saja selesai. Baik partus pertama maupun partus kedua, suami dari istri yang akan melakukan persalinan datang menemani. Hemm, beruntungnya mereka. Setidaknya, akupun berharap,kelak, saat aku menikah, kemudian hendak melakukan persalinan, suamiku menjadi suami yang siaga-siap antar jaga, dan menjadi laki-laki pertama yang dilihat oleh anakku kelak serta mengadzaninya.
Sayangnya, terkadang proses persalinan dilakukan oleh seorang wanita tanpa suami. Bahkan lebih parah lagi, terkadang si wanita mengandung tanpa seorang suami. Jika orang-orang sekarang menyebutnya dengan istilah MBA- maried by accident. Setahuku, aku belum pernah menangani pasien seperti ini. Jika aku sampai tahu bahwa wanita yang tengah partus adalah salah satu korban MBA dan tidak bersuami. Apa yang akan aku lakukan?
Aku menyeruput teh manis buatan Santi. Hangat dan manisnya pas sekali dengan yang aku inginkan. Ah. Aku jadi teringat Ibu. Ibu sering kali bandel untuk tidak meminum dan memakan makanan manis. Padahal, beliau punya kadar gula yang cukup tinggi. Setiap kali aku marah karena mengingatkan, Ibu pasti berkata maaf dan memintaku agar tak usah terlalu galak dengannya.

Apa kabar Ibu sekarang ya? 

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan untuk memberikan komentar terhadap tulisan ini, demi tulisan yang lebih baik di lain hari.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers