Nasib duhur dan ashar

Malu. Malu sejadi jadinya saat melihat bangunan itu. Bangunan yang ada dan berjarak hanya sekitar empat rumah dari ku. Bangunan itu biasa aku sebut langgar. Pun orang-orang di sekitar rumahku menyebutnya demikian.
Jika langgar/musola dan masjid masjid lain adzan dan iqomah penuh 5x dalam sehari, maka tidak demikian dengan langgar di samping rumahku itu.
Seringkali (dan memang lebih seringnya) langgar itu hanya adzan sejumlah orang minum obat, 3x sehari. Subuh, magrib, dan isya.
Lalu kemanakah dhuhur dan ashar? Kenapa hak mereka tidak terpenuhi?
Saat waktu dhuhur, warga di sekitar rumahku, yang ada di tengah komplek pasar, masih sibuk dengan jualannya. Masih sibuk melayani pembeli atau paling cepat, tengah menutup jualan mereka.
Lalu ashar? Ashar kebanyakan dari kami masih berkutat dengan lahan garapan. Baik itu lahan pertanian maupun pekarangan.
Bukan, bukan berarti lingkungan ku tidak melaksanakan sholat. Aku percaya semua tetap melakukan sholat walaupun di rumah masing- masing.
Hanya saja, malu itu kian menumpuk kawan.
Selama aku tumbuh dan besar di sini adzan duhur dan ashar masih jarang terdengar.
Iya,kadng2 aku adzan.
Iya, ga setiap hari memang.
Itulah, kenapa aku malu. Sebagai orang yg tau sedikit ttg agama, aku hanya sesekali adzan d sana. Itu pun hanya bisa mengundang segelintir orang untuk datang dan sholat berjamaah.
Ah, apa aku terlalu berkhayal?
Bahwa adzan dhuhur dan ashar akan bisa rutin terdenngar?

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan untuk memberikan komentar terhadap tulisan ini, demi tulisan yang lebih baik di lain hari.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers