Mati lampu

Sejak bada maghrib tadi, kawasan unnes dan sekitarnya mengalami mati listrik. Beberapa sumber mengatakan bahwa peyebab gangguan adalah kerusakan komponen pada salah satu jaringan di gardu Ungaran. Praktis tidak hanya kawasan unnes saja yang mengalami pemutusan aliran listrik sementara melainkan hal serupa juga terjadi di beberapa kota seperti kudus, magelang, jogja dan beberpa kota di daerah pantura.
Saat mati lampu tadi, banyak orang yang mencari-cari lilin dan korek. Lilin dan warung mendadak mengalami kenaikan permintaan dua barang tadi. Ada pula beberapa orang yang cuek saja dengan keadaan gelap. Diantara yang cuek itu, malah megambil gitar dan memainkan beberaapa buah lagu. Tentu saja mereka tidak usah mengeluarkan suara terlalu keras, karena suara mereka menggema. maklum, TV, radio, mp3 yang biasa memutar musik dan suara lain mati karena tidak ada listrik.
Aku sendiri lebih memilih merebahkan diri di kasur. Menerawang dalam gelap sambil berharap hujan turun dengan segera. Bukan apa-apa, menurutku, mati lampu lalu ditambah hujan deras itu sesuatu yang sangat nikmat. Biasanya saat seperti itu, aku berkumpu bersama keluarga di ruang tengah/tamu di rumahku. Sembari bercengkrama, kami tetap melakukan aktivitas menyiapkan bungkusan sembako yang akan dijual keesokan harinya. Tentu saja tidak dalam kondisi sepenuhnya gelap, melainkan diterangi oleh lilin ataupun ceplik.
Mati lampu juga mengingatkanku pada beliau, nenekku. Aku sempat menuliskan beliau tempo hari.
Beliau, yang biasa aku panggil Made (akronim dari Mama Gede atau nenek) memiliki nama lengkap Kaswiyah. Setiap aku pulang, beliaulah yang seringkali ribut mencariku, lalu menanyai bagaimana kuliahku, apakah sudah ujian, kapan lulus, kapankah aku akan berangkat kembali, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Pertanyaan yang sebenarnya normal, namun karena diulang-ulang kadang bosen juga x-x. Mungkin itu memang tanda sayang beliau pada cucunya, aku.
Made merupakan salah satu wanita inspiratif menurut versiku. Meskipun beliau tuna netra, beliau juga memiliki beberapa prestasi yang membanggkan. Satu diantara prestasi itu adalah penghafal alquran terbaik diantara penyandang tunanetra di kabupaten Brebes. Aku pernah melihat sertifikat itu, meskipun sayang sekali sekarang sudah termakan rayap. Kata uwak dan mama, dahulu made masih bisa melihat, namun karena suatu hal lambat laun penglihatannya mengalami kemunduran dan menjadi seperti sekarang ini.
Gelap pada akhirnya mengundang kantuk. mata perlahan menjadi semakin berat, dan kau tahu kan apa yang terjadi selanjutnya?
Huahmmm....bantal dan kasur memanggil untuk ditemani.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan untuk memberikan komentar terhadap tulisan ini, demi tulisan yang lebih baik di lain hari.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers