Rezeki

Sudah lebih dari 4 tahun, usai melepas masa-masa putih abu itu.

Begitulah, waktu cepat sekali berlalu.
Jika boleh mengutip perkataan seorang kawan
"Dont waste your time 
or
Time will waste u" (Sakti, 2010).
Bukan waktu yang singkat jika kita tunggu namun begitu cepat ia berlalu, tanpa disadari, tentu saja.
Malam kemarin, alkhamdulillah ada sedikit rezeki dari ibu dosen. Ya, aku selalu percaya bahwa ini merupakan hasil dari doa abah dan mama di rumah. Aku dapat kabar, mereka berpuasa selama dua hari untuk mama dan tiga hari untuk abah. Mereka bilang, sengaja untk mendoakanku sebelum hari H itu. Masya Allah, maafkan dosa-dosa mereka ya Allah, dan maafkan anakmu ini Ma, Bah, yang bahkan sampai saat ini belum bisa memeberikan apa-apa kepada engkau berdua.
Ya, kembali lagi kepada rezeki yang aku terima dari Bu dosen. Aku juga percaya bahwa ini merupakan salah satu hasil doa dari kalian sobat. Ya, khusnodzon saja, karena tidak tahu memang benar demikian atau tidak hehe.
Kebetulan juga, sesudah sidang kemarin (28/1/15), aku berniat untuk donor darah, namun apa pasal, aku malah di tolak karena tekanan darah yang cukup rendah, 90/60. Pantas saja beberapa hari belakangan aku merasakan pusing. Saran dari orangtua aku diminta untuk makan dengan lauk sate kambing. Saat itu, kebetulan juga aku pas kehabisan uang. Aku sudah berusaha untuk tidak mengutak-atik uang di rekening abah. Tapi apa daya, itu hanya bertahan beberapa minggu saja, uang di tabunganku sendiri hanya bersisa 20 ribu,hmmm miris. Sebenarnya ada uangku yang dipinjamkan ke beberapa teman, jika ditotal mungkin sekitar 330k. Tapi, apa boleh buat, aku menagih juga mereka masih belum punya, mau memaksa juga tidak enak. Aku ingat bahwa pernah dengar jika menagih hutang pada saudara muslim jangan terlalu ngotot atau istilah jawanya nyusu-nyusu, ya sudah, berdoa saja mereka banyak rezeki dan segera melunasi hutang mereka. Amin.
Aku lalu menarik uang di ATM, 100 ribu.
Sore harinya, rezeki itupun datang. Alkhamdulillah, dapat uang lelah dari bu dosen. 
Hmm kalau tahu bakal dapat rezeki, aku mungkin ga bakal narik uang dari rekening babeh.
Karena dapat rezeki itulah, aku lalu memutuskan untuk makan sate kambing sesuai saran orangtua. Alkhamdulillah juga, ada teman dekat yang mau menemani, dan dia juga senang karena dapat cipratan hehe.

Keesokan harinya di sidang jum'at, kembali rezeki datang lagi.
Kali ini, berupa khotbah dengan salah satu khotib favorit, Pak Zaim, begitu beliau biasa disapa.
Pak Zaim mengangkat tema tentang rezeki dan kemiskinan.
Ya, kata beliau, Allah tidak pernah menciptakan kemiskinan. Allah hanya menciptakan kaya dan kecukupan, bukan kaya dan kemiskinan. Ini bisa kita lihat pada surat An Najm ayat 48 yang artinya :

"dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan,"

Jika kita coba lihat ayat t sebelumnya, Allah menyandingkan dua hal yang berkebalikan, misalnya tertawa dan menangis, pria dan wanita dan yang lainnya. (coba dibuka ya).

Ya, adapun kemiskinan itu ada bukan sebagai ciptaan melainkan ada bisa dalam rangka ujian, ataupun karena kesalahan kita sendiri yang mis dalam mengatur segala sesuatu, atau bisa juga karena kita banyak maksiat atau hal-hal lain. Jadi akan sangat salah kalau kita membunuh anak-anak kita (kelak, karena aku juga belum nikah) dengan alasan takut miskin, Naudzubillah. Insya Allah, makhlukyang Allah ciptakan ada rezkinya masing-masing, paling tidak, rezeki yang dimiliki dalam taraf cukup dengan kata lain kebutuhan-kebutuhan pokoknya terjamin.

Dan Alkhamdulillah, bahwa kebetulan selanjutnya adalah saat mendengarkan isi khotbah jumat dari yutub oleh ustad Bachtiar Natsir yang membahas rekening utsman. Inti dari khotbah beliau adalah bahwa kita harus berusaha, semaksimal mungkin, sesukses mungkin, agar lebih banyak harta kita yang bisa kita infaqkan di jalan-Nya. Dan berinfaq sodaqoh tentu saja tidak mengurangi harta yang kita miliki, melainkan sebaliknya, terus bertambah seiring berkah yang ada. Bukti yang nyata adalah rekening utsman bin Affan RA, yang sudah wafat beberapa abad yang lalu namun harta kekayaan dan aset yang tersimpan terus bertambah tanpa berkurang. 

Nah, jadi bisa dikatakan pula, kalau kita menikah muda lalu menjumpai keluarga yang kita bentuk berada pada garis kemiskinan, kita jangan lantas menyalahkan Allah dan Rasul-Nya.
"Loh, aku kan menuruti anjuran rosul, untuk menikah dan menggenapi separuh agama Nya. Tapi ko aku mlah kismin, eh miskin maksudnya."
Ya semoga jangan sampai seperti itu. Ingat, kemiskinan itu ada bisa sebagai ujian, mungkin Allah memang ingin melihat sejauh mana usaha kita dan pasangan kita mempertahankan rumah tangga, atau mungkin seperti yang tertulis di atas, bisa jadi karena kita mis management dan banyak maksiat.
Namun baiknya memang, jangan asal main nikah gitu aja deh, kasihan juga kan pasangan kita. Sebelum nikah, sebaiknya kita khatamin dulu baca kitab-kitab kajian fiqih nikah macam Tuhfatul Arus, lalu buku parenting, buku tentang survival di tiga tahun pertama pernikahan karena katanya di tahun-tahun ini memang rawan perceraian, lalu baca juga buku tentang bagaimana jadi Ayah/ibu yang baik, cara mencari nafkah yang khalal dan toyyib dan beberapa kitab pendukung pembinaan keluarga menuju sakinah mawadah warohmah hehe. Jangan lupa juga sebelum menikah kita siap-siap tabungan. Ga harus banyak sih, yang penting cukup. Cukup buat beli rumah, cukup buat beli mobil dan motor, cukup...eh..eh..ga gitu maksudnya. Maksudnya, cukup untuk dijadikan modal mengawali pembinaan rumah tangga. Mungkin tabungannya bisa dijadiin modal bisnis atau kalau memungkinkan ya langsung buat beli-beli barang primer.
  
Wallahualam
#semoga menjadi refleksi
#tulisanngglambyar


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan untuk memberikan komentar terhadap tulisan ini, demi tulisan yang lebih baik di lain hari.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers