Sidang Sega Lengko

"Kamu tahu sega lengko mam?
Bayangkan ibu kamu membuat sega lengko. Apa yang kamu pikirkan supaya sega (red: nasi) yang ibumu buat itu disebut dengan sega lengko?"

Apa yang kamu fikirkan jika aku, yang kuliah di jurusan biologi ini, ditanya seperti itu saat sidang skripsi?
Aku kira kamu akan (dan wajib) heran dengan pertanyaan itu. Aku sama sekali ga kepikiran bahwa dosen penguji keduaku Dr. Saiful Ridlo M.Si yang mengujiku mengeluarkan pertanyaan itu.
Pun, sama kagetnya denganku, kedua dosen yang lain yakni dosen penguji utama dan dosen pembimbingku bingung. Lebih bingung karena mereka sama sekali tidak tahu apa itu sega lengko.
Semua berawal dari hari rabu kemarin.
Aku yang terbangun sejak sebelum subuh karena adik kos yang ribut banget karena nonton bola, dan ternyata chelsea main dan aku lupa , aduh! Untungnya sempat nonton di menit2 terakhir, ga papa deh, lumayan.
Tentu sebelum acara tv selesai aku sudah sholat subuh, dan bergegas mandi dan berpakaian rapih hitam putih. Ya, hari ini aku akan ujian. Akhirnya...
Tapi aku juga bingung dan heran, hari ini aku akan ujian tapi malah aku merasa biasa-biasa saja. Greget yang aku dapat pas akan ujian seminar itu ko ga nampak ya? hm.. mungkin aku kurang menghayati keadaan.
Ok, dan jam 7 aku berangkat ke kampus, langsung menuju ruang yang sudah aku pesan.
Ternyata ruang yang aku pesan sudah di persiapkan oleh dosen (entah dari jurusan apa) untuk seminar dosen-dosen. Hmmm padahal kemarin sudah fiks kalau ruangannya kosong dan ga ada acara. Ya, mahasiswa bung, kita harus menghormati dosen kan?
Alhasil, dengan jam tangan yang menunjukkan waktu di angka 7 lebih 15 menit, aku turun lagi ke lantai 1 dan mencari ruang kosong di gedung D1 lantai 1. Aku langsung menemui pak satpam untuk meminjam kunci dan ternyata kunci ga ada. Allah...
Aku pun lansung ke gedung D1 lagi mencari ibu-ibu cleaning service. Alkhamdulillah ketemu dan bisa membukakan pintunya. Tas bawaan yang berat dan jinjingan di tangan akhirnya bisa di taruh di bawah setelah lari-lari mencari ibu cleaning tadi. Fyuuh..
Dan terbukalah ruang D1 105. Alngsung aku dan satu temanku yang kebetulan datang ke kampus pagi-pagi, erin, menata kursi untuk ibu dan bapak dosen. Aku lalu menyalakan LCD. Wor gw, Lcd proyektor ga mau nyala, dan ini sudah jam setengah 8. Pertolonganpun daang lagi, dua temaku yang lain ian dan okta datang dan mereka membantuku dengan mencari ibu klining. Ruang ujian pun dipindah lagi. Hmm aku sudah terlanjur sms ke tiga dosen.
Dan memang, saat kamu merasa khawatir, cemas dan takut, waktu akan semakin cepat terasa berlalu.
Jam 8.
Ujian dimulai...15 menit awal aku presentasi di hadapan tiga dosen, cukup grogi dan berkeringat karena ruangan juga cukup panas. Hmm tidak terlalu didengarkan (sepertinya) atau aku yang suudzon (astaghfirullah).
Pertanyaanpun akhirnya keluar dari dosen penguji utama.
Ok, bisa ditarik kesimpulan aku bisa menjawabnya.
Kini pertanyaan dari dosen penguji kedua.
Mengalir dengan baik perbaikan dari beliau hingga tiba-tiba aliran itu lambat laun menjadi riak dan berubah menjadi jeram.
Pertanyaan-pertanyaan beliau sukses membuatku menjadi semacam anak yang kepergok pipis sembarangan, senum-senyum tidak karuan. Ditambah pas banget dengan migrain yang saat itu kumat, menjadi sesuatu yang sangat nikmat.
Melihat aku sedikit kepayahan menjawab pertanyaan beliau, beliau lalu memberikan suatu analogi (Yang sengaja dipilih beliau supaya hanya aku dan beliau (yang sama-sama orang Brebes) yang tahu (dan itu
 sukses besar)).

"Kamu tahu sega lengko mam?
Bayangkan ibu kamu membuat sega lengko. Apa yang kamu pikirkan supaya sega (red: nasi) yang ibumu buat itu disebut dengan sega lengko?"

Aku berfikir dan kemudian menjawab. 
"Harus punya sepsifikasi khusus pak. Dari bahan yang digunakan serta penyajiannya semua khusus. Misal nasinya harus diletakkan di urutan keberapa dan yang lainnya"
"Nah kalau timunnya diiris bulat-bulat apa masih disebut sega lengko?"
"Tidak pak"
"harusnya ngiris timun ya seperti apa?"
"di cacag-cacag pak" (sambil memberikan simulasi)
"lalu kalau tempenya di iris utuh kotakan?"
"tidak pak"
dan berlanjut sampai dengan pertanyaan tentang tahu dan kecap serta beberapa bahan sega lengko yang lain.
Dalam hati aku sedikit mengingkari jawabanku sendiri. Nun di daam hati, menurutku, kalau pas lapar ya tetap dimakan wlaupun penyajian nya agak ga karuan. Hehe

"Jadi seperti itu mam seharusnya spesifikasi produk itu"
"Sedetail itu ya pak?" tanyaku
"iya"
dan beliau kembali memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bikin ikmat kepala menjadi berlipat.
Ekspresiku tentu saja tidak bisa disembunyikan, beliau lalu memberikan pernyataan sembari menunggu aku menjawab.

"Mam, bapak itu sayang sama kamu. Bapak tahu kalau imam itu cerdas. Eman-eman (red :sayang) kalau tidak ditanya sekalian yang dalam dan berat."

Cess. Mateng banget dah pernyataannya. Nambah ga bisa konsen njawab. Perasaan aku biasa saja jadi mahsiswa. IPK ya standar, aktif organisasi ya biasa, ko bapak menilaiku demikian ya? entahlah. --a

Dan aku menjawab pertanyaan beliau pada akhirnya, meski tetap ada perbaikan jwaban dari beliau.
Aku kembali ditanya pertanyaan unik.
"Mam, jan-jane kalau saya menguji seperti ini, kamu takut ngga?
"hmmm..."(berfikir redaksi yang baik)
"ngga sih pak.biasa saja pak"
"Soalnya saya kalau nguji ya seperti ini, tegas, dan ada yang sampai bilang ke saya ..woless pak woless"
"hmm kalau saya biasa aja pak"
Dan akhirnya giliran beliau bertanya disudahi.
Koreksi dlanjutkan oleh dosen pembimbing.
"Imam, entah imam tergesa-gesa atau gimana yah saya juga kurang tahu. Ada beberapa hal yang saudara lewatkan....ini ini ini (sambil menujukkan halaman dan slide yang terpampang)"
sebenarnya itu memang beberapa hal yang ingin saya ralat Bu (ujarku dalam hati).
Ya sudahlah... pertanyaan beliau berlanjut hingga pada akhirnya beliau menapakkan keheranan dengan menyebut namaku dua kali dengan nada sunda khas nya.
"Imam....imam...saudara itu"
Well finally
"Bagaimana Pak, diluluskan atau tidak?" tanya dosbingku pada peguji utama
"lulus"
"pak?" tanya bu dosbing pada penguji kedua.
"lulus."
"Baik, imam. Saudara kami luluskan. Selamat. Tapi sepertinya untuk ikut wisuda bulan februari ini masih belum bisa. Alangkah baiknya saudara selesaikan dulu ini semua, diperbaiki. Cepat-cepat boleh, tapi lebih baik dibenerin dulu. Yang penting sebelum semester 10 saudara harus sudah lulus biar ga bayar uang kuliah lagi"
cesszz...ademnya denger pernyataan itu. Walaupun harus diakui ada sedikit kekecewaan karena nanggung banget ga bisa ikut wisuda februari. hmm
Alkhamdulillah

#teriring maaf untuk mama dan abah di rumah maaf masih temengecewakan.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan untuk memberikan komentar terhadap tulisan ini, demi tulisan yang lebih baik di lain hari.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers