There can be no “teacher” without ‘pupils’ , no rebel without ‘establishment’.

Arti Peimpin

Pemimpin adalah orang pertama sekaligus orang terakhir dalam sebuah kelompok (Mukti 2013)

This is featured post 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Gunung Prahu

SEUMUR HIDUP KITA SEKALIPUN TIDAK AKAN CUKUP UNTUK MENGELILINGI INDONESIA. I LOVE INDONESIA.

Lembar-lembar Sedekah

0 komentar




Entah mulai kapan pastinya, saya sendiri kurang begitu tahu pasti. Sebuah folder, dengan nama folder “Menuju Sukses” secara maraton berpindah dari satu mahasiswa ke mahasiswa lain di jurusan Biologi Unnes. Dilihat dari nama folder itu, seharusnya kita sudah bisa menebak bahwa isi dari folder itu bukanlah sesuatu yang negatif. Apalagi karena folder itu dikopi oleh banyak mahasiswa baik laki-laki maupun perempuan, tentu bukan hal negative bukan?
Saya sendiri, mendapatkan folder itu dari seorang teman, pada saat saya semester 9 menjelang semester 10. Lama juga ya saya kuliah s1-nya, hehe. Folder itu, berisi beberapa file yang semuanya berupa teks dalam eksetensi .doc (Ms Word). File pertama di folder itu, terdiri dari kurang lebih 5 lembar langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh seorang mahasiswa, tentu saja dari jurusan biologi, menuju tahap wisuda. Langkah pertama dibuka dari persiapan menuju TA1 atau seminar proposal. Sebagai informasi saja, bahwa tidak semua jurusan bahkan dalam satu fakultas yang sama, mengadakan seminar proposal. Banyak jurusan yang hanya mengadakan sidang skripsi tanpa di dahului oleh seminar proposal. Jadi, asal dosen pembimbing ok dengan proposal yang kita buat, kita bisa langsung mengambil data. Hal itu tidak seperti yang harus saya dan teman-teman di jurusan biologi lewati.  Kami harus terlebih dahulu melakukan seminar proposal sebelum mengambil data. Itupun terkadang masih harus merevisi terlebih dahulu hasil seminar proposal agar mendapatkan acc pengambilan data di lapangan.
Langkah kedua yang ada di lembaran berikutnya adalah langkah menuju TA II atau ujian/sidang skripsi. Tentu saja, untuk melakukan sidang skripsi ada beberapa syarat yang harus saya lalui sesuai dengan yang tertera di lembar langkah-langkah menuju sukses. Syarat yang dimaksud meliputi fotokopi KRS, transkrip nilai, kartu siap ujian, draft skripsi yang telah di acc dosen pembimbing, bimbingan yang telah diakhiri (minimal 12 kali bimbingan), kartu telah menghadiri ujian TAI sebanyak minimal 20 yang dibuktikan dengan paraf dosen-dosen penguji di masing-masing TAI yang dihadiri dan undangan ujian skripsi. Saya ingat, bahwa saya mengumpulkan tanda tangan TAI sejak sebelum semester 6, karena tidak selalu ada TAI dan tidak setiap TAI saya dating dan membawa kartu kuning itu. Pada tahap ini saja, sudah terlihat cukup ribet, namun tentu saja seribet-ribetnya urusan administrasi, masih kalah dengan semangat mahasiswa yang akan sidang dan berharap cepat lulus.
Setelah langkah kedua selesai ternyata, masih banyak langkah-langkah yang harus dilakukan muali dari bimbingan revisi sampai dapat acc 3 dosen, bimbingan artikel dan poster, bebas lab jurusan, bebas lab jurusan, bebas lab pusat, hingga mendaftar wisuda. Sehingga sangat wajar, manakala seorang mahasiswa biologi merasa senang melihat satu demi satu dari langkah-langkah yang tertulis di lembar menuju sukses tercoret atau telah di beri tanda centang.
Lalu siapakah yang meluangkan waktu untuk kemudian menulis langkah-langkah menuju sukses berikut dengan contoh-contoh dari surat-surat yang diperlukan? Siapapun itu, menurut saya, dia telah melakukan suatu hal sederhana yang sangat bermanfaat. Hal kecil yang berdampak besar (meskipun masih dalam lingkup jurusan)  dan semoga dicatat juga sebagai suatu nilai ibadah. Ah, ya, begitulah yang saya ingat. Sedekah bisa kita lakukan dengan apa yang kita mampu dan miliki. Dan dia, sang penulis dari folder itu, memberikan pelajaran pada saya, pada teman-teman di jurusan biologi, dan semoga pada Anda, bahwa melakukan sedekah itu sederhana, bahwa berbagi pasti menimbulkan suatu solusi. Lakukan dengan apa yang kita miliki, bahkan semiskin-miskinnya kita, kita masih memiliki otak untuk berfikir, masih memiliki wajah untuk tersenyum dan masih banyak nikmat-Nya yang bisa kita gunakan untuk berbagi, untuk bersedekah.

SPBN

0 komentar



SPBN
SPBN -Sarjana Pengangguran Beban Negara. Semoga kita yang akan dan sudah lulus tidak masuk ke dalam golongan ini. SPBN sendiri pertama kali saya dengar dari seorang teman dekat  yang kuliah di salah satu kampus Negri di Semarang. Saat itu, saya baru beberapa hari selesai sidang skripsi dan tengah menyelesaikan revisi dari penguji. Saat bertemu dengan teman saya yang akrab disapa poli, saya seperti biasa memberikan salam dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Saat berjabat tangan itulah pertama kali saya mendengar istilah ini. Seingat saya, seperti inilah kalimat yang diucapkannya pada saat kami berjabat tangan, “Selamat mam…selamat jadi beban Negara”. “Jleb!” Saat saya mendengar istilah ini pertama kali, saya kaget dan merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal,  mungkin istilah sekarang “Sakitnya tuh disini …(sambil nunjuk hati)”. Ucapan itu, menurut saya cukup sarkastik alias bernada menyindir dan masuk dalam sindiran garis keras.
Sebenarnya, tanpa dibilang bahwa mahasiswa fresh graduate atau pun menjelang lulus dan belum memiliki pekerjaan sebagai kelompok SPBN pun aku sudah memikirkannya, meskipun dengan istilah yang berbeda. Ya, setidaknya sebagai  mahasiswa yang pernah dikasihani negara (penerima beasiswa) selama dua periode, aku sadar bahwa aku harus memiliki kontribusi aktif kepada masyarakat sebagai  balasan atas dana yang aku peroleh. Jika ditelusuri tentu saja dana yang aku peroleh  berasal dari uang Negara yang mana salah satu sumber pemerolehannya adalah pajak yang dibayarkan oleh masyarakat baik dari kalangan atas, menegah hingga lapisan bawah.  
Aku hanya jujur saja saat ditanya oleh poli, apa yang bakal aku lakukan terutama waktu menunggu wisuda. Tentu saja, setelah semua administrasi berkaitan dengan wisuda selesai aku ingin pulang dan bertemu dengan orangtuaku. Aku ingin sejenak beristirahat dan merefresh kembali isi kepala sebelum kembali lagi pada rutinitas dan dunia kerja. Setidaknya selama 1-2 minggu. Toh, aku juga merasa tidak tega jika mendengar cerita  mama bahwa abah mengalami sakit di bagian perut. Tempat dimana luka operasinya berada. Wajar bukan jika aku ingin pulang dan sedikit jalan-jalan?
Sebenarnya aku sudah mengutarakan apa rencana ku pada salah satu kakak ku untuk mengisi 3 bulan menunggu waktu wisuda. Namun, menurut mba, lebih baik jika aku dirumah dulu, membantu orang tua, sembari mengajar di sekolah-sekolah dekat rumah. Menurutnya itu lebih baik dari rencana baik milikku. Rencana ini tentu saja tidak bisa aku ceritakan pada poli, sekalipun dia salah satu teman karibku.
Dari kejadian ini, aku kembali berpikir bahwa ternyata memang masyarakat pada umumnya memiliki gambaran demikian. Seseorang yang telah menyelesaikan pendidikannya harus dengan segera mendapatkan pekerjaan yang jelas dan memiliki “kantor”. Tidak perduli apakah penilai itu lulusan dari pendidikan tingkat yang mana, pandangan seperti itu tetap berlaku. Jika demikian, lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengisi hari-harinya dengan pengabdian, dengan hal-hal positif, dan tidak memiliki “kantor”? Bagaimana jika mereka malah memiliki kepuasan batin dan memberikan kebermanfaatan lebih banyak untuk orang-orang sekitar dari mereka yang sudah memiliki kantor dan pekerjaan?
Hmm… entahlah. Yang pasti akan lebih bagus jika kita sudah selesai dari suatu pendidikan, kita bekerja, berkantor dan tentu saja memiliki kontribusi dan hal-hal positif untuk orang-orang sekitar. Semoga kita menjadi salah satu bagian didalam golongan ini.  Amin

Sekedar pengingat-->  tweet dari pak Ridwan kamil…


"Jika kita tidak bisa memberi solusi. Janganlah kita ikut membebani."



Bismillah

0 komentar

semoga ada rezeki untuk melanjutkan studi ke jenjang berikutnya.
Syukur jika bisa dapat beasiswa.
Jikapun tidak bisa ya tetap kerja biar bisa lanjut sekolah (sambil tetep ngajuin beasiswa)
Bismillah
Setapak demi setapak

Air mata

0 komentar

Sungguh, saat sebuah mata air hilang dari suatu tempat, maka yang tertinggal hanyalah kekeringan, gersang, dan kematian perlahan. Begitulah yang dapat kita lihat dari beberapa mata air yang ada di bumi dan yang kemudian mati tidak lagi berfungsi.
Mengutip dari pernyataan seorang kaka kelas, (kurang lebih seperti ini) "Sungguh tiada air mata yang (mudah) menetes kecuali di dalamnya ada hati yang teduh" (Betty, 2010).
Apa kabar hati?

Bila

0 komentar

Apabila dia berubah maka aku bisa apa?
Apabila dia berdiam diri aku harus apa?
Apabila dia pergi lalu bagaimana?
Bukankah itu juga haknya?
Biarkan ia berubah asal ke arah yang baik
Biarkan dia diam sementara jangan kau usik
Biarkan dia pergi pasti dia balik

Mendoakan saja selalu yang terbaik untuknya
Mendoakan saja dia selalu bahagia
Dengan teman lama dan teman baru
Dengan siapapun
Dimanapun

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers