Aku, wedang jahe dan sedikit tentang kalian

Malam semakin larut kawan. hujan di luar belum menampakkan tanda kelelahan mereka untuk turun ke bumi. Kilat dan guruh malah menyemangati mereka untuk terus turun dengan deras. Sementara mereka bersenang-senang dengan aktifitas di luar, aku menyibukkan diriku menengguk perlahan segelas wedang jahe sembari melirik kearah luar jendela. Jalanan nampak sepi. tentu saja orang-orang lebih memilih untuk menutup rapat tubuhnya dengan kain sarung atau selimut ketimbang keluar dalam kondisi dingin.

Tulisan yang aku buat masih separuh jadi. Tergeletak begitu saja di atas meja belajarku. Terhenti karena alasan klasik, ide yang bersembunyi . Seperti rembulan di luar sana, tertutup ia oleh mega mendung dan guyuran hujan. Padahal, sudah jelas bahwa tulisan itu harus aku kumpulkan secepatnya jika aku tidak ingin menyesal dikemudian hari karena terlambat mengirimkannya. Sebuah artikel yang menjadi salah satu syarat kelulusank.

Kembali ku teguk wedang jahe di tanganku. Sensasi hangat kembali menjalar dalam tubuh. Hujan, masih belum usai. Pun sama dengan tulisanku. Kupaksa otak ini kembali bekerja mencari dan menyusun ide dan menuangkannya dalam kata-kata di tulisan yang aku buat. Lumayan, ternyata bisa bertambah hingga tiga paragraf. Ternyata ada benarnya juga bahwa wedang jahe itu bermanfaat untuk mengalirkan darah. rasa-rasanya otakku telah mendapat kiriman darah segar kaya oksigen dari jantung sehingga kembali bisa berpikir.

Kata banyak orang, bisa itu karena biasa. Biasa itu karena dipaksa. Aku memilih untuk memaksa otakku kembali bekerja dan akhirnya jadilah artikel ku. Besok artikel itu bisa kembali aku baca untuk mencari apakah masih ada tulisan-tulisan yang belum sesuai dengan aturan. Malam ini, cukuplah saja. Pemaksaan itu, menurutku, juga ada batasnya. Terlalu dipaksa malah bisa-bisa tidak berguna lagi karena rusak parah.

Hmm...
Lantas aku kemudian berfikir tentang hal lain selain tulisanku itu. Tentang diriku sendiri ke depannya. Apakah aku harus terus berada dalam konsisi seperti ini, atau harus bagaimana? Haruskah aku menunggu teman-temanku hingga skripsi mereka selesai ? Mau berapa lama? Apa mereka sadar jika aku menunggu mereka? Ada ko yang dengan santai nya mencoba menyelesaikan skripsi, padahal, dosen pembimbingnya profesor dan Beliau sangat dermawan. Terbukti dengan bimbingan yang bisa dilakukan dengan frekuensi dan intensitas yang sangat cukup jika dibandingkan dengan bimbinganku. Tapi ya dasar anaknya semprul, skripsinya ntar-ntar an dan sangat santai hingga terkesan menyepelekan. Meskipun aku mengakui skripsinya itu bagus, tapi apa iya aku harus menunggu untuk teman dekat seperti ini ?
Memang, akan lebih baik manakala aku dan mereka duduk dalam satu deret dalam wisuda.
Teman-teman kelas yang sudah luluspun berharap seperti itu.
Tapi kembali lagi bahwa akulah yang lebih berhak memutuskan tentang apa yang menurutku baik dan buruk.
Aku kira aku akan memulainya dengan lulus terlebih dahulu dari bandit yang lain.
Kemudian aku akan mendaftar wisuda terlebih dahulu.
bagaimana dengan omongan orang-orang? kamu sangat egois!
Hmm, ga papa lah. toh, pada dasarnya, mau daftar bareng atau tidak, mau duduk sederet atau tidak, wisuda akan kami lakukan pada hari dan tempat yang sama bukan?
Lagi pula, aku kira, dengan lulus dan mendaftar terlebih dahulu, semoga ini bisa menjadi sedikit pemanas agar mereka lebih semangat dalam mengerjakan skripsi mereka. Aku percaya bahwa melangkah lebih awal, tak berarti meninggalkan.
Semoga pula setelah kami lulus, kami dipermudah dalam mencari rezeki.
Amin.


Tetap semangat kawan...
Skripsi will be end as soon as possible...

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan untuk memberikan komentar terhadap tulisan ini, demi tulisan yang lebih baik di lain hari.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers