Raket - prolog

Raket - Prolog
Anak kecil itu duduk diam menatap ke arah luar jendela rumahnya. Hujan deras sekali sampai-sampai suaranya bak satu peleton pemain drum. Sesekali petir menyambar. Ibu anak itu, sedari tadi sudah belasan kali melarang anaknya dekat-dekat jendela. Khawatir ia pada petir. Siapa tahu petir lelah di atas sana dan mengetuk jendela, tepat di tempat anaknya berada, untuk sekedar mampir.
Namun anak itu tak sedikitpun bergeming. Tetap saja ia duduk di tempatnya. Ia tahu betul bahwa diluar hujan, suhu menjadi dingin, langit gelap dan tentu saja, tanah menjadi becek. Dia tahu betul itu semua terjadi diluar rumahnya. Tapi sekali lagi, dia enggan untuk menuruti mau Ibunya. Biasanya hujan terasa sangat menyenangkan. Bisa bercengkrama dan berkumpul dengan ayah Ibu dan kedua adiknya. Tapi lain dengan hujan sore ini. Dia terlihat sangat sedih dan berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Tangannya sedari tadi kuat memegang barang yang terlihat masih sangat baru. Raket bulutangkis.
Hujan yang menjadikan tanah becek, tentu saja membuatnya sedih. Pasalnya, dia dan adik-adiknya sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk bermain bulutangkis bersama di lapangan bulutangkis dekat rumah Pak RT. Ya, benar-benar jauh hari. Bukan seperti kita, bisa bermain kapan saja kita suka. Siapa terka, bahwa raketnya itu dia dapat dengan waktu yang tidak sebentar. Raketnya itu penuh dengan cerita.

Sol, apa kamu punya waktu untuk sekedar mendengarkanku bercerita tentang anak itu dan raket barunya ?

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan untuk memberikan komentar terhadap tulisan ini, demi tulisan yang lebih baik di lain hari.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers