There can be no “teacher” without ‘pupils’ , no rebel without ‘establishment’.

Arti Peimpin

Pemimpin adalah orang pertama sekaligus orang terakhir dalam sebuah kelompok (Mukti 2013)

This is featured post 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Gunung Prahu

SEUMUR HIDUP KITA SEKALIPUN TIDAK AKAN CUKUP UNTUK MENGELILINGI INDONESIA. I LOVE INDONESIA.

September di Bumi Daranante-Sanggau

0 komentar



Selamat datang September. Itu yang aku katakan pada diriku sendiri setelah bangun dari tidur. Tentu saja, sebelum itu aku bersyukur atas nikmat Allah karena masih dikaruniai hidup. Udara masih terasa dingin. Lamat-lamat aku dengar suara air mengalir. Aku lantas mengambil senter dan berjalan menuju ke arah sumber suara. Alhamdulillah, ternyata air dari bukit yang dilewatkan dengan pipa menuju rumah tempatku tinggal mengalir kembali. Pagi ini, alirannya cukup deras. Namun karena masih mengantuk, aku lebih memilih kembali ke kamar hehe. Entahlah, hari itu aku merasa semua badan terasa sakit. Masuk angin mungkin.
Baru setelah sholat subuh lah, aktifitas mengisi gentong-gentong dan berbagai wadah air (mulai dari ember, panci, dandang dan baskom) dimulai. Karena aliran air pagi ini cukup deras, maka pengisian air tidak memakan waktu yang lama. “Lumayan yah mas, bisa dipakai untuk cerita di Jawa,” kata Ibu Tini, Isteri Pak Pur. Beliau adalah Ibu angkat sekaligus Isteri dari Bapak Kepala Sekolah.
Betul, Kami bertiga bersama-sama menempati satu tempat tinggal. Sebuah rumah babinsa dengan 2 kamar tidur, sebagaimana telah aku ceritakan sebelumnya. Kehadiranku dalam rumah itu, mungkin sedikit mengisi nuansa baru (atau mungkin malah mengganggu?) bagi pasangan Bapak dan Ibu Pur. Sampai hari ini, beliau berdua masih belum dikaruniai keturunan. Semoga saja tahun ini, sebelum aku kembali ke Jawa mereka berdua sudah dikarunia keturunan. Amin.
Tapi, kata temanku, sebut saja Sishol (:P), kehadiranku itu paling tidak membuat waktu mereka untuk menikmati waktu menjadi terganggu, haha. Betul juga sih. Ya mau bagaimana lagi, lah aku mau nyewa rumah sendiri juga nda di izinkan beliau bertiga, malah kamare ndadak dicat anyar barang haha. Belum lagi baru beberapa hari setelah aku tinggal aku mengetahui fakta bahwa ternyata Ibu setiap tanggal 3-16 an setiap bulannya berangkat menuju Sanggau untuk berdagang kain dan baju. Otomatis, waktu intens antara Bapak dan Ibu juga berkurang. Sebagaimana doaku (setiap ingat) semoga, bagaimanapun kondisi beliau berdua, semoga tahun ini kebahagian mereka bisa menjadi lebih lengkap dengan hadirnya seorang anak.
Berbicara tentang anak, hari ini aku tampil perdana di depan anak-anak kelas 8 dengan materi sistem gerak. Lengkap sudahlah aku mengajar di kelas 7,8 dan 9 SMPN 4 Tayan Hilir untuk mata pelajaran IPA. Ada juga jam tambahan berupa mata pelajaran TIK kelas 8 dan 9. Untuk kelas 8 baru akan masuk pertama besok, hari Rabu. Sejauh ini, aku masih mencoba untuk mengenal anak-anak lebih dekat, meskipun tetap harus ada batasan antara kami. Harapannya, agar mereka tidak sungkan untuk bertanya perihal apa-apa yang aku ajarkan dan yang belum mereka pahami. Sekalipun aku tidak menjamin seratus persen bahwa semua yang mereka tanyakan  akan aku jawab dengan baik dan memuaskan, setidaknya dengan keterbatasanku (di sini tanpa sinyal dan listrik) aku ingin berusaha sebisa mungkin menghantarkan mereka pada pemahaman yang lebih.
Tidak selamanya bukan murid selalu di bawah guru atau kemampuan guru selalu di atas murid? Justru harusnya guru berbangga jika murid bisa melampaui kemampuan guru. Kondisi dimana siswa mencapai titik yang lebih tinggi dari apa yang pernah diajarkannya. Aku juga ingin terus berproses. Bukankah begitu seharusnya? Guru dan murid sama-sama berproses. Berproses untuk menjadi lebih baik. Meminjam kata-kata Ka Ricky Elson, kita terus berproses, membangun diri, membangun Negeri.
#Inilah Indonesia Mam. Bukan hanya Semarang, Jogja, Solo, Magelang, Bandung, Jakarta dan Bali. Inilah bagian dari salah satu pulau terbesar di Indonesia. Kalimantan. Selamat! karena sudah berada di sini lebih dari satu minggu. Setidaknya sampai saat ini, inilah waktu terlama berada di luar Pulau Jawa. Tentu saja besok, lusa dan hari-hari seterusnya akan menjadi pencapaian-pencapaian baru. Mari kita nikmati segala keterbatasan yang ada. Bukankah menjadi suatu hal yang romantis (:P) ketika menelpon keluarga harus dengan berdiri bahkan berjinjit? Bahkan tidak menutup kemungkinan menelpon dengan terlebih dahulu mendaki bukit ? Menerima SMS setelah mengerek HP di tiang bendera? Atau kenikmatan dan keasyikan serta tantangan lain semacam mandi di sungai, bertemu setiap hari dengan babi dan anjing yang dilepas bebas, dan menjadi Dai dan guru ngaji dadakan? Teruntuk diriku sendiri dan kawan-kawan SM3T se-Indonesia dimanapun kalian ditugaskan, apapun keterbatasan (baca:kenikmatan) yang ada dan kalian dapatkan, enjoy sajalah. Tak usah berkeluh kesah karena itu justru akan menambah beban bagi kita sendiri. Ingat-ingat lagu pramuka.
     Apa guna keluh kesah...
Apa guna keluh kesah ...
Pramuka tak pernah bersusah...
Apa guna keluh kesah.....
Tetaplah semangat hai diriku, hai jiwa-jiwa muda yang terpanggil untuk mengabdi dan mencemburkan diri dalam masyarakat baru di pelosok nusantara. Kamu kuat, dan kamu hebat. Hai diriku dan kawan-kawan SM3T, jangan lupa untuk terus mengupgrade dan meluruskan niat kita. Lakukan yang terbaik, perihal gaji, tunjangan, beasiswa PPG dan lain-lain itu hanyalah bonus semata. Jangan menjadikannya sebagai tujuan utama. J
***
Masih di awal September. Udara sore hari ini terasa panas. Aku dan Pak Pur melakukan sedikit olahraga dengan bermain bulutangkis di lapangan sekolah. Satu set pertama aku menang dari Pak Pur. Set kedua, Pak Pur digantikan oleh salah satu tetangga (yang maaf karena namanya saya lupa). Karena posisiku yang berganti dan menghadap ke matahari secara langsung, ditambah dengan kemampuan mengolah cock yang baik maka aku kalah pada set kedua tadi. Oh ya, perlu dijelaskan dulu, bahwa di sekolah terdapat tiga jenis lapangan. Pertama adalah lapangan voli, kedua adalah lapangan futsal, dan ketiga adalah lapangan bulutangkis. Semua fasilitas tersebut secara defacto dan dejure adalah milik sekolah. Namun pada preaktik di lapangan, ketiganya digunakan secara umum oleh warga di sekitar lingkungan sekolah. Mengingat jumlah sarana yang terbatas, maka setiap cabang (voli, futsal dan badmintaon) menggunakan sistem gugur. Maksudnya, sekali kalah langsung diganti, baru ketika yang lain ada yang kalah bisa bermain lagi. Karena sistem itu pulalah, pak Pur yang kalah dariku pada set pertama langsung digantikan. Baru setelah aku kalah di set kedua, pak Pur masuk dan bermain kembali.
Sesuai rencana, aku ijin terlebih dahulu meninggalkan lapangan badminton untuk menuju bukit cinta :D. Bukit dekat sekolah, dimana biasa ada sinyal yang cukup stabil untuk menelpon. Hasil komunikasi dengan teman-teman, aku mendapat info bahwa kawan SM3T penempatan Sambas yang mengalami kecelakaan sudah bisa kembali beraktifitas secara normal. Alhamdulillah. Kabar selanjutnya datang dari wakorkab Sanggau, Mas Arif. Alhamdulillah, kali ini dia dapat aku hubungi setelah satu minggu tidak ada kabar. Mas Arif berkata bahwa sudah ada keputusan dari dinas terkait penempatan yang diterima oleh ke empat anggotaku, yakni Maya, mas ajiz, mas heru dan mas arif. Maya positif dipindahkan menuju ke SDN 7 Mangkau sementara ketiga kawan yang lain tidak mengalami pemindahan tugas. Dengan demikian, terjadi pemindahan posisi jika diurutkan dari jarak terdekat-terjauh menjadi maya, mas ajiz, mas heru dan di ujung entikong baru ada mas arif. Jarak antara sekolah menuju ke kecamatan entikong menurut mas Arif adalah sekitar 3 jam.
Nada suara mas Arif menampakkan rasa yang tidak biasa. Seingatku, nada bicara yang beberapa kali aku dengar pada saat prakondisi adalah nada suara dengan semangat dan keceriaan. Sore tadi terasa berkurang. Semoga saja beliau sehat-sehat di sana. Mungkin, mas Arif merasa kaget dan terkejut dengan keputusan yang diberikan oleh Dinas, padahal mas Arif sudah berusaha menghubungi  jajaran dinas dan Pak Sokheh juga, namun keputusan tetap seperti semula. Hanya satu yang mengalami pemindahan tugas. Hal yang menjadi faktor keterkejutan mas Arif mungkin adalah fakta bahwa dusun tempat dia akan ditugaskan, yang terdiri atas 66 KK, semua beragama non muslim. Otomatis tidak ada masjid. Jarak dengan masjid di kecamatan entikong dapat ditempuh dengan ojek yang harus dibayar sebesar 300 ribu rupiah sekali PP. Bisa dibayangkan jika setiap Jumat beliau harus turun ke kecamatan untuk sholat Jumat. Tekor juga lah. Semoga saja mas Arif bisa lebih legowo, diberikan kesehatan, keikhlasan, kekuatan dan kesabaran ekstra untuk menjalani pengabdian satu tahun kedepan. Doa serupa juga untuk kawan-kawan SM3T Sanggau pada khususnya dan Kab lain pada umumnya.
Refleksi hari ini ditutup dengan pembelajaran budaya melayu. Sedikit kosa kata baru.
Ngala=singkong
Pak Ulung = Bapak (anak sulung)
Pa Su/ Pa Usu = Bapak (anak bungsu)
Pak Nis = Bapak (anak kelima)
Pa Unggal = Bapak tunggal
Among (melayu sambas) = digunakan untuk memanggil orang dengan nama yang sama persis misal imam dengan imam

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers