7 Bulan

Mengajar. Suatu keniscayaan bagi orang-orang yang biasa dipanggil guru, sensei, ustad atau panggilan yang semakna. Diperlukan bukan hanya penguasaan akan apa yang diajarkan saja, melainkan juga seni dalam memahami kondisi. Kondisi tempat mengajar, kondisi yang diajar dan yang terkait dengannya.
Tidak terasa, sudah mau 7 bulan mengajar di SMP Negeri 4 Tayan Hilir, Kec. Tayan Hilir Kabupaten Sanggau. Sudah banyak hal yang berubah sejak aku pertama kali datang kesini. Perubahan di sekolah, baik dari kondisi sekolah, siswa maupun guru, dan perubahan yang terjadi pada diriku sendiri.
Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari pengalamanku mengajar di sini.
Jika dibilang pengabdian, aku merasa malu sendiri. Niatku tidak 100% untuk mengabdi. Ada alasan-alasan manusiawi yang mendorongku untuk mengikuti program bertajuk"Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia" yang pada akhirnya membutku mengajar di SMP Negeri 4 tayan Hilir. Kawan, terlalu banyak hal yang ingin aku tulis di sini, tapi waktuku tidak mencukupi. Cukup untuk sementara aku bercerita di buku harianku. Pemberian seorang sahabat. Buku kecil, tapi insya Allah buku itu sangat bermanfaat.
7 bulan mengajar.
Minggu-minggu ini terasa semakin berat dalam mengajar. Semakin sering terjadi hari di mana aku mengajar seorang diri untuk tiga tingkatan kelas (VII-IX) dengan tiga mata pelajaran yang berbeda. Aku menikmatinya. Hanya saja staminaku ternyata tidak mau berbohong bahwa mengondisikan 3 kelas dengan 73 siswa itu bukanlah perkara yang mudah dan ringan. Butuh tenaga ekstra, suara yang lebih keras, dan kesabaran dengan senyuman selebar mungkin. Kurang salah satu saja, dapat dipastikan bahwa kondisi anak-anak akan semrawut, hehe.
Dimana kah Engkau wahai guru-ku?
Andai ada salah satu dari murid-muridku yang menanyakan pertanyaan itu, pasti sekelebat rasa nyeri hadir didada. Sering kali para guru tidak hadir ke sekolah dan seperti tadi pagi, aku menjadi seorang dalang dengan 3 lakon yang berbeda dan dimainkan sekaligus!
Apa yang sedang Engkau kerjakan oh Guru-ku?
Jika pertanyaan itu yang muncul, aku hanya tersenyum. mencoba menjelaskan pada mereka dengan bahasa sesederhana mungkin. membuat suatu pemahaman pada mereka, bahwa saat mereka nantinya dewasa akan ada suatu kondisi yang memakasa mereka memilih salah satu dari beberapa tugas yang diamanahkan pada mereka. Nak, kehidupan orang dewasa, apalagi yang sudah berkeluarga itu banyak sekali yang perlu dipikir.
Sekalipun menurutku itu bukanlah alasan. Negara sudah memberikan hak kalian, maka tuntaskanlah kewajiban kalian untuk mengajar para murid!
Aku suka mengajar.
Tapi jika terus di hantamkan pada kondisi seperti ini, sanggupkah aku?
Sabarkah aku?
Maukah aku untuk memaafkan "mereka "?
Siapkah aku untuk terus semangat dan tersenyum di depan para murid?
ah, nak, kalian membuatku tak bisa berkata-kata lagi.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan untuk memberikan komentar terhadap tulisan ini, demi tulisan yang lebih baik di lain hari.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers