Kisah Si Melon yang hilang



Mataku mengantuk. Mulutku sudah menguap-uap lebar sedari tadi. Langit-langit kamar sudah tidak nampak. Gelap. Lampu langganan dari genset tetangga malam ini padam lebih awal. Hari hujan dan banyak kilat. Mungkin pemilik mesin genset sangat sayang pada mesinnya barangkali tersambar petir. Mungkin juga pemilik genset juga sudah mengantuk lebih parah dariku saat aku baru mulai menulis cerita ini. Kemungkinan terakhir yang aku tepis adalah pemilik mesin tahu bahwa salah satu pelanggannya adalah seorang guru SM3T yang sendirian dan berbahaya jika malam-malam tidak lekas tidur. Bisa-bisa terlintas pikiran yang tidak-tidak. Pikiran tentang kandasnya hubungan asmara lantaran mengikuti program ini misalnya?hehe.
Aku tahu bahwa aku sudah semakin mengantuk. Ini terlihat dari kesadaranku yang mulai timbul tenggelam. Mataku sebentar terjaga dan sebentar terpejam. Segelas kopi hitam yang aku minum lima belasan menit lalu nampaknya tidak terlalu efektif mengusir rasa kantuk. Meski begitu, jari-jari tangan nampaknya masih siaga penuh. Semangat 86 untuk mengetik kata demi kata. Kesadaran memang tidak seratus persen tapi alam bawah sadar memberi perintah lebih tegas,”Malam ini harus memulai untuk membuat cerita pendek tentang pengalaman SM3T!”.
Hari Minggu Sore di bulan Maret. Seperti sore-sore sebelumnya, Ibu-ibu di dusun balai Ingin Hilir mengajakku bermain voli. Aku yang memang tidak ada sesuatu yang dikerjakan tentu saja mau ikut. Tentu saja tidak cuma ibu-ibu saja yang ikut bertanding. Bapak-bapak dan abang-abang juga banyak yang ikut bermain. Jadi tim voli yang bermain merupakan tim campuran.
“Smash Pak Ozi..,” Seru Katan sembari memberikanku bola umpan.
Aku yang memang kurang mahir dalam bermain voli tidak melakukan apa yang Katan minta. Aku hanya mendorong bola melewati net. Semacam dunk kalau dalam basket. Masuk. Poin tim kami bertambah.
“Sorry..,”ucapku pada Katan.
“Santai Jak pak,”jawabnya.
Permainan semakin lama semakin seru. Tanpa terasa sudah memasuki rubber set. Tim lawan yang diketuai Bu Minun memberikan perlawanan yang cukup sengit.  Beberapa kali terjadi jual beli serangan dan  rally panjang.
Sedang seru-serunya bermain, tiba-tiba dua orang laki-laki berusia 20 tahun datang menuju lapangan voli tanpa berbaju. Hanya mengenakan celana jins panjang. Baru pertama kali aku melihat wajah mereka berdua.
“Mungkin mereka ingin bermain,”pikirku.
Jarak 1 meter dari lapangan, mereka berhenti. Mereka mengucapkan kalimat dalam dialek Melayu Tayan. Aku sama sekali tidak bisa menangkap apa yang mereka ucapkan. Tapi dari bahasa tubuh yang mereka tunjukkan, mereka meminta agar kami berhenti bermain bola voli. Aku pun berdiri dari posisi merecieve bola. Mereka berdua menghampiriku sambil kembali mengucapkan kalimat yang tidak aku mengerti.
Katan, secara sigap tiba-tiba maju dan berdiri di depanku. Bang Ir, juga sama. Mereka berdua mencoba mencairkan suasana.
“Mana guru olahraga SMP?!,” tanya salah satu laki-laki tanpa baju itu. Kali ini dengan bahasa Indonesia.
“Kenape? Ada urusan Ape?”, tanya Katan.
“Mane?!”,tanya dia kembali.
Katan masih berdiri di depan laki-laki itu, membelakangiku. Bersiap dengan segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi setiap saat. Aku pun demikian.
“Aku nda ga trima dibilang nyolong tabung gas sekolah,” kata laki-laki itu.
“Siape yang nuduh kau macam tuk?” Jawab Katan.
“Sidak anak SMP nyan tek bilang kalau kata guru olahraga sidak yang nyolong tabung gas tu yang mabuk. Siape gi balai ingin yang mabuk kalau bukan kamek?”, sahut mereka.
Sekolah tempatku bertugas (SMPN 4 Tayan Hilir) memang sering kemalingan. Apa saja yang ada di sekolah diambil sekalipun itu hanya alat-alat praktikum. Kemarin lusa giliran ruang TU yang dijebol dengan paksa melalui lubang ventilasi di atas pintu. Tabung gas di dalam ruang itu raib. Berhasil dibawa maling. Tapi seingatku, tidak pernah aku menyebutkan permasalahan ini dikelasku mengajar hari sabtu kemarin. Hanya beberapa siswa saja yang tahu kasus ini. Aku juga tidak pernah menyebut atau menuduh siapa yang mencuri tabung gas atau pencurian sebelumnya, karena tidak ada saksi dan bukti. Tentu jika aku melakukannya aku melanggar aturan hukum dan menimbulkan fitnah.
“Nda da bah guru olahraga di Sitok. Yan tek orang Tayan. Dah balik dia”, ucap Bu Minun.
“Anak SMP yang mana? Siape namenye?”, tanya Katan.
Kedua laki-laki tak berbaju itu maju. Mencoba merangsek menerobos bang Ir dan katan. Tentu saja Katan dan Bang Ir mencoba menghalau. Situasi semakin memanas.
“Usah kau ikut-ikutan Tan. Aku tahu kau tuh siip. Tapi die tuh buat perkara. ****## (mengumpat dalam bahasa melayu Tayan)”.
“Sabar luk...tenang luk...Dia bah nda tahu ape-ape. Kalo na ngadu ke kepala sekolah Jak,” Kata Katan.
Laki-laki tanpa baju berambut jabrik masih mencoba menghalau Katan dan Bang Ir.
“Siape Kepala Sekolah nyan?! Adekah orangnye!”, tanya lelaki tanpa baju satunya lagi yang bertubuh kurus.
“Pak Pur. Ade di rumah”
“Ayoklah kesian”, ajak lelaki tanpa baju bertubuh kurus itu.
Katan dan dua laki-laki itu lantas berjalan menuju rumah dinas.
“Ir, kau kawankan mereka,” kata Bu Minun.
Permainan bola voli berakhir. Semua orang yang ada di lapangan, termasuk para penonton ikut menuju rumah dinas. Orang-orang yang rumahnya kami lewati juga ikut ke rumah. Penasaran dengan apa yang terjadi.
Bang Ir yang semula berada di belakang tahu-tahu sudah ada di depan.
“Assalamualaikum...”, ucap Bang Ir.
Bu Tini, isteri kepala sekolah, keluar dari kamar dan menjawab salam,”Waalaikum salam”.
“Pak Pur ade kah ka Tini?”, tanya Bang Ir.
“Ade, ade ape nyan ramai-ramai mitok?” tanya Bu Tini.
“Ka Tini tenang Jak. Ini ada perlu dengan Pak Pur Bu”, kata bang Ir mencoba menenangkan Bu Tini.
Dua orang tanpa baju itu ikut masuk ke dalam rumah. Tanpa salam, lalu ikut mencari-cari Bapak kepala sekolah. Bu Tini terlihat kaget dan sedikit ketakutan. Dia segera masuk ke dalam kamar mencoba memanggil suaminya. Sementara Bang Ir dan Katan mengajak kedua laki-laki itu keluar rumah dan duduk di beranda rumah.
Semakin lama semakin banyak orang dusun yang datang berkumpul di teras rumah.  Mulai dari anak-anak hingga dewasa. Semua masih dengan pertanyaan yang sama di benak mereka,”Ada apa ini?”.
“Ada apa ini? Usah kau buat onar di mitok,”ucap Pak Ilyas, suami Bu Minun.
“Nda pak...,” Jawab  laki-laki kurus tanpa baju.
Pak Pur akhirnya keluar. Wajahnya terlihat kelelahan. Wajar saja, dia baru saja datang dari Kota Sanggau. Masih belum sempat berganti baju. Celananya saja masih celana jins yang ia pakai dari kota.
“Ada apa?”, tanya Pak Purdianto.
“Saye ngga terime saya dituduh nyuri tabung gas smp,” Kata lelaki bertubuh kurus.
“Siapa yang bilang begitu?”, tanya Pak Pur.
“Sidak (mereka) anak SMP yang bilang kalau guru olahraga bilang orang yang mabuk yang nyuri tabung gas sekolah. Siapa lagi di Balai Ingin ini yang suka mabuk kalau bukan kami? Kami ngga trima nama kami jadi jelek seperti nyan (itu)!”, ucap lelaki tanpa baju bertubuh kurus.
“Anak SMP yang mana?”, tanya Pak Pur.
“Pokoknya ada, akupun lupa nama sidak?”, jawab lelaki tanpa baju berambut jabrik.
“Anak sini bukan?”, tanya Pak Pur kembali.
“Bukan anak sini. Kame dengar waktu nyan tek di Bukit Sidak bilang seperti itu”. Kata kedua laki-laki itu nyaris bersamaan.
“Pokoknye kami ngga trima nama kami jadi jelek macam tu. Guru olahraga tu harus tanggung jawab.”
“Awas saja, orang Jawa ke Kalimantan jadi Tapai,”ancam laki-laki bertubuh kurus.
“Eh, kau punya mulut yang benar dikit ngomongnya! Nyaman benar ngomong miyan!”, Pak Karim yang ada di antara kerumunan warga ikut memberikan suara.
“Kami kenal Pak Ozi, ga mungkin juga Pak Ozi bakal ngomong seperti itu!”,ucapnya menambahi.
“Ok, guru olahraga di SMP itu dia,” ucap Pak Pur sembari menunjuk ke arahku.
“Mas, sekarang mas coba bilang. Apa mas pernah ngomong sesuatu seperti yang mereka katakan?”, tanya Pak Pur padaku.
“Tidak Pak. Demi Allah, aku nda pernah bilang seperti itu apa lagi di depan anak-anak”,Jawabku.
“Usah kau bawa-bawa nama Tuhan!”, kata lelaki bertubuh kurus.
“Kalau bawa nama Tuhan saja tidak percaya lalu mau sumpah pakai nama siapa lagi” ,pikirku.
“Saya nanya, emang sebelumnya kita pernah bertemu? Kita pernah kenal? Belum kan? Mana mungkin saya nuduh-nuduh orang yang saya juga belum pernah ketemu?”, ucapku sambil bergetar menahan emosi.
“Tuh. Dia jak bilang dia ngga pernah ngomong seperrti itu. Ga mungkin juga dia bohong bawa nama-nama Tuhan”, ucap Pak Pur.
“Bapak ngga usah bela dia Pak!”, laki-laki bertubuh kurus berdiri dari duduknya. Emosi.
“Eh. Siapa yang bela orang. Kau berani tidak sumpah kaya dia?”, ucap Bu Tini.
“Usah ibu ikut campur urusan kame!”, jawab laki-laki bertubuh kurus.
“Eh...nyaman benar kau ngomong. Dia tuh laki aku. Aku bininya. Ini juga rumah kame!”, jawab Bu Tini ngga mau kalah.
“Tenang Ka Tini,”ucap Bang Ir sembari memberi isyarat dengan mengulurkan tangan.
Situasi semakin memanas. Beberapa warga nampak bersiap untuk turun tangan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Beberapa orang lari, memanggil tokoh dusun agar datang menenangkan. Tidak lama berselang, Pak RT dan salah satu tokoh datang.
“Kenape ini Mat?”, tanya Pak RT pada laki-laki bertubuh kurus yang ternyata bernama Amat.
Amat diam saja tidak menanggapi pertanyaan Pak RT. Gantian laki-laki berambut jabrik yang menjelaskan. Masih dengan nada emosi.
“Dahlah, gini Jak. Besok kan Senin, upacara. Murid-murid juga datang semua. Kalian ke Sekolah. Tunjukkan mana yang ngomong dan menyebarkan tuduhan itu!”, kata Pak Pur.
“Kalau emang yang dikatakan kalian benar dan Pak Ozi salah. Saya yang jamin dia akan bertanggung jawab.”
“Tuh. Gitu aja mat. Pak Pur udah ngasih kite solusi. Sekarang dah balik,” ucap Pak RT.
Amat diam saja. Matanya menatap tajam ke arahku.
Kedua laki-laki tanpa baju itupun akhirnya mau untuk meninggalkan rumah dinas setelah lebih banyak lagi tokoh dusun yang menyuruh mereka pulang.
“Sabar mas...namanya juga cobaan. Hehe”, ucap salah satu warga menenangkanku.
Semua yang masih ada di rumah dinas termasuk Katan dan Bang Ir tertawa, mengingat yang mengatakan hal itu adalah orang yang dulu jelas-jelas tidak suka dengan kedatanganku pertama kali di Dusun balai Ingin.
Keesokan harinya di sekolah tidak diadakan upacara. Baik saya maupun Pak Purdianto merasa penasaran apakah memang benar ada anak didik kami yang menyebarkan berita tidak baik seperti itu?
Karena penasaran saya pun mengajukan pertanyaan yang sama di semua kelas, mulai dari kelas 7 hingga kelas 9.
“Adakah yang tidak suka jika Bapak mengajar di sini?  Apakah ada yang mengatakan bahwa Pak Ozi menuduh seseorang mencuri di sekolah kita?. Jika ada, coba acungkan tangan atau silahkan datang ke kantor bertemu saya di waktu istirahat,”ucapku.
Tentu saja jawaban yang aku peroleh dari para siswa adalah tidak.
Amat dan temannya tidak kunjung datang ke sekolah bahkan sampai hari satu minggu semenjak kejadian itu. Terus terang, aku merasa jengkel dan tidak nyaman. Pak Pur mungkin menangkap ketidaknyamanan yang aku rasakan. Sebenarnya bukan tidak nyaman lantaran aku menjadi tertuduh penyebar fitnah, tapi lantaran pandangan warga dusun yang berubah menjadi penuh rasa kasihan setiap kali aku melewati mereka.
Selama satu minggu itu pula banyak tokoh dusun yang meminta agar kejadian itu dilaporkan ke pihak berwajib karena ada unsur pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan dan ancaman. Warga rupanya juga tidak suka dengan perangai Amat dan kawannya yang memang seringkali terlibat dalam kasus pencurian di dusun.
Hari senin di pekan selanjutnya, secara resmi Pak Purdianto selaku kepala SMP Negeri 4 Tayan Hilir melayangkan surat tuntutan kepada aparat desa agar segera menyelesaikan permasalahan yang terjadi secara kekeluargaan. Jika tidak kejadian itu akan diangkat ke persidangan. Menurut pak Pur, hal itu juga agar menjadi pelajaran bagi masyarakat supaya sadar hukum dan tidak berlaku senaknya sendiri terutama pada guru. Oleh petugas Desa secara langsung surat itu mendapatkan respon dengan cepat. Amat dan kawannya serta ketua RT dan kepala dusun dipanggil menghadap ke kantor desa dan mendapatkan nasihat dari aparat desa.
Tiga hari setelah surat tuntutan dilayangkan, Amat dan kawannya, ketua RT dari tempat mereka tinggal dan tempat saya tinggal, Pak Pur, ketua dusun, aparat desa dan perwakilan tokoh masyarakat berkumpul di rumah dinas SMP. Hasil pertemuan akhirnya diperoleh perjanjian damai. Pihak Amat dan kawannya meminta maaf karena mendengarkan berita dengan tidak cermat lantaran masih dalam kondisi mabok. Mereka juga meminta maaf karena sudah menuduhku menyebarkan berita tidak baik tentang mereka serta mencabut ancaman yang pernah keluar dari mulut mereka. Jika di lain waktu kejadian yang sama terulang kembali maka pihak Amat siap untuk dilaporkan kepada pihak yang berwajib.




0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan untuk memberikan komentar terhadap tulisan ini, demi tulisan yang lebih baik di lain hari.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers