Senandung adzan di liang lahat

Allah ku. Aku yakin ini salah satu teguranmu untukku atas kealpaanku dan kebobrokanku dalam diam. Siapa sangka jika hari ini, Kamis, 8 September engkau berikan aku pengalaman perdana yang luar biasa. Engkau memberikan aku kesempatan untuk mengumandangkan adzan dan Iqamah. Bukan di masjid atau di mushola, melainkan di liang lahat.
Betul kawan, liang lahat.
Bergetar badan ini. Suaraku nyaris berubah menjadi Isak tangis jika aku tidak ingat adab mengenai jenazah.
Ingin rasanya berhenti dan berkata aku tidak sanggup. Tapi keyakinan bahwa ini adalah suatu hal yang kelak akan sangat berguna menguatkan ku untuk menunaikan amanah yang diberikan oleh orang-orang di sekitar rumah.
*
Tidak ada yang menyangka dan menduga bahwa tetangga depan rumah meninggal dunia dalam usia yang relatif muda. Hanya beberapa tahun saja terpaut usia denganku.
Rasanya baru kemarin dia membantu keluargaku mengurus nikahan mas parjo. Baru kemarin juga dia meminjam sound untuk acara aqiqah kakaknya.
Siapa sangka, siang tadi Allah memanggilnya.
Siapa sangka juga bahwa aku dipilih oleh orang-orang sekitar membantu untuk menerima jenazah lalu lantas mengadzaninya.
Mungkin ini teguran juga bahwa buku fiqih jenazah yang aku beli memang harus lekas diselesaikan untuk dibaca. Penerapan ilmu itu, tidak menunggu waktu kita berleha-leha. Kapan pun penerapan itu akan datang. Pun pasti dengan maut.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan untuk memberikan komentar terhadap tulisan ini, demi tulisan yang lebih baik di lain hari.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers