Masih ingat tanda-tanda hari akhir ? Salah satu yang paling diingat kemungkinan bahwa jumlah laki-laki dan perempuan akan mengalami perbandingan yang sangat besar. Bisa mencapai perbandingan laki-laki dan perempuan 1:50 . Berikut ini sedikit ulasan mengenai hal itu dari sisi genetika. Semoga bermanfaat
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Salah satu ciri makhluk hidup adalah
berkembang biak. Untuk melakukan perkembangbiakan, umumnya diperlukan dua
individu dimana satu individu berperan sebagai pejantan dan satu yang lain
berperan sebagai betina. Hal ini terlihat dengan jelas terutama pada makhluk
hidup tingkat tinggi, termasuk manusia. Kedua kelamin yakni jantan dan betina ditentukan oleh suatu
proses yang disebut determinasi seks.
Determinasi seks atau penentuan jenis
kelamin dapat dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor lingkungan dan faktor
genetik (Widianti et all 2012).
Faktor lingkungan meliputi suhu, kelembapan udara, dan semua faktor lain yang
berasal dari luar individu. Faktor kedua adalah faktor genetik, yakni faktor
yang berasal dari dalam individu dan diturunkan dari induk kepada keturunannya.
Pada manusia, faktor genetik yang dimaksud
adalah dua kromosom seks yang terdiri dari kromosom X dan kromosom Y. Seseorang
akan memiliki jenis kelamin laki-laki manakala dia memiliki kromosom Y, atau
dengan kata lain pada tubuhnya ditemukan satu kromosom X dan satu kromosom Y.
Di sisi lain, seseorang akan memiliki jenis kelamin perempuan apabila dia tidak
memiliki kromosom Y atau dengan kata lain hanya ditemukan dua kromosom X pada
tubuhnya.
Dengan sepasang krosom seks, XX pada
perempuan dan XY pada laki-laki, diketahui bahwa untuk setiap perkawinan
kemungkinan terlahir anak laki-laki dan perempuan adalah sama, yakni
masing-masing sebesar 50 % sebagaimana terlihat pada gambar di bawah ini :
Gambar
1 Pola pewarisan kromosom
seks pada manusia
Dengan kemungkinan yang sama, seharusnya
jumlah anak laki-laki dan perempuan pada suatu tempat/daerah adalah sama atau
nyaris sama. Pada fakta di lapangan, dewasa ini, akan lebih mudah ditemukan
individu berjenis kelamin perempuan daripada individu berjenis kelamin
laki-laki. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa perbandingan anak laki-laki dan
perempuan mengalami perubahan yang signifikan pada generasi berbeda.
B. Rumusan
Masalah
Dari uraian di atas, dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut :
a. Bagaimanakah perbandingan
jumlah kelahiran anak laki-laki dan perempuan pada generasi yang berbeda ?
C. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah :
a. Mengetahui
perbandingan jumlah kelahiran anak laki-laki dan perempuan pada generasi yang
berbeda.
D. Manfaat
Manfaat
dari penelitian ini adalah :
a. Menambah
pengetahuan dan pengalaman tentang penerapan ilmu genetika terutama pada materi
determinasi seks melalui kegiatan membandingkan jumlah kelahiran laki-laki dan
perempuan pada generrasi yang berbeda
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kromosom Seks
Penentuan jenis kelamin atau determinasi
seks pada manusia ditentukan oleh kromosom X dan Kromosom Y. Secara lebih
lengkap dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Kromosom X
Kromosom X pada manusia berbentuk metasentrik.
165-Mb kromosom X manusia mengandung sekitar 1500 gene, dimana banyak diantara
gen tersebut memiliki fungsi yang berbeda pada jenis kelamin laki-laki dan
perempuan. Ujung kromosom X dan Y merupakan daerah pseudomonal regions (PAR) yaitu daerah rekombinasi selama meiosis
dan mempunyai gen yang sama atau homolog. Daerah khusus Nonpseudosomal regions kromosom X (NPX) dan kromosom Y (MSY) bukan
daerah rekombinasi satu sama lain, dan tidak mengandung gen dengan alel yang
sama. Perbedaan jumlah gen dari NPX dan MSY berpengaruh terhadap munculnya
perbedaan jenis kelamin antara organ XX dan XY (Mustofa 2009).
2. Kromosom Y
Kromosom Y pada manusia yang menentukan
apakah seseorang akan berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Kromosom Y
berbentuk akrosentrik. Perbedaan bentuk kromosom Y dan X menyebabkan ada bagian
yang homolog dan bagian yang non homolog. Kromosom Y berukuran lebih kecil dari
ukuran kromosom X. 60-Mb kromosom Y manusia hanya mengandung sekitar 50 gen
fungsional yang menempel pada sekuens DNA yang berulang. Perbedaan kromosom X
dan Y dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 2 Perbedaan
struktur dan kandungan informasi
genetik kromosom X dan Y
|
B. Deterrminasi seks manusia
Secara normal, perkembangan
parental organ genital pada laki-laki dan permpuan berlangsung sangat kompleks.
Jenis kelamin ditentukan oleh tiga faktor yakni kromosom, faktor gonad, dan
faktor hormonal. Pada embrio manusia, gonad mulai
berkembang menjadi tunas duktus mesonefrik pada minggu ke lima kehamilan.
Migrasi sel primordia ke dalam gonadal ridges terjadi antara minggu ke 4 – 6
kehamilan. Pada minggu ke 6, gonad menjadi indifferens, bipotensial, dan bisa
membentuk testis atau ovarium. Mereka terdiri atas sel germinal, epitel
(granulosa/sel Sertoli), mesenkim (theca/sel Leydig) dan sistem mesonefrik.
Duktus Müllerian dan Wolffian terdapat berdampingan. Adanya perbedaan seksual tersebut
memerlukan arah yang diatur berbagai gen, dengan faktor penentu gen tunggal
yang ada di kromosom Y, yaitu testes`determining faktor (TDF), yang diperlukan
untuk diferensiasi testicular, pada minggu ke 6 - 7 kehamilan (Karkanaki et al., 2007).
Gen Sry yang terletak pada lengan
terpendek kromosom Y, menyebabkan testis berkembang. Bagian tubulus seminiferus
pada testis selanjutnya mengeluarkan MIH (Mullerian
Inhibitor Hormon) yang mencegah perkembangan saluran mulleri ( tuba
vallopi, uterus dan vagina atas). Testis juga mengeluarkan hormon testosteron
yang memacu perkembangan struktur jantan di tempat lain termasuk di dalam otak.
Testosteron, yang berubah menjadi 5-DHT karena pengaruh enzim 5-alfa reduktase
dalam sitoplasma sel genitalia eksterna dan sinus urogenital, menyebabkan
terjadinya diferensiasi gonad laki-laki. Diferinsiasi yang dimaksud, terjadi
secara pada minggu 9-12 masa gestasi dan terbentuk sempurna sekitar minggu
12-14 masa gestasi.
BAB III
METODE
PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada pada tanggal 20 Mei-1 Juni 2014 di Desa Sadeng
dan Sekaran Kec. Gunungpati Semarang.
B. Subjek Penelitian
Subjek pada penelitian ini adalah warga
desa Sadeng dan desa Sekaran Gunungpati. Penelitian dilakukan pada beberapa RT
yang memiliki penduduk banyak.
C. Objek Penelitian
Objek yang akan dikaji pada penelitian
ini adalah perbandingan jumlah kelahiran anak-laki-laki dan perempuan dari keluarga
dengan KK berusia ≥ 60 tahun, dan KK berusia 40 tahun.
D. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitaian
deskriptif dengan mengambil sampel keluarga dengan KK berusia ≥60 tahun dan KK
40 tahun masing-masing sebanyak 35 keluarga. Keluarga yang digunakan sebagai
sampel selain memiliki KK dengan kriteria yang telah disebutkan, juga harus
memiliki keturunan minimal 3 orang. Semua keluarga yang berjumlah 70 keluarga
diambil dari daerah sadeng dan Gunungpati Semarang. Variabel pada penelitian
ini adalah jumlah anak laki-laki dan jumlah anak perempuan pada keluarga dengan
kriteria yang telah ditentukan. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode
angket dan observasi. Data selanjutnya dianalis dengan menggunakan analisis
deskriptif persentase, dan kualitatif.
BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN
A. Hasil
Dari
hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut:
1. Keluarga
Dengan Usia Kepala Keluarga ≥60 Tahun
|
NO
|
NAMA KK
|
Anak
Laki-Laki
|
Anak
Perempuan
|
|
1
|
Pak Saimo-Mukriyem
|
2
|
3
|
|
2
|
Pak Yato Wiyono-Katmi
|
2
|
2
|
|
3
|
Pak Trimo-Sarinem
|
4
|
-
|
|
4
|
Pak Randiyo-Parmi
|
4
|
3
|
|
5
|
Pak Manto-Miyem
|
2
|
4
|
|
6
|
TN 1
|
4
|
2
|
|
7
|
TN 2
|
6
|
1
|
|
8
|
TN 3
|
4
|
2
|
|
9
|
TN 4
|
4
|
1
|
|
10
|
TN 5
|
4
|
1
|
|
11
|
Pak Mulyanto-Sriyanti
|
3
|
1
|
|
12
|
PAK Ahmad Nur-Sriyuliana
|
2
|
1
|
|
13
|
Pak Mohadi-Rumanah
|
3
|
1
|
|
14
|
Pak Subardi-Naniek
|
2
|
1
|
|
15
|
Pak Syaefudin-Haniatun
|
3
|
3
|
|
16
|
TN 6
|
1
|
2
|
|
17
|
TN 7
|
4
|
1
|
|
18
|
TN 8
|
4
|
4
|
|
19
|
TN 9
|
6
|
2
|
|
20
|
TN 10
|
1
|
2
|
|
21
|
Pak Rohmat-Sutinem
|
1
|
5
|
|
22
|
Pak Kusno-Mukirah
|
3
|
3
|
|
23
|
Pak Madri-Waskinah
|
4
|
2
|
|
24
|
Pak Suyatno-Asih
|
5
|
1
|
|
25
|
Pak Hanggar-Wahyuningsih
|
2
|
1
|
|
26
|
Pak Soberi-Suminah
|
3
|
2
|
|
27
|
Pak Busro-Subiyah
|
3
|
3
|
|
28
|
Pak Sulaiman-Ami
|
3
|
3
|
|
29
|
Pak Daerobi-Umi Kulsum
|
2
|
4
|
|
30
|
Pak Asroni-Mudrikah
|
2
|
4
|
|
31
|
Sutikno
|
2
|
3
|
|
32
|
As’ad
|
2
|
1
|
|
33
|
Rukimin
|
3
|
-
|
|
34
|
Maskan
|
2
|
1
|
|
35
|
Juraemi
|
3
|
-
|
|
Total
|
105
|
67
|
2. Keluarga Dengan Usia
Kepala Keluarga 40 tahun
|
NO
|
NAMA KK
|
Anak
Laki-Laki
|
Anak
Perempuan
|
|
1
|
Pak Suyetno-Karti
|
4
|
-
|
|
2
|
Pak Sugiyanto-Santi
|
2
|
1
|
|
3
|
Pak Samino-Kasinem
|
1
|
2
|
|
4
|
Pak Satimo-Narmi
|
2
|
2
|
|
5
|
Pak Pardi-Karni
|
1
|
2
|
|
6
|
TN 11
|
1
|
2
|
|
7
|
TN 12
|
1
|
3
|
|
8
|
TN 13
|
-
|
3
|
|
9
|
TN 14
|
2
|
2
|
|
10
|
TN 15
|
1
|
2
|
|
11
|
Pak Sudiran-widiastuti
|
3
|
1
|
|
12
|
Pak Sularto-Supiyati
|
-
|
2
|
|
13
|
Pak Ali Yudi-Kunarti
|
-
|
2
|
|
14
|
Pak Asnawi-Sri Suparti
|
-
|
2
|
|
15
|
Pak Abdul Royid-Sa’adatul
|
1
|
2
|
|
16
|
TN 16
|
3
|
1
|
|
17
|
TN 17
|
1
|
3
|
|
18
|
TN 18
|
2
|
1
|
|
19
|
TN 19
|
3
|
4
|
|
20
|
TN 20
|
5
|
5
|
|
21
|
Pak Wahyudin-Wahyuningsih
|
1
|
2
|
|
22
|
Pak Sutikno-Tri
|
1
|
2
|
|
23
|
Pak Selamet –Rukini
|
1
|
2
|
|
24
|
Pak Pasmo-Tukini
|
1
|
2
|
|
25
|
Pak Fajar-Nana
|
-
|
5
|
|
26
|
Pak Suyono-Ani
|
3
|
1
|
|
27
|
Pak Soim-Mona
|
1
|
3
|
|
28
|
Pak Saeri-Tarni
|
4
|
-
|
|
29
|
Pak Fadli-Harti
|
1
|
5
|
|
30
|
Pak Damoni- Mun
|
3
|
1
|
|
31
|
Sutikno
|
2
|
3
|
|
32
|
As’ad
|
2
|
1
|
|
33
|
Rukimin
|
3
|
-
|
|
34
|
Maskan
|
2
|
1
|
|
35
|
Juraemi
|
3
|
-
|
|
Total
|
56
|
73
|
*TN = Tanpa Nama, hal ini karena human error berupa lupa mencatat nama KK
B.
Analisis Data
1.
Analisi kelahiran anak dengan kepala keluarga berusia ≥ 60 tahun
a.
Jumlah kelahiran anak dengan KK ≥ 60 tahun
= Jumlah anak laki-laki + Jumlah
anak perempuan
= 105 anak
+ 67 anak
= 172 anak
b. %
kelahiran anak laki-laki =
x 100%
=
x 100%
= 61
%
c.
% kelahiran anak
perempuan =
x 100%
=
x 100%
= 39
%
d.
Perbandingan antara kelahiran laki-laki : kelahiran perempuan = 61% : 39 %
2.
Analisis kelahiran anak dengan kepala
keluarga berusia 40 tahun
a.
Jumlah kelahiran anak dengan KK 40 tahun
= Jumlah anak laki-laki + Jumlah
anak perempuan
= 56 anak
+ 73 anak
= 129 anak
b. %
kelahiran anak laki-laki =
x 100%
=
x 100%
=
43,4 %
c.
% kelahiran anak
perempuan =
x 100%
=
x 100%
= 56,6
%
d.
Perbandingan antara
kelahiran laki-laki : kelahiran perempuan =
43,4% : 56,6 %
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil
analisis data, dapat diketahui bahwa pada keturunan dengan kepala keluarga (KK)
berusia ≥ 60 tahun, kelahiran
anak laki-laki memiliki jumlah kelahiran lebih banyak daripada kelahiran anak
perempuan. Dengan demikian, persentase kelahiran anak laki-laki juga lebih
tinggi jika dibandingkan dengan persentase kelahiran perempuan.
Di sisi lain, pada
hasil analisis juga dapat diketahui bahwa pada keturunan dengan kepala keluarga (KK) berusia 40
tahun kelahiran anak laki-laki memiliki jumlah kelahiran lebih sedikit daripada
kelahiran anak perempuan. Jadi, persentase kelahiran anak laki-laki juga lebih
rendah jika dibandingkan dengan persentase kelahiran laki-laki.
Perbandingan antara
kelahiran anak laki-laki pada keluarga dengan KK berusia ≥ 60 tahun dengan KK berusia 40 tahun adalah 61%
berbanding 43,4% dan 33% berbanding 56% untuk kelahiran anak perempuan.
Terlihat pada jarak selama 20 tahun, angka kelahiran laki-laki baik dalam
jumlah maupun persentase mengalami penurunan. Di sisi lain, angka kelahiran
perempuan baik dari jumlah dan peresentase mengalami kenaikan signifikan.
Kondisi ini
mengindikasikan adanya suatu evolusi, terutama pada kromosom Y yang menentukan
seseorang akan berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Graves (2002),
menyatakan bahwa kromosom Y mengalami semacam evolusi dengan menghilangnya
beberapa gen yang ada pada kromosom Y. Hal ini dibuktikan melalui penelitan
Graves pada mole voles , sejenis
rodentia atau hewan pengerat dari genus Ellobius.
Gen awal pada kromosom
Y untuk genus Ellobius selain
mengandung gen Sry juga mengandung Rbmy dan Ube 1y. Secara perlahan dan dalam
waktu relatif singkat, Rbmy dan Ube 1y menghilang dan tidak lagi ditemukan pada
kromosom Y. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 4 Proses
hilangnya gen dari kromosom Y pada mole voles (genus Ellobius)
Pada genus ini, gen Sry ditemukan tiada pada dua
spesies yakni E. lutescens yang
masing-masing jenis kelamin memiliki XO, dan E. trancei yang masing-masing memiliki XX dengan salah satu X
inactive pada salah satu jenis kelamin. Pada spesies ketiga yakni E. fuscopillus kedua jenis kelamin pada
spesies ini masih memiliki XY dan XX secara sempurna. Meskipun demikian tidak
terjadi kebingungan jenis kelamin, karena fungsi dari gen-gen pada Y digantikan
oleh gen-gen lain yang ada pada X.
Grave (2002),
menghitung secara sederhana tentang kromosom Y pada manusia. Jumlah gen pada
kromosm Y yang telah hilang, dapat berasal dari sejumlah gen yang ada dan
ditemukan pada kromosom Y lebih dari seratus ribu tahun yang lalu. Jadi, bagian
yang non homolog antara Y dan X kemungkinan pada masa terdahulu merupakan
bagian yang homolog. Setidaknya terdapat
995 gen yang hilang sejak Y mulai berdiferentiasi sekitar 170-310 juta tahun
yang lalu, atau 3-6 gen yang hilang untuk setiap tahun.
Kehilangan gen ini kemungkinan
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah kelahiran anak laki-laki
pada hasil penelitian di atas. Jika kondisi berkurangnya gen pada Y terus
terjadi, maka tidak menutup kemungkinan kromosom Y pada manusia akan hilang dan
menimbulkan ledakan jumlah populasi perempuan. Hal ini, lantaran hanya pada kromosom
Y dapat ditemukan gen Sry. Gen Sry sendiri merupakan gen yang menyebabkan
testis berkembang utnuk kemudian menghasilkan testosteron (Mustofa, 2002). Kemungkinan lain apabila Y hilang adalah
tergantikannya peran Sry dengan suatu gen sebagaimana terjadi pada Ellobius.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
1. Terjadi perbedaan
antara jumlah kelahiran laki-laki dan perempuan pada generasi yang berbeda
B. Saran
1. Pengambilan data
jumlah kelahiran anak laki-laki dan perempuan dilakukan tidak hanya untuk dua
generasi saja, sebaiknya ditambah sehingga hasil yang didapat lebih terlihat
2. Pengambilan data
disertai juga dengan data pendukung berupa data hasil observasi pada instansi
pemerintahan seperti kantor kecamatan atau kelurahan
Daftar Pustaka
Graves, J.A.M. 2002. The
Rise and fall of SRY. TRENDS in Genetics
18 (5) : 259-264
Karkanaki A, Prras N, Katsikis I,
Kita M, Panidis D. 2007. Is the Y Chromosome all that s required for sex
determination ? Hippokratis 11(3): 120-123
Mustofa, Samsul. 2009. Peran
Kromosom saeks Terhadap Perkembangan Otak. Majalah
Kesehatan Pharma Medika 1 (2) : 54-60
Widianti, Tuti et all. 2012. Buku Ajar Genetika. Semarang : Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang