Mau bagaimanapun ia turun hujan selalu mengundang banyak kenangan akan masa lalu dan doa akan masa depan. Tanpa kegiatan yang jelas, hujan dan kondisi sepi asrama mengundang rasa kantuk pada banyak mahasiswa PPG. Syukur saja kopi di blek tango masih ada. Sedikit tambahan amunisi untuk menunda rasa kantuk menjadi pemenang. Sedikit cerita tentang teman-teman di asrama PPG.
Ada beberapa hal yang terjadi yang tentunya bisa diceritakan untuk diambil pelajarannya. Terutama masalah cinta. Balik lagi, untuk soal yang satu ini, mau dibahas bagaiamanapun tidak ada habisnya. Suatu kisah yang sama sekalipun jika pelakunya berbeda, ya tetap berbeda. Belum lagi beda waktu terjadi, ya jelas semakin berbeda. Hal yang ingin aku soroti dari kisah ini adalah tentang lisanku dalam memanas-manasi hubungan seseorang. Bukan sekadar memanas-manasi, tapi mengarahkan hubungan mereka kepada ranah pernikahan. Aku memang sampai saat ini belum pernah menikah, tapi banyak teman yang percaya dan menjadikanku “pembuangan” tempat mereka menceritakan apa yang mereka risaukan.
Jika di kalimantan berhasil memanas-manasi Rudi Tan Seda. Kemudian muncul nama Gilang, sekarang tentang dua orang mahasiswa ppg asrama putra. Hamid dan Dihan. Dua orang kawan yang saat itu ada bersama di dalam kamar asarama putra denganku. Keduanya bercerita tentang masalah mereka dengan tema yang sama, bingung masalah pernikahan. Satu orang masih merasa takut unutk menikah padahal orangtua sudah mengejar-ngejar. Satu yang lain masih bingung dengan hubungannya saat itu. Seperti biasa, aku jelaskan semampuku apa yang aku ketahui dan aku bagi dengan keduanya. Tentu saja berdasarkan literatur dan pengalaman dari perjalanan saudara-saudaraku. Dari situ, mulailah keduanya sedikit berubah. Dihan yang semula cuek dengan calonnya kini cukup terlihat intens dalam berkomunikasi. Hamid, lebih-lebih, nyaris setiap mau tidur dan bangun tidur selalu telponan, haha. Sejauh ini, aku cukup berhasil memanas-manasi mereka. Hamid mulai serius memikirkan bagaimana langkah selanjutnya untuk serius dengan hubungan yang ia miliki. Sejauh ini dia sudah bertemu dengan kedua orangtua dari perempuan yang dia suka. Seorang diri, tanpa ada yang menemani. Dia juga sudah mulai memikirkan langkah selanjutnya untuk melakukan lamaran dan tahap berikutnya. Cukup detail yang pernah kami diskusikan hingga urusan teknis termasuk biaya lamaran. Sampai menghitung berapa persen dari hasil panennya yang harus digunakan untuk melamar. Semoga saja usai PPG atau kalau bisa sebelum PPG selesai lamaran sudah ia lakukan. Aamin. Dihan juga kurang lebih sama. Dia yang sudah lamaran kini lebih sering berbincang dengan ibunya perihal teknis. Hal yang dulu sempat dia hindari. Alhamdulillah, kini dia juga sudah berani mentargetkan dirinya untuk menikah di tahun 2018.
Lalu bagaimana dengan diriku ?
Mereka tentu saja sempat bertanya. Aku jawab sebisaku. Saat ini, calon yang aku ajukan masih belum mendapatkan rido dari orangtuaku terutama mama. Mungkin 1-1,5 tahun lagi aku baru menikah. Dihan pun bertanya, “Jika pada tahun itu misal kamu belum bekerja apa kamu tetap akan menikah?” “Insya Allah. Yang penting sudah dapat rido orangtua. Selagi keduanya masih hidup, carilah rido keduanya. Insya Allah semua akan dipermudah.” Jawabku.
Tentu saja, itu juga dikembalikan pada si calon mempelai wanita.
Apakah ia mau denganku dengan kondisiku semisal seperti itu atau tidak.
Tentang calon yang aku ajukan kemudian ditolak oleh mama, awalnya tentu saja sedih.
Dasar laki-laki, ditolak pun tetap mengajukan lagi, dan sampai aku ajukan untuk kelima kalinya dengan jarak dan waktu yang berbeda lah ko jawabannya tetap sama. Kekeuh. Akhirnya, mulailah aku terbiasa. Menyadari apa yang ada, diri mulai menata hati dengan hal-hal yang baik. Insya Allah, jika sudah waktunya nanti akan datang calon yang sesuai. Karena bagaimanapun juga janji Allah itu pasti, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik. Hanya saja, sampai saat ini aku belum memberi penegasan pada calonku itu. Semoga ia bisa menerima kondisi ini. Semoga saja.




