Mengeluh.
Saat ini mungkin mengeluh sudah menjadi 'skill' yang tertanam dan muncul sejak usia belia. Salah satu bukti yang dapat kita lihat adalah reaksi para siswa selepas mengerjakan UN berbasis komputer. Tanggapan - tanggapan miring yang mungkin diniati sebagai bercandaan dapat kita baca dengan mudah dari berbagai sumber. Padahal, sekarang ini UN bukan seratus persen penentu kelulusan siswa. Walaupun tidak se 'menegangkan' UN di beberapa tahun yang lalu, ujian tetap ujian. Pasti deg-degan, butuh persiapan, dan yang kurang siap pasti, lagi-lagi mengeluh.
Mengeluh juga nampak pada beberapa kalangan pendidik dan calon pendidik. Sarat yang tidak mudah untuk menjadi seorang pendidik dirasa tak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan ketika sudah mendidik. Alumnus program x membandingkan dirinya dengan alumnus program Y. Masing-masing melihat keunggulan program lain dan lupa pada keunggulan yang diterimanya sendiri.
Masing-masing melihat kekurangan dari program yang ia ikuti tapi lupa melihat pada kekurangan program yang lain.
Ah,, aku juga sepertinya terkena virus mengeluh itu. Dapat order hingga 10juta dengan permintaan ini itu, kemasan harus ini, jumlah harus segini, beuh.
Tapi kembali lagi, hidup bukan untuk terus mengeluh tapi untuk bersyukur dan berjuang. Banyak orang yang ingin berada di titik kita saat ini bahkan sangat siap jika diajak bertukar tempat.
Selalu bersyukur dan beradaptasi dengan perubahan yang ada akan lebih baik daripada mengutuk keadaan.
Mereka yang mampu beradaptasi lah yang akan terus bertahan.
Meraka yang mampu dan terus bersyukur lah yang akan ditambahi nikmat.