Selamat datang September. Itu yang aku
katakan pada diriku sendiri setelah bangun dari tidur. Tentu saja, sebelum itu
aku bersyukur atas nikmat Allah karena masih dikaruniai hidup. Udara masih
terasa dingin. Lamat-lamat aku dengar suara air mengalir. Aku lantas mengambil
senter dan berjalan menuju ke arah sumber suara. Alhamdulillah, ternyata air
dari bukit yang dilewatkan dengan pipa menuju rumah tempatku tinggal mengalir
kembali. Pagi ini, alirannya cukup deras. Namun karena masih mengantuk, aku
lebih memilih kembali ke kamar hehe. Entahlah, hari itu aku merasa semua badan
terasa sakit. Masuk angin mungkin.
Baru setelah sholat subuh lah,
aktifitas mengisi gentong-gentong dan berbagai wadah air (mulai dari ember,
panci, dandang dan baskom) dimulai. Karena aliran air pagi ini cukup deras,
maka pengisian air tidak memakan waktu yang lama. “Lumayan yah mas, bisa
dipakai untuk cerita di Jawa,” kata Ibu Tini, Isteri Pak Pur. Beliau adalah Ibu
angkat sekaligus Isteri dari Bapak Kepala Sekolah.
Betul, Kami bertiga bersama-sama
menempati satu tempat tinggal. Sebuah rumah babinsa dengan 2 kamar tidur, sebagaimana
telah aku ceritakan sebelumnya. Kehadiranku dalam rumah itu, mungkin sedikit
mengisi nuansa baru (atau mungkin malah mengganggu?) bagi pasangan Bapak dan Ibu
Pur. Sampai hari ini, beliau berdua masih belum dikaruniai keturunan. Semoga
saja tahun ini, sebelum aku kembali ke Jawa mereka berdua sudah dikarunia
keturunan. Amin.
Tapi, kata temanku, sebut saja Sishol
(:P), kehadiranku itu paling tidak membuat waktu mereka untuk menikmati waktu
menjadi terganggu, haha. Betul juga sih. Ya mau bagaimana lagi, lah aku mau
nyewa rumah sendiri juga nda di izinkan beliau bertiga, malah kamare ndadak dicat anyar barang haha. Belum lagi baru
beberapa hari setelah aku tinggal aku mengetahui fakta bahwa ternyata Ibu
setiap tanggal 3-16 an setiap bulannya berangkat menuju Sanggau untuk berdagang
kain dan baju. Otomatis, waktu intens antara Bapak dan Ibu juga berkurang.
Sebagaimana doaku (setiap ingat) semoga, bagaimanapun kondisi beliau berdua,
semoga tahun ini kebahagian mereka bisa menjadi lebih lengkap dengan hadirnya
seorang anak.
Berbicara tentang anak, hari ini aku
tampil perdana di depan anak-anak kelas 8 dengan materi sistem gerak. Lengkap sudahlah
aku mengajar di kelas 7,8 dan 9 SMPN 4 Tayan Hilir untuk mata pelajaran IPA.
Ada juga jam tambahan berupa mata pelajaran TIK kelas 8 dan 9. Untuk kelas 8
baru akan masuk pertama besok, hari Rabu. Sejauh ini, aku masih mencoba untuk
mengenal anak-anak lebih dekat, meskipun tetap harus ada batasan antara kami.
Harapannya, agar mereka tidak sungkan untuk bertanya perihal apa-apa yang aku
ajarkan dan yang belum mereka pahami. Sekalipun aku tidak menjamin seratus persen
bahwa semua yang mereka tanyakan akan
aku jawab dengan baik dan memuaskan, setidaknya dengan keterbatasanku (di sini
tanpa sinyal dan listrik) aku ingin berusaha sebisa mungkin menghantarkan
mereka pada pemahaman yang lebih.
Tidak selamanya bukan murid selalu di
bawah guru atau kemampuan guru selalu di atas murid? Justru harusnya guru
berbangga jika murid bisa melampaui kemampuan guru. Kondisi dimana siswa mencapai
titik yang lebih tinggi dari apa yang pernah diajarkannya. Aku juga ingin terus
berproses. Bukankah begitu seharusnya? Guru dan murid sama-sama berproses.
Berproses untuk menjadi lebih baik. Meminjam kata-kata Ka Ricky Elson, kita
terus berproses, membangun diri, membangun Negeri.
#Inilah Indonesia Mam. Bukan hanya
Semarang, Jogja, Solo, Magelang, Bandung, Jakarta dan Bali. Inilah bagian dari
salah satu pulau terbesar di Indonesia. Kalimantan. Selamat! karena sudah
berada di sini lebih dari satu minggu. Setidaknya sampai saat ini, inilah waktu
terlama berada di luar Pulau Jawa. Tentu saja besok, lusa dan hari-hari
seterusnya akan menjadi pencapaian-pencapaian baru. Mari kita nikmati segala
keterbatasan yang ada. Bukankah menjadi suatu hal yang romantis (:P) ketika
menelpon keluarga harus dengan berdiri bahkan berjinjit? Bahkan tidak menutup
kemungkinan menelpon dengan terlebih dahulu mendaki bukit ? Menerima SMS
setelah mengerek HP di tiang bendera? Atau kenikmatan dan keasyikan serta
tantangan lain semacam mandi di sungai, bertemu setiap hari dengan babi dan
anjing yang dilepas bebas, dan menjadi Dai dan guru ngaji dadakan? Teruntuk
diriku sendiri dan kawan-kawan SM3T se-Indonesia dimanapun kalian ditugaskan, apapun
keterbatasan (baca:kenikmatan) yang ada dan kalian dapatkan, enjoy sajalah. Tak
usah berkeluh kesah karena itu justru akan menambah beban bagi kita sendiri.
Ingat-ingat lagu pramuka.
Apa guna keluh kesah...
Apa guna keluh kesah ...
Pramuka tak pernah
bersusah...
Apa guna keluh
kesah.....
Tetaplah semangat hai diriku, hai
jiwa-jiwa muda yang terpanggil untuk mengabdi dan mencemburkan diri dalam
masyarakat baru di pelosok nusantara. Kamu kuat, dan kamu hebat. Hai diriku dan
kawan-kawan SM3T, jangan lupa untuk terus mengupgrade dan meluruskan niat kita.
Lakukan yang terbaik, perihal gaji, tunjangan, beasiswa PPG dan lain-lain itu
hanyalah bonus semata. Jangan menjadikannya sebagai tujuan utama. J
***
Masih di awal September. Udara sore
hari ini terasa panas. Aku dan Pak Pur melakukan sedikit olahraga dengan
bermain bulutangkis di lapangan sekolah. Satu set pertama aku menang dari Pak
Pur. Set kedua, Pak Pur digantikan oleh salah satu tetangga (yang maaf karena
namanya saya lupa). Karena posisiku yang berganti dan menghadap ke matahari
secara langsung, ditambah dengan kemampuan mengolah cock yang baik maka aku
kalah pada set kedua tadi. Oh ya, perlu dijelaskan dulu, bahwa di sekolah
terdapat tiga jenis lapangan. Pertama adalah lapangan voli, kedua adalah
lapangan futsal, dan ketiga adalah lapangan bulutangkis. Semua fasilitas
tersebut secara defacto dan dejure adalah milik sekolah. Namun pada preaktik di
lapangan, ketiganya digunakan secara umum oleh warga di sekitar lingkungan
sekolah. Mengingat jumlah sarana yang terbatas, maka setiap cabang (voli,
futsal dan badmintaon) menggunakan sistem gugur. Maksudnya, sekali kalah
langsung diganti, baru ketika yang lain ada yang kalah bisa bermain lagi.
Karena sistem itu pulalah, pak Pur yang kalah dariku pada set pertama langsung
digantikan. Baru setelah aku kalah di set kedua, pak Pur masuk dan bermain
kembali.
Sesuai rencana, aku ijin terlebih
dahulu meninggalkan lapangan badminton untuk menuju bukit cinta :D. Bukit dekat
sekolah, dimana biasa ada sinyal yang cukup stabil untuk menelpon. Hasil
komunikasi dengan teman-teman, aku mendapat info bahwa kawan SM3T penempatan
Sambas yang mengalami kecelakaan sudah bisa kembali beraktifitas secara normal.
Alhamdulillah. Kabar selanjutnya datang dari wakorkab Sanggau, Mas Arif.
Alhamdulillah, kali ini dia dapat aku hubungi setelah satu minggu tidak ada
kabar. Mas Arif berkata bahwa sudah ada keputusan dari dinas terkait penempatan
yang diterima oleh ke empat anggotaku, yakni Maya, mas ajiz, mas heru dan mas
arif. Maya positif dipindahkan menuju ke SDN 7 Mangkau sementara ketiga kawan
yang lain tidak mengalami pemindahan tugas. Dengan demikian, terjadi pemindahan
posisi jika diurutkan dari jarak terdekat-terjauh menjadi maya, mas ajiz, mas
heru dan di ujung entikong baru ada mas arif. Jarak antara sekolah menuju ke kecamatan
entikong menurut mas Arif adalah sekitar 3 jam.
Nada suara mas Arif menampakkan rasa
yang tidak biasa. Seingatku, nada bicara yang beberapa kali aku dengar pada
saat prakondisi adalah nada suara dengan semangat dan keceriaan. Sore tadi
terasa berkurang. Semoga saja beliau sehat-sehat di sana. Mungkin, mas Arif
merasa kaget dan terkejut dengan keputusan yang diberikan oleh Dinas, padahal
mas Arif sudah berusaha menghubungi
jajaran dinas dan Pak Sokheh juga, namun keputusan tetap seperti semula.
Hanya satu yang mengalami pemindahan tugas. Hal yang menjadi faktor
keterkejutan mas Arif mungkin adalah fakta bahwa dusun tempat dia akan
ditugaskan, yang terdiri atas 66 KK, semua beragama non muslim. Otomatis tidak
ada masjid. Jarak dengan masjid di kecamatan entikong dapat ditempuh dengan
ojek yang harus dibayar sebesar 300 ribu rupiah sekali PP. Bisa dibayangkan
jika setiap Jumat beliau harus turun ke kecamatan untuk sholat Jumat. Tekor
juga lah. Semoga saja mas Arif bisa lebih legowo, diberikan kesehatan,
keikhlasan, kekuatan dan kesabaran ekstra untuk menjalani pengabdian satu tahun
kedepan. Doa serupa juga untuk kawan-kawan SM3T Sanggau pada khususnya dan Kab
lain pada umumnya.
Refleksi hari ini ditutup dengan
pembelajaran budaya melayu. Sedikit kosa kata baru.
Ngala=singkong
Pak Ulung = Bapak (anak sulung)
Pa Su/ Pa Usu = Bapak (anak bungsu)
Pak Nis = Bapak (anak kelima)
Pa Unggal = Bapak tunggal
Among
(melayu sambas) = digunakan untuk memanggil orang dengan nama yang sama persis
misal imam dengan imam