Lembar-lembar Sedekah
Entah mulai kapan pastinya, saya sendiri kurang begitu tahu pasti.
Sebuah folder, dengan nama folder “Menuju Sukses” secara maraton berpindah dari
satu mahasiswa ke mahasiswa lain di jurusan Biologi Unnes. Dilihat dari nama
folder itu, seharusnya kita sudah bisa menebak bahwa isi dari folder itu
bukanlah sesuatu yang negatif. Apalagi karena folder itu dikopi oleh banyak
mahasiswa baik laki-laki maupun perempuan, tentu bukan hal negative bukan?
Saya sendiri, mendapatkan folder itu dari seorang teman, pada saat saya
semester 9 menjelang semester 10. Lama juga ya saya kuliah s1-nya, hehe. Folder
itu, berisi beberapa file yang semuanya berupa teks dalam eksetensi .doc (Ms
Word). File pertama di folder itu, terdiri dari kurang lebih 5 lembar langkah-langkah
yang perlu dilakukan oleh seorang mahasiswa, tentu saja dari jurusan biologi, menuju
tahap wisuda. Langkah pertama dibuka dari persiapan menuju TA1 atau seminar
proposal. Sebagai informasi saja, bahwa tidak semua jurusan bahkan dalam satu
fakultas yang sama, mengadakan seminar proposal. Banyak jurusan yang hanya
mengadakan sidang skripsi tanpa di dahului oleh seminar proposal. Jadi, asal
dosen pembimbing ok dengan proposal yang kita buat, kita bisa langsung
mengambil data. Hal itu tidak seperti yang harus saya dan teman-teman di
jurusan biologi lewati. Kami harus
terlebih dahulu melakukan seminar proposal sebelum mengambil data. Itupun
terkadang masih harus merevisi terlebih dahulu hasil seminar proposal agar
mendapatkan acc pengambilan data di lapangan.
Langkah kedua yang ada di lembaran berikutnya adalah langkah menuju TA II
atau ujian/sidang skripsi. Tentu saja, untuk melakukan sidang skripsi ada
beberapa syarat yang harus saya lalui sesuai dengan yang tertera di lembar
langkah-langkah menuju sukses. Syarat yang dimaksud meliputi fotokopi KRS,
transkrip nilai, kartu siap ujian, draft skripsi yang telah di acc dosen
pembimbing, bimbingan yang telah diakhiri (minimal 12 kali bimbingan), kartu
telah menghadiri ujian TAI sebanyak minimal 20 yang dibuktikan dengan paraf
dosen-dosen penguji di masing-masing TAI yang dihadiri dan undangan ujian
skripsi. Saya ingat, bahwa saya mengumpulkan tanda tangan TAI sejak sebelum
semester 6, karena tidak selalu ada TAI dan tidak setiap TAI saya dating dan
membawa kartu kuning itu. Pada tahap ini saja, sudah terlihat cukup ribet,
namun tentu saja seribet-ribetnya urusan administrasi, masih kalah dengan
semangat mahasiswa yang akan sidang dan berharap cepat lulus.
Setelah langkah kedua selesai ternyata, masih banyak langkah-langkah
yang harus dilakukan muali dari bimbingan revisi sampai dapat acc 3 dosen,
bimbingan artikel dan poster, bebas lab jurusan, bebas lab jurusan, bebas lab
pusat, hingga mendaftar wisuda. Sehingga sangat wajar, manakala seorang mahasiswa
biologi merasa senang melihat satu demi satu dari langkah-langkah yang tertulis
di lembar menuju sukses tercoret atau telah di beri tanda centang.
Lalu siapakah yang meluangkan waktu untuk kemudian menulis
langkah-langkah menuju sukses berikut dengan contoh-contoh dari surat-surat
yang diperlukan? Siapapun itu, menurut saya, dia telah melakukan suatu hal
sederhana yang sangat bermanfaat. Hal kecil yang berdampak besar (meskipun
masih dalam lingkup jurusan) dan semoga
dicatat juga sebagai suatu nilai ibadah. Ah, ya, begitulah yang saya ingat.
Sedekah bisa kita lakukan dengan apa yang kita mampu dan miliki. Dan dia, sang
penulis dari folder itu, memberikan pelajaran pada saya, pada teman-teman di
jurusan biologi, dan semoga pada Anda, bahwa melakukan sedekah itu sederhana,
bahwa berbagi pasti menimbulkan suatu solusi. Lakukan dengan apa yang kita
miliki, bahkan semiskin-miskinnya kita, kita masih memiliki otak untuk
berfikir, masih memiliki wajah untuk tersenyum dan masih banyak nikmat-Nya yang
bisa kita gunakan untuk berbagi, untuk bersedekah.
SPBN
SPBN
SPBN -Sarjana Pengangguran Beban Negara. Semoga kita yang akan dan sudah lulus tidak
masuk ke dalam golongan ini. SPBN sendiri pertama kali saya dengar dari seorang
teman dekat yang kuliah di salah satu
kampus Negri di Semarang. Saat itu, saya baru beberapa hari selesai sidang skripsi
dan tengah menyelesaikan revisi dari penguji. Saat bertemu dengan teman saya
yang akrab disapa poli, saya seperti biasa memberikan salam dan mengulurkan
tangan untuk berjabat tangan. Saat berjabat tangan itulah pertama kali saya
mendengar istilah ini. Seingat saya, seperti inilah kalimat yang diucapkannya
pada saat kami berjabat tangan, “Selamat mam…selamat jadi beban Negara”. “Jleb!”
Saat saya mendengar istilah ini pertama kali, saya kaget dan merasa seperti ada
sesuatu yang mengganjal, mungkin istilah
sekarang “Sakitnya tuh disini …(sambil nunjuk hati)”. Ucapan itu, menurut saya
cukup sarkastik alias bernada menyindir dan masuk dalam sindiran garis keras.
Sebenarnya,
tanpa dibilang bahwa mahasiswa fresh
graduate atau pun menjelang lulus dan belum memiliki pekerjaan sebagai
kelompok SPBN pun aku sudah memikirkannya, meskipun dengan istilah yang
berbeda. Ya, setidaknya sebagai
mahasiswa yang pernah dikasihani negara (penerima beasiswa) selama dua periode, aku sadar bahwa aku
harus memiliki kontribusi aktif kepada masyarakat sebagai balasan atas dana yang aku peroleh. Jika
ditelusuri tentu saja dana yang aku peroleh berasal dari uang Negara
yang mana salah satu sumber pemerolehannya adalah pajak yang dibayarkan oleh
masyarakat baik dari kalangan atas, menegah hingga lapisan bawah.
Aku hanya
jujur saja saat ditanya oleh poli, apa yang bakal aku lakukan terutama waktu
menunggu wisuda. Tentu saja, setelah semua administrasi berkaitan dengan wisuda
selesai aku ingin pulang dan bertemu dengan orangtuaku. Aku ingin sejenak
beristirahat dan merefresh kembali isi kepala sebelum kembali lagi pada
rutinitas dan dunia kerja. Setidaknya selama 1-2 minggu. Toh, aku juga merasa
tidak tega jika mendengar cerita mama
bahwa abah mengalami sakit di bagian perut. Tempat dimana luka operasinya
berada. Wajar bukan jika aku ingin pulang dan sedikit jalan-jalan?
Sebenarnya
aku sudah mengutarakan apa rencana ku pada salah satu kakak ku untuk mengisi 3
bulan menunggu waktu wisuda. Namun, menurut mba, lebih baik jika aku dirumah
dulu, membantu orang tua, sembari mengajar di sekolah-sekolah dekat rumah.
Menurutnya itu lebih baik dari rencana baik milikku. Rencana ini tentu saja
tidak bisa aku ceritakan pada poli, sekalipun dia salah satu teman karibku.
Dari
kejadian ini, aku kembali berpikir bahwa ternyata memang masyarakat pada
umumnya memiliki gambaran demikian. Seseorang yang telah menyelesaikan
pendidikannya harus dengan segera mendapatkan pekerjaan yang jelas dan memiliki
“kantor”. Tidak perduli apakah penilai itu lulusan dari pendidikan tingkat yang
mana, pandangan seperti itu tetap berlaku. Jika demikian, lalu bagaimana dengan
orang-orang yang mengisi hari-harinya dengan pengabdian, dengan hal-hal
positif, dan tidak memiliki “kantor”? Bagaimana jika mereka malah memiliki
kepuasan batin dan memberikan kebermanfaatan lebih banyak untuk orang-orang
sekitar dari mereka yang sudah memiliki kantor dan pekerjaan?
Hmm…
entahlah. Yang pasti akan lebih bagus jika kita sudah selesai dari suatu
pendidikan, kita bekerja, berkantor dan tentu saja memiliki kontribusi dan
hal-hal positif untuk orang-orang sekitar. Semoga kita menjadi salah satu
bagian didalam golongan ini. Amin
Sekedar pengingat--> tweet dari pak Ridwan kamil…
Sekedar pengingat--> tweet dari pak Ridwan kamil…
"Jika kita tidak bisa memberi solusi. Janganlah kita ikut membebani."
Bismillah
semoga ada rezeki untuk melanjutkan studi ke jenjang berikutnya.
Syukur jika bisa dapat beasiswa.
Jikapun tidak bisa ya tetap kerja biar bisa lanjut sekolah (sambil tetep ngajuin beasiswa)
Bismillah
Setapak demi setapak
Syukur jika bisa dapat beasiswa.
Jikapun tidak bisa ya tetap kerja biar bisa lanjut sekolah (sambil tetep ngajuin beasiswa)
Bismillah
Setapak demi setapak
Air mata
Sungguh, saat sebuah mata air hilang dari suatu tempat, maka yang tertinggal hanyalah kekeringan, gersang, dan kematian perlahan. Begitulah yang dapat kita lihat dari beberapa mata air yang ada di bumi dan yang kemudian mati tidak lagi berfungsi.
Mengutip dari pernyataan seorang kaka kelas, (kurang lebih seperti ini) "Sungguh tiada air mata yang (mudah) menetes kecuali di dalamnya ada hati yang teduh" (Betty, 2010).
Apa kabar hati?
Mengutip dari pernyataan seorang kaka kelas, (kurang lebih seperti ini) "Sungguh tiada air mata yang (mudah) menetes kecuali di dalamnya ada hati yang teduh" (Betty, 2010).
Apa kabar hati?
Bila
Apabila dia berubah maka aku bisa apa?
Apabila dia berdiam diri aku harus apa?
Apabila dia pergi lalu bagaimana?
Bukankah itu juga haknya?
Biarkan ia berubah asal ke arah yang baik
Biarkan dia diam sementara jangan kau usik
Biarkan dia pergi pasti dia balik
Mendoakan saja selalu yang terbaik untuknya
Mendoakan saja dia selalu bahagia
Dengan teman lama dan teman baru
Dengan siapapun
Dimanapun
Apabila dia berdiam diri aku harus apa?
Apabila dia pergi lalu bagaimana?
Bukankah itu juga haknya?
Biarkan ia berubah asal ke arah yang baik
Biarkan dia diam sementara jangan kau usik
Biarkan dia pergi pasti dia balik
Mendoakan saja selalu yang terbaik untuknya
Mendoakan saja dia selalu bahagia
Dengan teman lama dan teman baru
Dengan siapapun
Dimanapun
Langganan:
Postingan (Atom)




