Penarikan dan Deretan Nama
Jumat, 18
Oktober 2013.
Hari ini
akhirnya datang juga. Hari dimana saya dan teman-teman PPL di SMP N 1 Mungkid
secara resmi ditarik oleh dosen pembimbing kami, Bapak Agus Widodo. Acara penarikan berlangsung hikmad meskipun
di tempat acara berlangsung (GOR) kondisi cukup panas. Hampir semua guru pamong dan guru-guru serta
staf administrasi yang kami undang menghadiri acara itu.
Acara dibuka
dengan membaca basmallah, kemudian dilanjutkan dengan tilawatil quran,
sambutan-sambutan oleh kordinator pembimbing, kepala sekolah dan saya sendiri
selaku koordinator
mahasiswa. Acara selanjutnya yaitu penyerahan bingkisan yang diwakili oleh
salah mahasiswa dan dilanjutkan penutup. Secara keseluruhan acara berjalan
dengan lancar,
meskipun pada permulaan terdapat beberapa hal yang membuat kami gugup .
Acara
selanjutnya adalah sesi foto bersama. Photo
boot yang disiapkan anik dan panji semalam Alhamdulillah tidak mubadzir.
Saat saya mengumumkan urutan untuk foto bersama, saya sempat diprotes mengingat
saya memanggil urutan foto dengan urutan yang salah. Maklum saja, pada saat
itu, saya gugup dan merasakan emosi yang campur aduk.
Tentu saja,
sebelum hari ini , banyak sekali cerita mewarnai kegiatan PPL
saya dan teman-teman PPL UNNES
2013 di SMP Negeri 1 Mungkid. Masing-masing dari kami menyimpan sejuta memori
di bagian neuron otak kami tentang bagaimana kami dan warga sekolah SMP ini
menjalani hari-hari bersama selama kurang lebih 2 bulan.
Bagi saya ada beberapa nama yang
sudah seharusnya saya ceritakan disini mengingat sumbangsih mereka dalam
mewarnai hari-hari di SMP N 1Mungkid ini.
1. Ibu Esti
Nama ini, bagi
saya, wajib untuk diletakkan sebagai nama pertama dari daftar nama orang
penting selama saya PPL. Ibu Esti Rumanti atau biasa saya sapa Ibu Esti,
merupakan guru Pamong yang mengampu saya dan Panji Irawan sebagai mahasiswa PPL
yang mengajar IPA khususnya biologi. Pada saat pertama saya berinteraksi dengan
beliau, saya kira beliau orang yang sangat galak. Hasil kepo dengan siswa-siswi memperkuat hipotesisku bahwa beliau memang
demikian. Aku sedikit merasa takut. Pada saat saya dan Panji mengkonsultasikan
RPP (Rancangan Program Pembelajaran) kepada beliau, kami mendapatkan banyak
sekali lipstick (begitu beliau
menyebut coretan-coretan merah di kertas kami). Selain memiliki tampang yang
galak,ternyata beliau juga termasuk orang-orang yang sangat teliti. Jangankan
kalimat yang salah, tanda baca saja tidak luput dari koreksiannya. Namun saya
diingatkan oleh beliau bahwa akan sia-sia hasil pekerjaan kita jika ternyata setelah
berusaha maksimal masih ada kekurangan di sana-sini.
Seiring waktu
berlalu, kesanku bahwa beliau merupakan
orang galak lambat laun mulai luntur lantaran sikapnya yang sangat hangat
kepada saya dan Panji. Pada banyak kesempatan masing-masing dari kami
menceritakan masalah pribadi kami kepada beliau. Tanggapan beliau akan cerita
kami cukup baik, banyak masukan yang kami dapatkan. Beberapa poin selain PPL
yang saya dapatkan dari beliau setelah kami berbincang-bincang diantaranya
adalah bagaimana bersikap dewasa, baik dewasa pada masalah yang sedang kita
hadapi, dewasa dalam mengatur hati terutama karena kami rawan mengalami cinta
lokasi, dewasa dalam bergaul dan dewasa secara umum. Selain itu, beliau juga
langsung dan tidak langsung mengajarkan saya ilmu Parenting (Insya Allah akan saya posting tersendiri).
Terkait
kepekaan, menurut saya, beliau adalah orang yang tanggap. Saat Panji
sakit(batuk) langsung beliau memberi masukan-masukan untuk Panji, meminta saya
mengganti jam Panji dan pagi harinya
saat batuk itu masih belum sembuh, beliau sudah membelikan Panji permen pelega
tenggorokan (Fisher*an), meskipun Panji ternyata tidak berminat dengan alasan
sudah minum obat batuk. Di lain kesempatan, karena printer di kos kami
mengalami masalah kami belum mengeprint soal UH yang telah kami revisi, beliau
langsung dengan tanggap mengajak kami untuk mengeprint soal itu di rauang guru
dan pernah pula membawakan langsung printernya ke laboratorium untuk keperluan
mengeprint kami.
Ibu Esti, sudah
seperti Ibu saya sendiri. Belaiu berperan tidak hanya sebagai guru pamong,
namun juga sebagai Ibu dan juga sahabat. Pada hari penarikan ini, rasanya berat
sekali untuk berpamitan dengan beliau. Masih banyak hal yang ingin saya cerita
dan dengarkan dari beliau. Alhasil, saya memanfaatkan kesempatan yang ada usai
acara penutupan untuk berbincang dengan beliau selama lebih dari setengah jam.
Suatu malam
Dalam imaji
Aku berada di suatu malam
saat angin dingin kota ini menyapa
engkau dan aku berdua di suatu motor roda dua
menyusuri jalan raya dengan amat perlahan
Dalam dingin itu
aku sedikit gugup
terasa meningkat laju jantung berdegup
engkau hanya diam
sulit aku berkata
tapi akupun tetap memaksa untuk bicara
dan untai demi untai kata keluar
berkisah tentang segala rasa dariku
Saat itu
aku memang tak melihat wajahmu
tapi aku bisa menerka
kau kaget luar biasa
mungkin memerah juga wajahmu itu
Dan laju motor mengantarkan kita ke tempat itu
tempat dengan wahana-wahana biasa
namun terasa istimewa karenamu
Dan dalam imajiku
Aku bersamamu
menaiki suatu wahana
hanya berdua
pusing
mual
ah, kenapa juga kita merasakannya
Dan engkau bertanya lagi tentang pertanyaanku
Dan aku menjawab lagi pertanyaanmu itu
Aku berada di suatu malam
saat angin dingin kota ini menyapa
engkau dan aku berdua di suatu motor roda dua
menyusuri jalan raya dengan amat perlahan
Dalam dingin itu
aku sedikit gugup
terasa meningkat laju jantung berdegup
engkau hanya diam
sulit aku berkata
tapi akupun tetap memaksa untuk bicara
dan untai demi untai kata keluar
berkisah tentang segala rasa dariku
Saat itu
aku memang tak melihat wajahmu
tapi aku bisa menerka
kau kaget luar biasa
mungkin memerah juga wajahmu itu
Dan laju motor mengantarkan kita ke tempat itu
tempat dengan wahana-wahana biasa
namun terasa istimewa karenamu
Dan dalam imajiku
Aku bersamamu
menaiki suatu wahana
hanya berdua
pusing
mual
ah, kenapa juga kita merasakannya
Dan engkau bertanya lagi tentang pertanyaanku
Dan aku menjawab lagi pertanyaanmu itu
Langganan:
Postingan (Atom)




