There can be no “teacher” without ‘pupils’ , no rebel without ‘establishment’.

Arti Peimpin

Pemimpin adalah orang pertama sekaligus orang terakhir dalam sebuah kelompok (Mukti 2013)

This is featured post 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Gunung Prahu

SEUMUR HIDUP KITA SEKALIPUN TIDAK AKAN CUKUP UNTUK MENGELILINGI INDONESIA. I LOVE INDONESIA.

Tampilkan postingan dengan label Cerita (ku). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita (ku). Tampilkan semua postingan

Obrolan kamar Astra

0 komentar

Hujan malam ini cukup syahdu seperti hujan sebelum-sebelumnya.
Mau bagaimanapun ia turun hujan selalu mengundang banyak kenangan akan masa lalu dan doa akan masa depan. Tanpa kegiatan yang jelas, hujan dan kondisi sepi asrama mengundang rasa kantuk pada banyak mahasiswa PPG. Syukur saja kopi di blek tango masih ada. Sedikit tambahan amunisi untuk menunda rasa kantuk menjadi pemenang. Sedikit cerita tentang teman-teman di asrama PPG.
Ada beberapa hal yang terjadi yang tentunya bisa diceritakan untuk diambil pelajarannya. Terutama masalah cinta. Balik lagi, untuk soal yang satu ini, mau dibahas bagaiamanapun tidak ada habisnya. Suatu kisah yang sama sekalipun jika pelakunya berbeda, ya tetap berbeda. Belum lagi beda waktu terjadi, ya jelas semakin berbeda. Hal yang ingin aku soroti dari kisah ini adalah tentang lisanku dalam memanas-manasi hubungan seseorang. Bukan sekadar memanas-manasi, tapi mengarahkan hubungan mereka kepada ranah pernikahan. Aku memang sampai saat ini belum pernah menikah, tapi banyak teman yang percaya dan menjadikanku “pembuangan” tempat mereka menceritakan apa yang mereka risaukan.
Jika di kalimantan berhasil memanas-manasi Rudi Tan Seda. Kemudian muncul nama Gilang, sekarang tentang dua orang mahasiswa ppg asrama putra. Hamid dan Dihan. Dua orang kawan yang saat itu ada bersama di dalam kamar asarama putra denganku. Keduanya bercerita tentang masalah mereka dengan tema yang sama, bingung masalah pernikahan. Satu orang masih merasa takut unutk menikah padahal orangtua sudah mengejar-ngejar. Satu yang lain masih bingung dengan hubungannya saat itu. Seperti biasa, aku jelaskan semampuku apa yang aku ketahui dan aku bagi dengan keduanya. Tentu saja berdasarkan literatur dan pengalaman dari perjalanan saudara-saudaraku. Dari situ, mulailah keduanya sedikit berubah. Dihan yang semula cuek dengan calonnya kini cukup terlihat intens dalam berkomunikasi. Hamid, lebih-lebih, nyaris setiap mau tidur dan bangun tidur selalu telponan, haha. Sejauh ini, aku cukup berhasil memanas-manasi mereka. Hamid mulai serius memikirkan bagaimana langkah selanjutnya untuk serius dengan hubungan yang ia miliki. Sejauh ini dia sudah bertemu dengan kedua orangtua dari perempuan yang dia suka. Seorang diri, tanpa ada yang menemani. Dia juga sudah mulai memikirkan langkah selanjutnya untuk melakukan lamaran dan tahap berikutnya. Cukup detail yang pernah kami diskusikan hingga urusan teknis termasuk biaya lamaran. Sampai menghitung berapa persen dari hasil panennya yang harus digunakan untuk melamar. Semoga saja usai PPG atau kalau bisa sebelum PPG selesai lamaran sudah ia lakukan. Aamin. Dihan juga kurang lebih sama. Dia yang sudah lamaran kini lebih sering berbincang dengan ibunya perihal teknis. Hal yang dulu sempat dia hindari. Alhamdulillah, kini dia juga sudah berani mentargetkan dirinya untuk menikah di tahun 2018.
 Lalu bagaimana dengan diriku ?
Mereka tentu saja sempat bertanya. Aku jawab sebisaku. Saat ini, calon yang aku ajukan masih belum mendapatkan rido dari orangtuaku terutama mama. Mungkin 1-1,5 tahun lagi aku baru menikah. Dihan pun bertanya, “Jika pada tahun itu misal kamu belum bekerja apa kamu tetap akan menikah?” “Insya Allah. Yang penting sudah dapat rido orangtua. Selagi keduanya masih hidup, carilah rido keduanya. Insya Allah semua akan dipermudah.” Jawabku.
Tentu saja, itu juga dikembalikan pada si calon mempelai wanita.
Apakah ia mau denganku dengan kondisiku semisal seperti itu atau tidak.
Tentang calon yang aku ajukan kemudian ditolak oleh mama, awalnya tentu saja sedih.
Dasar laki-laki, ditolak pun tetap mengajukan lagi, dan sampai aku ajukan untuk kelima kalinya dengan jarak dan waktu yang berbeda lah ko jawabannya tetap sama. Kekeuh. Akhirnya, mulailah aku terbiasa. Menyadari apa yang ada, diri mulai menata hati dengan hal-hal yang baik. Insya Allah, jika sudah waktunya nanti akan datang calon yang sesuai. Karena bagaimanapun juga janji Allah itu pasti, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik. Hanya saja, sampai saat ini aku belum memberi penegasan pada calonku itu. Semoga ia bisa menerima kondisi ini. Semoga saja.

Teman

0 komentar

Seseorang pernah berkata bahwa teman  terdekat dari seseorang bisa menunjukkan bagaimana karakter seseorang itu.
Seseorang yang lain berkata bahwa sebaiknya kita memang berteman dengan orang-orang yang berdampak baik saja terhadap kita.
Seseorang yang lain berkata bahwa kita berteman dengan semua orang tidak peduli bagaimana dia. Asalkan kita boleh bercampur tapi tak lebur.
Seseorang yang lain mengatakan pepatah Jawa"Ojo perek kebo gupak" jangan mendekati kerbau yang bermain air, pasti kita akan ikutan kotor.
Semua yang dikatakan oleh orang-orang di atas menurut ku benar. Benar menurut pandangan mereka. Benar tergantung bagaimana kita menyikapi pandangan mereka yang ada.
Aku pribadi lebih condong untuk berteman dengan segala tipikal orang. Mulai dari yang benar-benar bengkok, setengah lurus hingga lurus sepenuhnya.
Bagiku, dengan berteman dan mengenal berbagai macam karakter orang kita akan semakin lebih memiliki wawasan yang luas dan sudut pandangan yang lebih luas juga. Walaupun secara jujur terkadang aku agak kesulitan untuk menempatkan diri di antara mereka.
Bukan berarti bahwa aku memakai banyak topeng untuk membuat suatu paradoks. Aku, tetap seperti biasa. Masih mencoba untuk menjadi yang lurus sekalipun terkadang sedikit miring. Pun tetap berusaha agar tidak miring terlalu jauh.
Pertemanan bisa kita dapat melalui banyak hal, dengan variasi waktu yang berbeda beda. Ada waktu dimana kita mengenal orang hanya dalam waktu yang singkat namun ternyata menjadi teman yang begitu dekat. Ada pula waktu dimana semua itu menjadi kebalikannya.
**
1 tahun
Waktu satu tahun mengikuti program SM3T di kab. Sanggau, merupakan masa yang ada untuk melihat bagaimana karakter orang-orang di sekitarku. Aku, yang dipercaya oleh teman-teman menjadi seorang kordinator tentu saja mau tak mau harus melihat mereka 1 per satu semaksimal mungkin.
Kembali lagi pada pernyataan ku yang memilih untuk berteman dengan semua orang. Ditambah dengan status ku sebagai ketua, maka sudah sewajarnya aku berdiri di tengah, mencoba untuk menjadi penyeimbang diantara para anggota.
Ternyata memang tidak mudah.
Teman-teman yang aku koordinir ada 29 orang. Semuanya tersebar di Kabupaten Sanggau yang luasnya, lebih luas dari Jawa barat. Saru persatu ingin dikunjungi. Satu persatu ingin dihubungi. Dan kebanyakan berkumpul di daerah perbatasan. Aku sendiri ada di kecamatan yang butuh waktu 4 jam lebih untuk ke perbatasan Entikong, tempat kawan-kawan lebih banyak ditempatkan. Aku, lebih dekat ke kabupaten yang hanya 2 jam.
Selain masalah jarak, otomatis tiap orang dari 29 orang itu memiliki kepala dan isi pikiran yang berbeda-beda. Seringkali kami menemukan perbedaan pendapat dan yang paling sering dan paling menyebalkan adalah jika perbedaan itu menyangkut masalah keuangan. Hal yang sangat sensitif di sini.
Banyak kejadian yang membuatku dari awal ingin mundur dari ketua. Aku merasa susah. Sinyal payah, jarak jauh, koordinir kawan-kawan pun jadi semrawut. Tapi tidak ada satupun yang mau menggantikan. Ok aku terima, dg semua konsekuensi nya.
Bapak kepala sekolah pernah berkata, "jika kamu meminta jabatan maka kamu akan ditinggalkan dan dilupakan.
Jika kamu diberi amanah, insya.Allah akan selalu ada yang membantu.
Padahal, aku tahu banyak yang lebih berkompeten, tapi kembali lagi, semua mencari aman dan ingin terima beres, merasa diri tidak layak.
Satu tahun.
Karakter karakter asli teman-teman perlahan mulai terlihat. Mana-mana saja kawan yang tidak terlalu ambil pusing dalam urusan kordinasi dan kegiatan mulai nampak. Pun dengan karakter teman yang hobi membandingkan dengan kabupaten lain. Banyak karakter yang terkadang membuatku bertanya"ini beneran dia kah?" atau membuatku mengeluarkan statemen "oh, dia seperti itu ternyata".
Satu tahun.
Potensi kawan-kawan pun semakin terlihat. Banyak yang sebenarnya mampu mengkordinir kegiatan dengan sangat baik (menurutku) namun masih malu untuk show up. Ada pula yang memang menjadi pengeksekusi handal di lapangan. Ada yang benar-benar sadis dalam mengelola keuangan hingga lebih terlihat pelit, tapi sebenarnya dia bekerja dengan baik.
Betul. Tiap kepala dari 29 orang yang ada menyimpan banyak potensi. Bahkan urusan mengkordinir masakan dan tim dapur pun itu juga termasuk suatu keahlian yang Ga semua orang miliki.
Satu tahun.
Aku sendiri menemukan banyak celah di dalam kepemimpinan ku. Terkadang masih belum bisa untuk sadis pada suatu keputusan. Masih sering melibatkan perasaan dan belum bisa cepat di lapangan. Aku masih ada di tengah-tengah antara pemikir dan eksekutor. Belum bisa full 100% action dan paling sering tertinggal informasi. Aku 
Satu tahun.
Hubungan pertemanan di antara anggota belum bisa kompak maksimal. Masih banyak iri-irian terhadap teman yang lain. Masih banyak yang suka bergunjing. Beberapa terlihat cuek. Apatis. Beberapa bahkan ada yang menggerombol, nge grup, mempengaruhi satu demi satu teman di dekatnya dengan argumen yang ia keluarkan.
Satu tahun.
Aku rasa masih belum cukup untuk mengenal lebih jauh bagaimana sesungguhnya wajah dan sifat asli dari semua teman-teman. Ini bahkan sudah mau penarikan.
Waktu yang tersisa menjelang penarikan, mencoba memaksimalkannya dengan terus bekerja. Semoga hasil dari kerja yang dilakukan dapat dirasakan oleh kawan-kawan.
Terlepas dari apakah mereka menganggap ku kawan atau tidak, menganggap ku sebagai ketua atau tidak. Mereka tetap teman dan anggota ku yang perlu untuk di urus.
Semangat!
H-5 penarikan.

Kisah Si Melon yang hilang

0 komentar



Mataku mengantuk. Mulutku sudah menguap-uap lebar sedari tadi. Langit-langit kamar sudah tidak nampak. Gelap. Lampu langganan dari genset tetangga malam ini padam lebih awal. Hari hujan dan banyak kilat. Mungkin pemilik mesin genset sangat sayang pada mesinnya barangkali tersambar petir. Mungkin juga pemilik genset juga sudah mengantuk lebih parah dariku saat aku baru mulai menulis cerita ini. Kemungkinan terakhir yang aku tepis adalah pemilik mesin tahu bahwa salah satu pelanggannya adalah seorang guru SM3T yang sendirian dan berbahaya jika malam-malam tidak lekas tidur. Bisa-bisa terlintas pikiran yang tidak-tidak. Pikiran tentang kandasnya hubungan asmara lantaran mengikuti program ini misalnya?hehe.
Aku tahu bahwa aku sudah semakin mengantuk. Ini terlihat dari kesadaranku yang mulai timbul tenggelam. Mataku sebentar terjaga dan sebentar terpejam. Segelas kopi hitam yang aku minum lima belasan menit lalu nampaknya tidak terlalu efektif mengusir rasa kantuk. Meski begitu, jari-jari tangan nampaknya masih siaga penuh. Semangat 86 untuk mengetik kata demi kata. Kesadaran memang tidak seratus persen tapi alam bawah sadar memberi perintah lebih tegas,”Malam ini harus memulai untuk membuat cerita pendek tentang pengalaman SM3T!”.
Hari Minggu Sore di bulan Maret. Seperti sore-sore sebelumnya, Ibu-ibu di dusun balai Ingin Hilir mengajakku bermain voli. Aku yang memang tidak ada sesuatu yang dikerjakan tentu saja mau ikut. Tentu saja tidak cuma ibu-ibu saja yang ikut bertanding. Bapak-bapak dan abang-abang juga banyak yang ikut bermain. Jadi tim voli yang bermain merupakan tim campuran.
“Smash Pak Ozi..,” Seru Katan sembari memberikanku bola umpan.
Aku yang memang kurang mahir dalam bermain voli tidak melakukan apa yang Katan minta. Aku hanya mendorong bola melewati net. Semacam dunk kalau dalam basket. Masuk. Poin tim kami bertambah.
“Sorry..,”ucapku pada Katan.
“Santai Jak pak,”jawabnya.
Permainan semakin lama semakin seru. Tanpa terasa sudah memasuki rubber set. Tim lawan yang diketuai Bu Minun memberikan perlawanan yang cukup sengit.  Beberapa kali terjadi jual beli serangan dan  rally panjang.
Sedang seru-serunya bermain, tiba-tiba dua orang laki-laki berusia 20 tahun datang menuju lapangan voli tanpa berbaju. Hanya mengenakan celana jins panjang. Baru pertama kali aku melihat wajah mereka berdua.
“Mungkin mereka ingin bermain,”pikirku.
Jarak 1 meter dari lapangan, mereka berhenti. Mereka mengucapkan kalimat dalam dialek Melayu Tayan. Aku sama sekali tidak bisa menangkap apa yang mereka ucapkan. Tapi dari bahasa tubuh yang mereka tunjukkan, mereka meminta agar kami berhenti bermain bola voli. Aku pun berdiri dari posisi merecieve bola. Mereka berdua menghampiriku sambil kembali mengucapkan kalimat yang tidak aku mengerti.
Katan, secara sigap tiba-tiba maju dan berdiri di depanku. Bang Ir, juga sama. Mereka berdua mencoba mencairkan suasana.
“Mana guru olahraga SMP?!,” tanya salah satu laki-laki tanpa baju itu. Kali ini dengan bahasa Indonesia.
“Kenape? Ada urusan Ape?”, tanya Katan.
“Mane?!”,tanya dia kembali.
Katan masih berdiri di depan laki-laki itu, membelakangiku. Bersiap dengan segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi setiap saat. Aku pun demikian.
“Aku nda ga trima dibilang nyolong tabung gas sekolah,” kata laki-laki itu.
“Siape yang nuduh kau macam tuk?” Jawab Katan.
“Sidak anak SMP nyan tek bilang kalau kata guru olahraga sidak yang nyolong tabung gas tu yang mabuk. Siape gi balai ingin yang mabuk kalau bukan kamek?”, sahut mereka.
Sekolah tempatku bertugas (SMPN 4 Tayan Hilir) memang sering kemalingan. Apa saja yang ada di sekolah diambil sekalipun itu hanya alat-alat praktikum. Kemarin lusa giliran ruang TU yang dijebol dengan paksa melalui lubang ventilasi di atas pintu. Tabung gas di dalam ruang itu raib. Berhasil dibawa maling. Tapi seingatku, tidak pernah aku menyebutkan permasalahan ini dikelasku mengajar hari sabtu kemarin. Hanya beberapa siswa saja yang tahu kasus ini. Aku juga tidak pernah menyebut atau menuduh siapa yang mencuri tabung gas atau pencurian sebelumnya, karena tidak ada saksi dan bukti. Tentu jika aku melakukannya aku melanggar aturan hukum dan menimbulkan fitnah.
“Nda da bah guru olahraga di Sitok. Yan tek orang Tayan. Dah balik dia”, ucap Bu Minun.
“Anak SMP yang mana? Siape namenye?”, tanya Katan.
Kedua laki-laki tak berbaju itu maju. Mencoba merangsek menerobos bang Ir dan katan. Tentu saja Katan dan Bang Ir mencoba menghalau. Situasi semakin memanas.
“Usah kau ikut-ikutan Tan. Aku tahu kau tuh siip. Tapi die tuh buat perkara. ****## (mengumpat dalam bahasa melayu Tayan)”.
“Sabar luk...tenang luk...Dia bah nda tahu ape-ape. Kalo na ngadu ke kepala sekolah Jak,” Kata Katan.
Laki-laki tanpa baju berambut jabrik masih mencoba menghalau Katan dan Bang Ir.
“Siape Kepala Sekolah nyan?! Adekah orangnye!”, tanya lelaki tanpa baju satunya lagi yang bertubuh kurus.
“Pak Pur. Ade di rumah”
“Ayoklah kesian”, ajak lelaki tanpa baju bertubuh kurus itu.
Katan dan dua laki-laki itu lantas berjalan menuju rumah dinas.
“Ir, kau kawankan mereka,” kata Bu Minun.
Permainan bola voli berakhir. Semua orang yang ada di lapangan, termasuk para penonton ikut menuju rumah dinas. Orang-orang yang rumahnya kami lewati juga ikut ke rumah. Penasaran dengan apa yang terjadi.
Bang Ir yang semula berada di belakang tahu-tahu sudah ada di depan.
“Assalamualaikum...”, ucap Bang Ir.
Bu Tini, isteri kepala sekolah, keluar dari kamar dan menjawab salam,”Waalaikum salam”.
“Pak Pur ade kah ka Tini?”, tanya Bang Ir.
“Ade, ade ape nyan ramai-ramai mitok?” tanya Bu Tini.
“Ka Tini tenang Jak. Ini ada perlu dengan Pak Pur Bu”, kata bang Ir mencoba menenangkan Bu Tini.
Dua orang tanpa baju itu ikut masuk ke dalam rumah. Tanpa salam, lalu ikut mencari-cari Bapak kepala sekolah. Bu Tini terlihat kaget dan sedikit ketakutan. Dia segera masuk ke dalam kamar mencoba memanggil suaminya. Sementara Bang Ir dan Katan mengajak kedua laki-laki itu keluar rumah dan duduk di beranda rumah.
Semakin lama semakin banyak orang dusun yang datang berkumpul di teras rumah.  Mulai dari anak-anak hingga dewasa. Semua masih dengan pertanyaan yang sama di benak mereka,”Ada apa ini?”.
“Ada apa ini? Usah kau buat onar di mitok,”ucap Pak Ilyas, suami Bu Minun.
“Nda pak...,” Jawab  laki-laki kurus tanpa baju.
Pak Pur akhirnya keluar. Wajahnya terlihat kelelahan. Wajar saja, dia baru saja datang dari Kota Sanggau. Masih belum sempat berganti baju. Celananya saja masih celana jins yang ia pakai dari kota.
“Ada apa?”, tanya Pak Purdianto.
“Saye ngga terime saya dituduh nyuri tabung gas smp,” Kata lelaki bertubuh kurus.
“Siapa yang bilang begitu?”, tanya Pak Pur.
“Sidak (mereka) anak SMP yang bilang kalau guru olahraga bilang orang yang mabuk yang nyuri tabung gas sekolah. Siapa lagi di Balai Ingin ini yang suka mabuk kalau bukan kami? Kami ngga trima nama kami jadi jelek seperti nyan (itu)!”, ucap lelaki tanpa baju bertubuh kurus.
“Anak SMP yang mana?”, tanya Pak Pur.
“Pokoknya ada, akupun lupa nama sidak?”, jawab lelaki tanpa baju berambut jabrik.
“Anak sini bukan?”, tanya Pak Pur kembali.
“Bukan anak sini. Kame dengar waktu nyan tek di Bukit Sidak bilang seperti itu”. Kata kedua laki-laki itu nyaris bersamaan.
“Pokoknye kami ngga trima nama kami jadi jelek macam tu. Guru olahraga tu harus tanggung jawab.”
“Awas saja, orang Jawa ke Kalimantan jadi Tapai,”ancam laki-laki bertubuh kurus.
“Eh, kau punya mulut yang benar dikit ngomongnya! Nyaman benar ngomong miyan!”, Pak Karim yang ada di antara kerumunan warga ikut memberikan suara.
“Kami kenal Pak Ozi, ga mungkin juga Pak Ozi bakal ngomong seperti itu!”,ucapnya menambahi.
“Ok, guru olahraga di SMP itu dia,” ucap Pak Pur sembari menunjuk ke arahku.
“Mas, sekarang mas coba bilang. Apa mas pernah ngomong sesuatu seperti yang mereka katakan?”, tanya Pak Pur padaku.
“Tidak Pak. Demi Allah, aku nda pernah bilang seperti itu apa lagi di depan anak-anak”,Jawabku.
“Usah kau bawa-bawa nama Tuhan!”, kata lelaki bertubuh kurus.
“Kalau bawa nama Tuhan saja tidak percaya lalu mau sumpah pakai nama siapa lagi” ,pikirku.
“Saya nanya, emang sebelumnya kita pernah bertemu? Kita pernah kenal? Belum kan? Mana mungkin saya nuduh-nuduh orang yang saya juga belum pernah ketemu?”, ucapku sambil bergetar menahan emosi.
“Tuh. Dia jak bilang dia ngga pernah ngomong seperrti itu. Ga mungkin juga dia bohong bawa nama-nama Tuhan”, ucap Pak Pur.
“Bapak ngga usah bela dia Pak!”, laki-laki bertubuh kurus berdiri dari duduknya. Emosi.
“Eh. Siapa yang bela orang. Kau berani tidak sumpah kaya dia?”, ucap Bu Tini.
“Usah ibu ikut campur urusan kame!”, jawab laki-laki bertubuh kurus.
“Eh...nyaman benar kau ngomong. Dia tuh laki aku. Aku bininya. Ini juga rumah kame!”, jawab Bu Tini ngga mau kalah.
“Tenang Ka Tini,”ucap Bang Ir sembari memberi isyarat dengan mengulurkan tangan.
Situasi semakin memanas. Beberapa warga nampak bersiap untuk turun tangan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Beberapa orang lari, memanggil tokoh dusun agar datang menenangkan. Tidak lama berselang, Pak RT dan salah satu tokoh datang.
“Kenape ini Mat?”, tanya Pak RT pada laki-laki bertubuh kurus yang ternyata bernama Amat.
Amat diam saja tidak menanggapi pertanyaan Pak RT. Gantian laki-laki berambut jabrik yang menjelaskan. Masih dengan nada emosi.
“Dahlah, gini Jak. Besok kan Senin, upacara. Murid-murid juga datang semua. Kalian ke Sekolah. Tunjukkan mana yang ngomong dan menyebarkan tuduhan itu!”, kata Pak Pur.
“Kalau emang yang dikatakan kalian benar dan Pak Ozi salah. Saya yang jamin dia akan bertanggung jawab.”
“Tuh. Gitu aja mat. Pak Pur udah ngasih kite solusi. Sekarang dah balik,” ucap Pak RT.
Amat diam saja. Matanya menatap tajam ke arahku.
Kedua laki-laki tanpa baju itupun akhirnya mau untuk meninggalkan rumah dinas setelah lebih banyak lagi tokoh dusun yang menyuruh mereka pulang.
“Sabar mas...namanya juga cobaan. Hehe”, ucap salah satu warga menenangkanku.
Semua yang masih ada di rumah dinas termasuk Katan dan Bang Ir tertawa, mengingat yang mengatakan hal itu adalah orang yang dulu jelas-jelas tidak suka dengan kedatanganku pertama kali di Dusun balai Ingin.
Keesokan harinya di sekolah tidak diadakan upacara. Baik saya maupun Pak Purdianto merasa penasaran apakah memang benar ada anak didik kami yang menyebarkan berita tidak baik seperti itu?
Karena penasaran saya pun mengajukan pertanyaan yang sama di semua kelas, mulai dari kelas 7 hingga kelas 9.
“Adakah yang tidak suka jika Bapak mengajar di sini?  Apakah ada yang mengatakan bahwa Pak Ozi menuduh seseorang mencuri di sekolah kita?. Jika ada, coba acungkan tangan atau silahkan datang ke kantor bertemu saya di waktu istirahat,”ucapku.
Tentu saja jawaban yang aku peroleh dari para siswa adalah tidak.
Amat dan temannya tidak kunjung datang ke sekolah bahkan sampai hari satu minggu semenjak kejadian itu. Terus terang, aku merasa jengkel dan tidak nyaman. Pak Pur mungkin menangkap ketidaknyamanan yang aku rasakan. Sebenarnya bukan tidak nyaman lantaran aku menjadi tertuduh penyebar fitnah, tapi lantaran pandangan warga dusun yang berubah menjadi penuh rasa kasihan setiap kali aku melewati mereka.
Selama satu minggu itu pula banyak tokoh dusun yang meminta agar kejadian itu dilaporkan ke pihak berwajib karena ada unsur pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan dan ancaman. Warga rupanya juga tidak suka dengan perangai Amat dan kawannya yang memang seringkali terlibat dalam kasus pencurian di dusun.
Hari senin di pekan selanjutnya, secara resmi Pak Purdianto selaku kepala SMP Negeri 4 Tayan Hilir melayangkan surat tuntutan kepada aparat desa agar segera menyelesaikan permasalahan yang terjadi secara kekeluargaan. Jika tidak kejadian itu akan diangkat ke persidangan. Menurut pak Pur, hal itu juga agar menjadi pelajaran bagi masyarakat supaya sadar hukum dan tidak berlaku senaknya sendiri terutama pada guru. Oleh petugas Desa secara langsung surat itu mendapatkan respon dengan cepat. Amat dan kawannya serta ketua RT dan kepala dusun dipanggil menghadap ke kantor desa dan mendapatkan nasihat dari aparat desa.
Tiga hari setelah surat tuntutan dilayangkan, Amat dan kawannya, ketua RT dari tempat mereka tinggal dan tempat saya tinggal, Pak Pur, ketua dusun, aparat desa dan perwakilan tokoh masyarakat berkumpul di rumah dinas SMP. Hasil pertemuan akhirnya diperoleh perjanjian damai. Pihak Amat dan kawannya meminta maaf karena mendengarkan berita dengan tidak cermat lantaran masih dalam kondisi mabok. Mereka juga meminta maaf karena sudah menuduhku menyebarkan berita tidak baik tentang mereka serta mencabut ancaman yang pernah keluar dari mulut mereka. Jika di lain waktu kejadian yang sama terulang kembali maka pihak Amat siap untuk dilaporkan kepada pihak yang berwajib.




Catatan lebaran 2

0 komentar

Nice quote. Jiwa yang memang sering lalai, karenanya bantulah aku kawan. Bantuku untuk merakit masa depan, bukan untuk terus menerus melihat masa lalu, apalagi dengan terus menerus mengingat-ingat kebodohan di dalamnya.

Catatan lebaran 1

0 komentar

Sedari waktu berbuka tiba di penghujung Ramadhan tahun ini, 1437 H, gema takbir berkumandang menggema di setiap sudut tempatku berada-Balai Karangan. Pertanda bahwa hari kemenangan telah tiba dan perpisahan dengan Bulan yang mulia, Ramadhan. Sebuah suka cita yang disisipi kerinduan dan keharuan.
Lebaran tahun ini tentu sangat berbeda jika dibandingkan dengan lebaran2 tahun lalu. Jika sebelumnya bisa merasakan momen lebaran bersama keluarga di rumah, di Jawa, untuk tahun ini harus bersabar dan tetap bersyukur bisa tetap merayakan lebaran sekalipun bersama dengan anak2 sm3t di pulau Borneo Kalimantan.

Kelas 8

0 komentar

Alhamdulillah tahun ajaran 2015/2016 sudah selesai. selesai pula tugas menjadi wali kelas Kelas 8. Kelas 8, kelas penuh cerita.
Semoga apa yang aku tularkan bermanfaat bagi mereka. Semoga mereka akan sukses dengan jalan yang baik. Aamiin

Epilog (Tayan, hujan dan pengabdian)

0 komentar



Laki-laki itu masih duduk di luar pondok kopi. Dia sadar bahwa tubuhnya mulai basah terkena pias hujan yang turun dengan deras. Hujan paling deras dalam sepekan ini. Mbok Mirna, si pemilik kedai kopi sudah berulangkali menawarkan pada laki-laki itu untuk masuk ke dalam kedainya. Berlindung dari pias air hujan, namun laki-laki itu hanya tersenyum, menggeleng sedikit dan mengucapkan terimakasih.
Laki-laki itu bukan tidak sadar bahwa dirinya kini mulai basah. Dia merasa menikmati suasana hujan. Pandangannya tidak luput dari sungai Tayan yang ada di depannya. Saat angin bertiup menyapu hujan, saat itu juga seolah terbentuk sapuan tirai di permukaan sungai, membentuk ombak-ombak kecil yang indah dipandang.
Suara ribut air hujan. Suara desir angin yang menyapunya. Teriakan dan tawa anak-anak dikejauhan yang bermain hujan-hujanan. Semua itu membuatnya enggan untuk beranjak. Sekalipun hanya masuk ke dalam kedai kopi milik Mbok Mirna.
Agak ragu, tiba-tiba laki-laki itu merogoh saku celananya. Diambilnya kunci motor miliknya dan ditimang-timang. Laki-laki itu kembali menatap hujan. Dia tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. Diambilnya topi di meja kedai kopi tempatnya sekarang. Dia beranjak, melangkah keluar dari kedai kopi itu. Membiarkan dirinya basah bukan lagi karena pias tapi karena terguyur air hujan. Dia menyalakan sepeda motor miliknya dan diarahkannya menuju ke utara. Ke arah rumah dinas miliknya.
Laki-laki itu terus tersenyum. Sesekali ia melihat keatas lalu tertawa dan membuka mulutnya lebar-lebar. Air hujan itu lantas sedikit banyak masuk kedalam mulutnya. Manis, segar dan melegakan. Air hujan yang diminumnya seolah menyingkirkan beban kerjanya selama sepekan ini.
Terlalu asyiknya dia menengadah ke atas. Dia lupa memperhatikan semua yang ada di depannya.
Hal yang terakhir yang dia ingat adalah bunyi keras dua benda yang bertumbukan lalu beberapa orang memanggil namanya dengan samar-samar. Perlahan, rasa dingin menjalar di seluruh badannya. Lambat laun yang dilihatnya kini gelap. Semakin gelap. Tubuhnya terasa dingin. Semakin dingin.

Persiapan wawancara #SM3T

0 komentar

Tanggal 4 nanti akan ada wawancara sm-3t di Unnes.
Alhamdulillah aku satu di antara peserta yang mendapatkan undangan untuk mengikutinya.
Berhubung belum ada bayangan seperti apa model wawancara yang akan dilakukan, aku iseng-iseng browsing. Alhamdulillah, tidak sedikit para senior sm3T angkatan sebelumnya (1-4) yang berbagi pengalaman mereka pada tiap tahapan di SM3T. Salah satu yang aku pelajari adalah tentang sekolah satu atap. Permasalahan ini (katanya) menjadi pertanyaan rutin pada saat wawancara.
Baiklah, aku lanjutkan terlebih dahulu belajarku.
Tenang saja, aku akan bagi apa yang aku pelajari nanti (Insya Allah).
Semoga wawancara SM3T berjalan lancar dan menghasilkan hasil yang terbaik. Amin.

Ujian

0 komentar

Besok ujian.
Ujian...
Lama tak bersua, lama tak merasakan.
Ujian besok,sejenis ujian kompre karena hampir semua yang sudah dipelajari ditanyakan.
Seperti UN karena jika gagal pasti tidak lulus dan mengulang tahun depan, itupun jika ada dan masih bisa mengikutinya.
Persiapan?
Belum sampai pada taraf 90%.
Apapun yang besok dihadapi, hadapilah.
Apapun yang besok dihasilkan, terimalah.

0 komentar

Keluarga itu seperti satu kesatuan oragan pada sistem di tubuh kita.
Saat satu merasakan sakit yang lain akan merasakannya juga.
Dampak dari satu hal yang diterima oleh satu bagian akan dirasakan juga oleh bagian yang lain.
Begitulah sedikit gmbaran tentang keluarga.
Bagaimana dengan keluargamu?
Apakah hari ini mereka dalam kondisi baik?
Semoga saja demikian.

*
Merasakan kangen dengan keluargaku.
Saat dimana semua bisa berkumpul, bercengkrama antar anggota keluarga 1 dengan yang lain.
Mendiskusikan apa saja. Bercanda dan tertawa. Waktu berkualitas seperti itu perlahan tapi pasti mulai berkurang. Bahkan untuk sekedar berfoto satu keluarga penuh saja sampai sekarang belum pernah.

**
Alhamdulillah
Tahap pertama lolos.
Semoga tahap selanjutnya dipermudah.
Ada rasa senang ada rasa deg-degan.
Pertanyaan2 itu juga kembali muncul.
Hmm..biarlah.
Fokus pada persiapan dan pembenahan diri.

Menunggu Pengumuman #SM3T

0 komentar

Masih tersisa 7 jam dan beberapa menit sebelum pengumuman SM3T dapat diketahui.
Loloskah? Semoga.
Jika tidak lalu bagaimana?
Jika lolos lalu bagaimana?
Bismillah saja. Hari ini hari rabu kan ya. Hari yang bagus untuk mengawali segala sesuatu.
Semoga jadi waktu yang baik. Amin

Keinginan untuk mendaftar #SM3T

0 komentar

SM3T. Sarjana Mengajar Daerah Terdepan, Terluar dan Terdalam, merupakan program dari pemerintah dalam upaya melakukan pemerataan pendidikan melalui penyaluran tenaga pengajar ke daerah-daerah 3T.
Program ini pertama kali di lakukan pada saat saya semester awal di unnes, sekitar tahun 2010. Saat itu, secara tidak sengaja aku melihat sm3t d web univ yang sedang saya akses sebagai pengenalan universitas pada mahasiswa Baru. Insya Allah sm3t akan masuk tahun kelima program ini berjalan.
Sejak awal program ini berlangsung. saya sudah merasakan sesuatu yang berbeda. Ada sebuah keinginan yang mendorong dan mengatakan pada saya bahwa saya sebaiknya mengikuti program ini. Mengajar saudara-saudara kita di pelosok sana sembari mengenali indonesia lebih dalam. Anda juga pasti menginginkannya bukan?
Tapi apa pasal, saat itu saya masih semester awal, masih mulai berkuliah. Jadi tentu belum bisa untuk ikut berkecimpung di dalamnya.
Tentu saja, sudah lulus S1 merupakan salah satu sarat utama di samping sarat-sarat yang lain, seperti lolos seleksi tertulis dan tes wawancara, serta penempaan di prakondisi selama kurang lebih 2 minggu.
Waktu berjalan, dan kini, dalam hitungan hari pendaftaran ptogram sm3t akan mulai dilakukan.
Lebih tepatnya pendaftaran dimulai pada tanggal 7maret hingga 9juni 2015.
Insya Allah saya akan mendaftar.
Meskipun, secara jujur sering kali saya masih bertanya dalam hati, "Apakah saya layak untuk mengikuti program ini?
Apa yang bisa saya berikan di sana?
Apa yang aku siapkan untuk bekal di sana?
Bagaimana jika begini? Bagaimana jika begitu?"

Banyak lagi pertanyaan lain yang berkeliaran di dalam pikiran saya. Bismillah saja, yang penting saya sudah berusaha. Masalah saya bisa di terima untuk menjadi dari sm3t V atau tidak, biarlah penilai yang memberikan kepitusan, dan sebaik-baiknya penilai adalah Allah, jadi biarkan Allah yang menilai apakah saya layak ataukah tidak. Saya hanya berdoa saja semoga yang terbaik lah yang saya dapatkan. Amin
Sabda-Nya"Berdoalah padaKu niscaya Aku kabulkan"

K3

0 komentar

K3
Konsistensi, ketelitian dan kerapihan.
Ketiga hal itu harus ditingkatkan lagi untuk semua aspek.
Terutama tulisan dan juga tentang pandangan hidup.
Masalah tulisan, sudah sebulan ini berkutat dengan dunia tulis menulis dokumen lingkungan, masih saja banyak ketidak telitian yang aku lakukan. Hasil ketikan UKL-UPL yang aku buat masih banyak revisi. Untuk Amdal, sampai hari ini masih belum ada masukan, mungkin besok. Semoga saja tidak terlalu banyak kesalahan,amin.
Hari-hari yang melelahkan dalam 1 bulan ini. Sedikit terhibur dengan gaji yang diterima di awal bulan ini.
Tidak seberapa memang, tapi tetap harus disyukuri. Alhamdulillah.

Insya Allah menuju hasil yang lebih baik, both of sallary and result.
Proses, sing sabar. Tetap berlatih dan jangan menyerah.
Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.

#dadiwonglanang
kudu kuat kayak bolu diformalin (Perdana, 2015)

Pagi

0 komentar

Pagi ini di mulai dengan udara yang dingin menusuk hingga tulang-tulangku dengan sangat mudah.
Hari ini, murid-murid SD masih diliburkan. Mereka masih belajar di rumah hingga hari senin besok.
Kau tahu, udara dingin pagi hari di puri banteran (tempatku sementara ini tinggal), bikin orang-orang kurus kaya aku merasa enggan untuk beranjak keluar. Ingin untuk terus bersembunyi saja di balik kehangatan jaket dan kain sarung (karena ga ada selimut).
Tapi dingin dan rasa malas harus di lawan.
Dan membeli sarapan adalah salah satu cara yang dipilih.
Pakai sepeda motor untuk menuju pasar.
Brrrrr....
Cara kedua mengusir dingin usai membeli sarapan dan memakannya adalah dengan melakukan aktifitas.
mencabuti rumput pun dipilih. Sebenarnya sih males juga mencabutinya. Masih mending di sabit atau di cangkul saja. Tapi karena ga ada alat-alat itu dan mau minjam ke tetangga mereka pada berangkat kerja tak apalah pakai tangan kosong dulu. Coba gitu ya bisa jurus seribu bayangan, bisa lebih cepat tuh bebersih nya, haha..ngayal.
Tapi pertolongan pun tiba, bukan karena kagebunshin no jutsu, tapi karena tuyul-tuyul alias anak-anak kompleks setingkat SD (yang masih liburan) main bola di depan rumah. Dipanggillah mereka oleh teman satu rumahku. Mereka meminta imbalan uang, tapi aku menawarkan mereka gorengan. OK, deal. Mereka mulai bekerja.
Wah, aku harus akui, semangat mereka pagi ini terbilang cukup tinggi.
Pekerjaan itu tak berlagsung lama, 5 menit dan kami akhiri.
Aku ingin memberikan mereka gorengan sesuai dengan penawaran di awal tadi.
tapi apa lacur, temanku malah melarang.
katanya, kalau ngasih ya harus semuanya, padahal kan yang ngebantuin cuma dua tiga anak doang.
Hadeeh...
Pagi yang dingin, diawali dengan hal tidak terpuji.
Ok, siang ini, harus dibayarkan. Janji, kepada anak kecilpun tetaplah janji.
Betulkan?

*Dunia anak-anak itu memang istimewa.
Semoga tahun ini ada kesempatan untuk melihat lebih dekat dunia mereka di belahan bumi Indonesia.
Amin

Careri (Catatan Sore Hari)

0 komentar

Masih berkutat lagi dengan babi. Alhamdulillah, setidaknya sampai hari ini belum ketemuan secara langsung (lagi) dengan makhluk itu. Tapi kemungkinan minggu ini sama salah satu dosen kembali ke area peternakan babi untuk mengambil data yang kurang. Revisi dari Bapak Dosen lumayan banyak juga. Lumayan banyak juga pelajaran yang bisa di ambil.
**
Alhamdulillah, kamu juga semakin dekat sol. jadi pengin mintonan lagi Sol. Apa kabar lapangan balai desa Sol?
Ga kerasa ya sol, sudah mau puasa lagi.
Itu berarti sudah hampir satu tahun sol, hahaha
Urutan pertama dari deretan nama
Yang pernah kita kagumi
Yang pernah kita ingini
Yang makin Intens saja Shol perjumpaan secara tulisan
Ehm, perjumpaan secara lisan belum ko sampai sekarang
Yang penting sih perjumpaan hati (Eaa....haha)
Sol, sudah satu tahun sejak perbincangan kita tentangnya
Empat tahun lebih juga Sol dari pertama masuk
 Bisa ga ya Sol lanjut sama Sisol
Semoga Sol. Semoga saja.
**
Semoga malam ini selesai sudah perbaikan babi dan melanjutkan dengan segera pada proyek dishub kebumen.
Semangat menyambut Juni Sol

Aku, wedang jahe dan sedikit tentang kalian

0 komentar

Malam semakin larut kawan. hujan di luar belum menampakkan tanda kelelahan mereka untuk turun ke bumi. Kilat dan guruh malah menyemangati mereka untuk terus turun dengan deras. Sementara mereka bersenang-senang dengan aktifitas di luar, aku menyibukkan diriku menengguk perlahan segelas wedang jahe sembari melirik kearah luar jendela. Jalanan nampak sepi. tentu saja orang-orang lebih memilih untuk menutup rapat tubuhnya dengan kain sarung atau selimut ketimbang keluar dalam kondisi dingin.

Tulisan yang aku buat masih separuh jadi. Tergeletak begitu saja di atas meja belajarku. Terhenti karena alasan klasik, ide yang bersembunyi . Seperti rembulan di luar sana, tertutup ia oleh mega mendung dan guyuran hujan. Padahal, sudah jelas bahwa tulisan itu harus aku kumpulkan secepatnya jika aku tidak ingin menyesal dikemudian hari karena terlambat mengirimkannya. Sebuah artikel yang menjadi salah satu syarat kelulusank.

Kembali ku teguk wedang jahe di tanganku. Sensasi hangat kembali menjalar dalam tubuh. Hujan, masih belum usai. Pun sama dengan tulisanku. Kupaksa otak ini kembali bekerja mencari dan menyusun ide dan menuangkannya dalam kata-kata di tulisan yang aku buat. Lumayan, ternyata bisa bertambah hingga tiga paragraf. Ternyata ada benarnya juga bahwa wedang jahe itu bermanfaat untuk mengalirkan darah. rasa-rasanya otakku telah mendapat kiriman darah segar kaya oksigen dari jantung sehingga kembali bisa berpikir.

Kata banyak orang, bisa itu karena biasa. Biasa itu karena dipaksa. Aku memilih untuk memaksa otakku kembali bekerja dan akhirnya jadilah artikel ku. Besok artikel itu bisa kembali aku baca untuk mencari apakah masih ada tulisan-tulisan yang belum sesuai dengan aturan. Malam ini, cukuplah saja. Pemaksaan itu, menurutku, juga ada batasnya. Terlalu dipaksa malah bisa-bisa tidak berguna lagi karena rusak parah.

Hmm...
Lantas aku kemudian berfikir tentang hal lain selain tulisanku itu. Tentang diriku sendiri ke depannya. Apakah aku harus terus berada dalam konsisi seperti ini, atau harus bagaimana? Haruskah aku menunggu teman-temanku hingga skripsi mereka selesai ? Mau berapa lama? Apa mereka sadar jika aku menunggu mereka? Ada ko yang dengan santai nya mencoba menyelesaikan skripsi, padahal, dosen pembimbingnya profesor dan Beliau sangat dermawan. Terbukti dengan bimbingan yang bisa dilakukan dengan frekuensi dan intensitas yang sangat cukup jika dibandingkan dengan bimbinganku. Tapi ya dasar anaknya semprul, skripsinya ntar-ntar an dan sangat santai hingga terkesan menyepelekan. Meskipun aku mengakui skripsinya itu bagus, tapi apa iya aku harus menunggu untuk teman dekat seperti ini ?
Memang, akan lebih baik manakala aku dan mereka duduk dalam satu deret dalam wisuda.
Teman-teman kelas yang sudah luluspun berharap seperti itu.
Tapi kembali lagi bahwa akulah yang lebih berhak memutuskan tentang apa yang menurutku baik dan buruk.
Aku kira aku akan memulainya dengan lulus terlebih dahulu dari bandit yang lain.
Kemudian aku akan mendaftar wisuda terlebih dahulu.
bagaimana dengan omongan orang-orang? kamu sangat egois!
Hmm, ga papa lah. toh, pada dasarnya, mau daftar bareng atau tidak, mau duduk sederet atau tidak, wisuda akan kami lakukan pada hari dan tempat yang sama bukan?
Lagi pula, aku kira, dengan lulus dan mendaftar terlebih dahulu, semoga ini bisa menjadi sedikit pemanas agar mereka lebih semangat dalam mengerjakan skripsi mereka. Aku percaya bahwa melangkah lebih awal, tak berarti meninggalkan.
Semoga pula setelah kami lulus, kami dipermudah dalam mencari rezeki.
Amin.


Tetap semangat kawan...
Skripsi will be end as soon as possible...

SPBN

0 komentar



SPBN
SPBN -Sarjana Pengangguran Beban Negara. Semoga kita yang akan dan sudah lulus tidak masuk ke dalam golongan ini. SPBN sendiri pertama kali saya dengar dari seorang teman dekat  yang kuliah di salah satu kampus Negri di Semarang. Saat itu, saya baru beberapa hari selesai sidang skripsi dan tengah menyelesaikan revisi dari penguji. Saat bertemu dengan teman saya yang akrab disapa poli, saya seperti biasa memberikan salam dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Saat berjabat tangan itulah pertama kali saya mendengar istilah ini. Seingat saya, seperti inilah kalimat yang diucapkannya pada saat kami berjabat tangan, “Selamat mam…selamat jadi beban Negara”. “Jleb!” Saat saya mendengar istilah ini pertama kali, saya kaget dan merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal,  mungkin istilah sekarang “Sakitnya tuh disini …(sambil nunjuk hati)”. Ucapan itu, menurut saya cukup sarkastik alias bernada menyindir dan masuk dalam sindiran garis keras.
Sebenarnya, tanpa dibilang bahwa mahasiswa fresh graduate atau pun menjelang lulus dan belum memiliki pekerjaan sebagai kelompok SPBN pun aku sudah memikirkannya, meskipun dengan istilah yang berbeda. Ya, setidaknya sebagai  mahasiswa yang pernah dikasihani negara (penerima beasiswa) selama dua periode, aku sadar bahwa aku harus memiliki kontribusi aktif kepada masyarakat sebagai  balasan atas dana yang aku peroleh. Jika ditelusuri tentu saja dana yang aku peroleh  berasal dari uang Negara yang mana salah satu sumber pemerolehannya adalah pajak yang dibayarkan oleh masyarakat baik dari kalangan atas, menegah hingga lapisan bawah.  
Aku hanya jujur saja saat ditanya oleh poli, apa yang bakal aku lakukan terutama waktu menunggu wisuda. Tentu saja, setelah semua administrasi berkaitan dengan wisuda selesai aku ingin pulang dan bertemu dengan orangtuaku. Aku ingin sejenak beristirahat dan merefresh kembali isi kepala sebelum kembali lagi pada rutinitas dan dunia kerja. Setidaknya selama 1-2 minggu. Toh, aku juga merasa tidak tega jika mendengar cerita  mama bahwa abah mengalami sakit di bagian perut. Tempat dimana luka operasinya berada. Wajar bukan jika aku ingin pulang dan sedikit jalan-jalan?
Sebenarnya aku sudah mengutarakan apa rencana ku pada salah satu kakak ku untuk mengisi 3 bulan menunggu waktu wisuda. Namun, menurut mba, lebih baik jika aku dirumah dulu, membantu orang tua, sembari mengajar di sekolah-sekolah dekat rumah. Menurutnya itu lebih baik dari rencana baik milikku. Rencana ini tentu saja tidak bisa aku ceritakan pada poli, sekalipun dia salah satu teman karibku.
Dari kejadian ini, aku kembali berpikir bahwa ternyata memang masyarakat pada umumnya memiliki gambaran demikian. Seseorang yang telah menyelesaikan pendidikannya harus dengan segera mendapatkan pekerjaan yang jelas dan memiliki “kantor”. Tidak perduli apakah penilai itu lulusan dari pendidikan tingkat yang mana, pandangan seperti itu tetap berlaku. Jika demikian, lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengisi hari-harinya dengan pengabdian, dengan hal-hal positif, dan tidak memiliki “kantor”? Bagaimana jika mereka malah memiliki kepuasan batin dan memberikan kebermanfaatan lebih banyak untuk orang-orang sekitar dari mereka yang sudah memiliki kantor dan pekerjaan?
Hmm… entahlah. Yang pasti akan lebih bagus jika kita sudah selesai dari suatu pendidikan, kita bekerja, berkantor dan tentu saja memiliki kontribusi dan hal-hal positif untuk orang-orang sekitar. Semoga kita menjadi salah satu bagian didalam golongan ini.  Amin

Sekedar pengingat-->  tweet dari pak Ridwan kamil…


"Jika kita tidak bisa memberi solusi. Janganlah kita ikut membebani."



 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers