There can be no “teacher” without ‘pupils’ , no rebel without ‘establishment’.

Arti Peimpin

Pemimpin adalah orang pertama sekaligus orang terakhir dalam sebuah kelompok (Mukti 2013)

This is featured post 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Gunung Prahu

SEUMUR HIDUP KITA SEKALIPUN TIDAK AKAN CUKUP UNTUK MENGELILINGI INDONESIA. I LOVE INDONESIA.

Tampilkan postingan dengan label Another story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Another story. Tampilkan semua postingan

Raket - prolog

0 komentar

Raket - Prolog
Anak kecil itu duduk diam menatap ke arah luar jendela rumahnya. Hujan deras sekali sampai-sampai suaranya bak satu peleton pemain drum. Sesekali petir menyambar. Ibu anak itu, sedari tadi sudah belasan kali melarang anaknya dekat-dekat jendela. Khawatir ia pada petir. Siapa tahu petir lelah di atas sana dan mengetuk jendela, tepat di tempat anaknya berada, untuk sekedar mampir.
Namun anak itu tak sedikitpun bergeming. Tetap saja ia duduk di tempatnya. Ia tahu betul bahwa diluar hujan, suhu menjadi dingin, langit gelap dan tentu saja, tanah menjadi becek. Dia tahu betul itu semua terjadi diluar rumahnya. Tapi sekali lagi, dia enggan untuk menuruti mau Ibunya. Biasanya hujan terasa sangat menyenangkan. Bisa bercengkrama dan berkumpul dengan ayah Ibu dan kedua adiknya. Tapi lain dengan hujan sore ini. Dia terlihat sangat sedih dan berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Tangannya sedari tadi kuat memegang barang yang terlihat masih sangat baru. Raket bulutangkis.
Hujan yang menjadikan tanah becek, tentu saja membuatnya sedih. Pasalnya, dia dan adik-adiknya sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk bermain bulutangkis bersama di lapangan bulutangkis dekat rumah Pak RT. Ya, benar-benar jauh hari. Bukan seperti kita, bisa bermain kapan saja kita suka. Siapa terka, bahwa raketnya itu dia dapat dengan waktu yang tidak sebentar. Raketnya itu penuh dengan cerita.

Sol, apa kamu punya waktu untuk sekedar mendengarkanku bercerita tentang anak itu dan raket barunya ?

Lembar-lembar Sedekah

0 komentar




Entah mulai kapan pastinya, saya sendiri kurang begitu tahu pasti. Sebuah folder, dengan nama folder “Menuju Sukses” secara maraton berpindah dari satu mahasiswa ke mahasiswa lain di jurusan Biologi Unnes. Dilihat dari nama folder itu, seharusnya kita sudah bisa menebak bahwa isi dari folder itu bukanlah sesuatu yang negatif. Apalagi karena folder itu dikopi oleh banyak mahasiswa baik laki-laki maupun perempuan, tentu bukan hal negative bukan?
Saya sendiri, mendapatkan folder itu dari seorang teman, pada saat saya semester 9 menjelang semester 10. Lama juga ya saya kuliah s1-nya, hehe. Folder itu, berisi beberapa file yang semuanya berupa teks dalam eksetensi .doc (Ms Word). File pertama di folder itu, terdiri dari kurang lebih 5 lembar langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh seorang mahasiswa, tentu saja dari jurusan biologi, menuju tahap wisuda. Langkah pertama dibuka dari persiapan menuju TA1 atau seminar proposal. Sebagai informasi saja, bahwa tidak semua jurusan bahkan dalam satu fakultas yang sama, mengadakan seminar proposal. Banyak jurusan yang hanya mengadakan sidang skripsi tanpa di dahului oleh seminar proposal. Jadi, asal dosen pembimbing ok dengan proposal yang kita buat, kita bisa langsung mengambil data. Hal itu tidak seperti yang harus saya dan teman-teman di jurusan biologi lewati.  Kami harus terlebih dahulu melakukan seminar proposal sebelum mengambil data. Itupun terkadang masih harus merevisi terlebih dahulu hasil seminar proposal agar mendapatkan acc pengambilan data di lapangan.
Langkah kedua yang ada di lembaran berikutnya adalah langkah menuju TA II atau ujian/sidang skripsi. Tentu saja, untuk melakukan sidang skripsi ada beberapa syarat yang harus saya lalui sesuai dengan yang tertera di lembar langkah-langkah menuju sukses. Syarat yang dimaksud meliputi fotokopi KRS, transkrip nilai, kartu siap ujian, draft skripsi yang telah di acc dosen pembimbing, bimbingan yang telah diakhiri (minimal 12 kali bimbingan), kartu telah menghadiri ujian TAI sebanyak minimal 20 yang dibuktikan dengan paraf dosen-dosen penguji di masing-masing TAI yang dihadiri dan undangan ujian skripsi. Saya ingat, bahwa saya mengumpulkan tanda tangan TAI sejak sebelum semester 6, karena tidak selalu ada TAI dan tidak setiap TAI saya dating dan membawa kartu kuning itu. Pada tahap ini saja, sudah terlihat cukup ribet, namun tentu saja seribet-ribetnya urusan administrasi, masih kalah dengan semangat mahasiswa yang akan sidang dan berharap cepat lulus.
Setelah langkah kedua selesai ternyata, masih banyak langkah-langkah yang harus dilakukan muali dari bimbingan revisi sampai dapat acc 3 dosen, bimbingan artikel dan poster, bebas lab jurusan, bebas lab jurusan, bebas lab pusat, hingga mendaftar wisuda. Sehingga sangat wajar, manakala seorang mahasiswa biologi merasa senang melihat satu demi satu dari langkah-langkah yang tertulis di lembar menuju sukses tercoret atau telah di beri tanda centang.
Lalu siapakah yang meluangkan waktu untuk kemudian menulis langkah-langkah menuju sukses berikut dengan contoh-contoh dari surat-surat yang diperlukan? Siapapun itu, menurut saya, dia telah melakukan suatu hal sederhana yang sangat bermanfaat. Hal kecil yang berdampak besar (meskipun masih dalam lingkup jurusan)  dan semoga dicatat juga sebagai suatu nilai ibadah. Ah, ya, begitulah yang saya ingat. Sedekah bisa kita lakukan dengan apa yang kita mampu dan miliki. Dan dia, sang penulis dari folder itu, memberikan pelajaran pada saya, pada teman-teman di jurusan biologi, dan semoga pada Anda, bahwa melakukan sedekah itu sederhana, bahwa berbagi pasti menimbulkan suatu solusi. Lakukan dengan apa yang kita miliki, bahkan semiskin-miskinnya kita, kita masih memiliki otak untuk berfikir, masih memiliki wajah untuk tersenyum dan masih banyak nikmat-Nya yang bisa kita gunakan untuk berbagi, untuk bersedekah.

Bismillah

0 komentar

semoga ada rezeki untuk melanjutkan studi ke jenjang berikutnya.
Syukur jika bisa dapat beasiswa.
Jikapun tidak bisa ya tetap kerja biar bisa lanjut sekolah (sambil tetep ngajuin beasiswa)
Bismillah
Setapak demi setapak

Ibu

0 komentar



“Kamu tahu siapa yang berada di balik pintu itu?”
Aku menanyakan hal itu padamu berulang kali
Berulang kali juga kau menggeleng
Seolah mulutmu terkunci untuk sejenak berkata tidak
Aku kembali menanyakan hal itu
“Kamu tahu siapa yang berada di balik pintu itu?”
Untuk kesekian kalinya kau menggeleng
Meyakinkan aku bahwa mulutmu memang benar-benar sedang mogok bicara
“Dia yang di balik pintu adalah seorang lelaki
Kamu percaya apa yang aku katakan?”
Kembali kau menggeleng
Kali ini lebih mantap dari sebelumnya
“Jadi kamu pikir dia itu perempuan?”
Kau mengangguk mantap
Sementara kita terus bertanya jawab
Sosok di balik pintu itu terus menggedor-gedor dengan garang
Apa harus aku buka?
Kali ini aku bertanya dalam hati
Dia yang di depanku kali ini bangkit dari duduknya
Matanya memandang tajam kea rahku
Mengisyaratkan
“CEPAT BUKA PINTUNYA BODOH!”
Aku sedikit tersentak mendapatkan tatapan itu
Aku bangkit pula dari tempat dudukku
Segera aku menuruti apa maunya
Pintu segera kubuka
Angin dingin langsung saja menamparku
Aku menggigil menggigit ujung bibir
Bukan dingin yang jadi sebab
Tapi karena sosok di balik pintu itu
Yang menatapku tajam seakan hendak menerkam
Yang membawa jinjingan siap untuk dilempar
Yang badannya basah kuyup
Yang pasti juga merasakan kedinginan
Kali ini 2 pasang mata itu memojokkanku
Kaka dan sosok di balik pintu itu
IBU!

,

0 komentar

Aku berdiri di tengah tanah lapang
Membersamai rembulan yang indah di atas langit hitam
Bolehkah ia tetap disana saja membersamaiku?
Dan lihatlah
Perlahan kabut itu turun juga, membersamainya menepi dariku
Dan aku sadar
Ini bukan lagi malam
Dan saatnya lah mentari dengan hangat membersamaiku
Dan aku suka kehangatan ini
Dan aku ingin terus saja seperti ini
Dan aku berharap itu bisa
Hei, apakah senja juga akan seperti kabut semalam?
Membersamainya menepi dariku?
Tidak bisakah keduanya mebersamaiku?
--Tentu saja tidak! B*D*H!
Bulan dan mentari memang indah
Kebersamaan mereka dalam satu masa memang bisa
Bisa membuat semua menjadi terlihat lebih gelap
Bisa membuat Ibu yang tengah hamil ribut memukul apa saja agar berbunyi
Bisa membuat mereka bersama bersujud dalam sholat sunnah
Sudahlah,
Lepaskan saja salah Satu
Tenang, bukankah keduanya punya keindahan sendiri ?
Syukurilah apapun yang kamu pilih dan dapati
Bulan atau mentari

Partus

0 komentar

Partus
Dia membanting dirinya dikursi itu. Keringat dari dahinya cukup jelas untuk menandakan bahwa dia tengah kelelahan. Napasnya terengah tertutup masker hijau. Tangannya yang mungil dengan segera membuka masker itu. Fuuh. Udara segar dengan segera dinikmatinya. Beruntunglah dia. Kipas angin yang telah lama rusak telah digantikan dengan AC oleh petugas pusat. Dia bergerak dengan posisi masih duduk dikursi. Diambilnya buku catatan dan menuliskan sesuatu dalam daftar panjang.
Partus kedua. Dia tidak menyangka jika hari itu, di jam jaga malamnya ia akan menemui dua kejadian partus sekaligus. Partus kedua itu hanya berselang setengah jam dari partus pertama. Partus yang berlangsung cukup lama dari proses biasanya. Calon ibu yang datang dengan tiba-tiba, sempat mengalami pingsan sebelum proses partus selesai. Karuan saja, dia dan beberapa rekan kerja yang sama-sama berjaga malam, sempat panik. Untung kondisi itu tidak sampai menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan. Kedua pihak,ibu dan anak selamat.
Dia meneguk air putih. Mencoba mencari ketenangan seusai mengalami ketegangan tadi. Jika dipikir-pikir, sebenarnya hari itu dia sangat kelelahan. Sebelum berangkat kerja di puskemas ini, dia harus mengantar dan mengurus Ibunya yang akan dirawat di RSUD. Otomatis, hari itu juga, dia harus mengambil alih tugas Ibu mengurus rumah, seperti mencuci, menyapu, mengepel dan memasak. Belum lagi, kedatangan kakak dan keponakan-keponakan untuk menjenguk Ibu, membuat rumah yang sudah ia rapikan berantakan lagi. Dia maklum saja, mereka masih anak-anak, masih usia bermain.
Dia melirik ke jam tangan berbentuk doraemon di tangannya. Jarum di jam itu menunjukkan pukul  dua dini hari. Di waktu ini, seharusnya dia tengah tidur di kamarnya. Tapi, tak apalah, bukankah ini memang bagian dari tuntutan pekerjaannya sebagai bidan ? Tentu dia ingat dengan sumpah jabatan yang ia ucapkan dulu.
“Capek Bu?”, tegur Santi.
“Lumayan San,” Jawabnya sambil tersenyum, menampakkan deretan gigi putih bersih.
“Mau saya buatkan teh, kopi atau coklat hangat Bu?, tawar santi
“Teh hangat saja ya San. Terimakasih,” jawabnya
“Ok”
Santi adalah mahasiswa akper yang tengah melakukan praktek magang di Puskesmas itu. Hidungnya mancung dan bertubuh tinggi menandakan bahwa gen timur tengah dari keluarga Ibunya turun dengan baik pada Santi. Bersama dengan tiga temannya, secara bergantian dia berjaga di puskesmas. Kebetulan kali ini giiliran dia untuk berjaga malam, menemani Bidan desa yang juga secara bergiliran berjaga.

“Dorong bu..Ayo dorong lagi...terus bu..teruss...kepalanya sudah mulai terlihat...dorong Bu”
“emmmhhh...hah hah hah... embhhh,” wanita yang sebentar lagi menjadi seorang Ibu itu terus berusaha mendorong calon bayinya keluar sesuai instruksi yang diberikan.
“Terus bu...terus....sebentar lagi Bu...sedikit lagi...”, kembali sang Bidan memberikan arahan.
Si suami tidak kalah menyemangati, “Ayo sayang, kamu pasti bisa, ayo... demi anak kita, kamu harus bisa”.
“Bu...Ibu...”, tiba-tiba si Suami berteriak panik.
“Bu bidan...”, teriaknya masih panik sembari memberi kode agar Bidan segera melihat ke arah yang dia maksud. Ibu bidan tanpa menunggu lama melihat ke sana.
Calon Ibu yang berbaring di hadapan bidan itu tiba-tiba saja lemas tak bergerak. Dorongan yang semula ia berikan mendadak berhenti. Suster jaga yang membantu proses partus itu dengan sigap memberikan stetoskop pada sang bidan. Dia segera mengecek kondisi calon Ibu di depannya. Belum ada tanda-tanda kehidupan yang berhasil di dapatkan.
“Suster, kita harus selesaikan dulu kelahiran ini. Cepat nyalakan alat hisap,”perintah sang bidan.
Kembali suster dengan tanggap mengikuti perintah yang diberikan si Bidan. Alat penghisap dinyalakan, dan tidak berapa lama kemudian sang bayi selamat dilahirkan. Berlomba dengan waktu, suster segera mengambil alih penangan bayi setelah bayi itu menangis, sementara Bidan itu kembali menangani Ibu baru dihadapannya. Stetoskop dengan segera ia gunakan untuk memeriksa denyut nadi Ibu baru itu. Syukurlah, kali ini, dia berani menyimpulkan bahwa pasiennya hanya pingsan.*
“Bu...Ibu...Bu....”
“Bu...bangun bu...”
“mm...”
“Ini teh hangatnya Bu”
“Oh iya San, terima kasih”
“Ibu tidak apa-apa?”, tanya Santi.
“Aku baik-baik saja San,” jawabku.
Ah, rupanya aku tadi tertidur sebentar dan bermimpi. Mimpi akan proses partus yang baru saja selesai. Baik partus pertama maupun partus kedua, suami dari istri yang akan melakukan persalinan datang menemani. Hemm, beruntungnya mereka. Setidaknya, akupun berharap,kelak, saat aku menikah, kemudian hendak melakukan persalinan, suamiku menjadi suami yang siaga-siap antar jaga, dan menjadi laki-laki pertama yang dilihat oleh anakku kelak serta mengadzaninya.
Sayangnya, terkadang proses persalinan dilakukan oleh seorang wanita tanpa suami. Bahkan lebih parah lagi, terkadang si wanita mengandung tanpa seorang suami. Jika orang-orang sekarang menyebutnya dengan istilah MBA- maried by accident. Setahuku, aku belum pernah menangani pasien seperti ini. Jika aku sampai tahu bahwa wanita yang tengah partus adalah salah satu korban MBA dan tidak bersuami. Apa yang akan aku lakukan?
Aku menyeruput teh manis buatan Santi. Hangat dan manisnya pas sekali dengan yang aku inginkan. Ah. Aku jadi teringat Ibu. Ibu sering kali bandel untuk tidak meminum dan memakan makanan manis. Padahal, beliau punya kadar gula yang cukup tinggi. Setiap kali aku marah karena mengingatkan, Ibu pasti berkata maaf dan memintaku agar tak usah terlalu galak dengannya.

Apa kabar Ibu sekarang ya? 

D(a)N(u)

0 komentar

Imaji malam hari
Sebuah permintaan tulisan dari seorang adik angkatan

**
#
Gerhana bulan. Bumi menghalangi cahaya matahari yang mengarah ke bulan. Alhasil, bulan yang semula terang terlihat sedikit gelap. Peristiwa yang tidak setiap hari dapat aku saksikan dari jendela kamar rumahku ini. Banyak legenda dan kepercayaan yang mengiringi peristiwa ini. Di beberapa tempat, ibu-ibu hamil ribut menabuh apa saja untuk mengusir roh jahat agar tidak mengganggu janin yang dikandungnya. Di tempat lain, puluhan bahkan ratusan orang berkumpul, berdoa bersama, memohon pada Tuhan agar diberi keselamatan. Aku lebih memilih untuk menikmati peristiwa ini tanpa melakukan apa-apa. Aku hanya keluar kamar, menuju teras yang ada dan duduk di sana menatap langit.
Cahaya bulan perlahan kembali normal. Terang. Hari ini tanggal 15 dalam kalender Jawa. Bulan tengah purnama. Aku memandangi bulatan penuh bulan yang menawan. Ah, andai ia dapat berbicara ingin rasanya aku berbincang-bincang dengannya. Menceritakan apa-apa yang tengah aku rasakan saat ini.
**
“Jadi bagaimana dok?”, tanya Ibuku pada dokter dihadapan kami.
“Sepertinya anak Anda tidak mengalami masalah berarti Bu. Mungkin sakit perutnya dikarenakan dia memakan makanan yang kurang sehat,” jawab sang Dokter.
Ibuku terlihat sedikit lega mendengar jawaban Dokter. Di elus-elusnya kepalaku dengan lembut.
“Sabar ya nak,”begitu bisiknya ditelingaku.
Aku hanya mengangguk lemah. Tangan kananku seperti tidak mau lepas memegangi perutku yang masih saja sakit. Sesekali keringat dingin di dahi aku usap dengan tangan kiriku.
“Baik Bu. Ini resep untuk anak Ibu. Semoga dia cepat sembuh,” ucap dokter menutup pembicaraan.
“Terimakasih dok. Permisi,” Ibu pamit.
Aku dan Ibu pulang. Di tengah perjalanan aku perhatikan wajah Ibu dengan seksama. Dia tetap cantik meski tanpa riasan mahal. Mungkin perawatan tradisional nenek yang diturunkan pada Ibu menyumbang peran besar pada kecantikan Ibu. Aku sesekali melihat Ibu meracik sendiri lulur wajah dengan bahan-bahan sederhana di halaman belakang rumah. Kakakku- Devi, sesekali ikut-ikutan memakai lulur wajah Ibu. Aku ? Tentu saja tidak. Aku anak laki-laki. Mana mungkin aku seperti ibu dan kakak?
**
Kringg...
Bunyi Hp dari dalam kamar membuyarkan lamunanku. Sedikit kesal, aku melangkah masuk kembali ke dalam kamar. Hp ku kembali berbunyi. Dua pesan lain secara berurutan masuk. Pesan pertama dari layanan operator. Pesan kedua sama saja. Hanya pesan ketiga yang menyita perhatianku.
Vi, tolong bawakan Pakaian Ibu dan danu ke  RSUD Pemalang.
Pesan singkat dari Ayahku itu membuatku bertanya , Ibu dan danu di rumah sakit ? Apa yang terjadi dengan mereka ? Mengapa semenjak sore tadi tidak ada orang di rumah selain Bi Inah?
Ada apa  Yah? Siapa yang sakit dan sakit apa?
Sembari menunggu sms balasan, aku bergegas menyiapkan pakaian Ibu dan adikku.
Beruntung, Bi Inah dengan sigap membantuku menyiapkan semua. Masing-masing ada tiga stel pakaian milik Ibu dan danu yang kami masukkan ke dalam tas.
Bi Inah, seperti biasa, tidak terlalu banyak bicara. Tapi aku sangat yakin beliau tahu ada sesuatu yang tengah terjadi.
“Bi, tolong jaga rumah yah?”, ucapku.
Bi Inah hanya mengangguk dengan mantap.
Aku bergegas berangkat. Sepeda motor kunyalakan. Malam minggu, jalanan yang aku lalui cukup ramai dengan sepeda motor dari pasangan muda-mudi yang ingin menghabiskan malam ini dengan berjalan-jalan dengan pasangannya. Seharusnya, aku masih bisa seperti mereka jika malam Jumat kemarin, Andi tidak memutuskanku. Sial, kenapa aku memikirkan kelakuan mereka? Apa aku iri ? Entahlah. Ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan itu semua. Sepeda motorku bertambah laju. “Aku harus segera sampai,”pikirku.
**
Mengapa aku merasa semakin dingin? Mengapa aku merasa semakin banyak cairan yang jatuh dari dahiku ? Mengapa pandanganku semakin kabur ? Aku ingin berbicara, tapi susah.
“Bu..,”akhirnya aku berhasil mengeluarkan suara.
“Ya Dan,” Jawab Ibuku. Beliau menoleh kepadaku.
“Dan,, kamu kenapa? Kamu pucat sekali,” Ibuku Panik.
“Yah, kita langsung ke rumah sakit saja. Danu semakin kurang baik kondisinya,”.
“Ok”, jawab ayahku.
Kami bergegas ke rumah sakit. Saat kami tiba, Ayah dengan sigap mengangkatku dan meminta suster membawakan ranjang dorong. Ibu terlihat sangat cemas. Jujur saja, aku merasa takut. Apa yang akan terjadi nanti ?
**
Aku tiba di rumah sakit. Segera aku menelpon Ayah, menanyakan posisinya. Aku segera masuk dan mencari Ayah. Tidak terlalu lama untuk menemukannya.
“Kenapa Yah?”, tanyaku singkat.
“Danu harus di operasi. Dia mengalami gangguan akut di bagian usus buntu,” jawab Ayah.
“Lalu Ibu?”
“Ibu terlalu kaget, dia pingsan saat mendengar dokter harus mengoperasi Danu.”
“Lalu?”
“Ibu masih belum sadar sampai sekarang. Dia ada di ruang UGD. Danu ada di situ,” ucap Ayah sambil menunjuk ruang operasi di depan kami.
Tanpa terasa, mataku berkaca-kaca. Ibarat bendungan yang jebol, air mataku dengan segera tumpah. Membayangkan dokter dan suster yang tengah melakukan pembedahan. Membayangkan tangan mereka penuh dengan darah. Mebayangkan adik kecilku terbaring lemah tak berdaya, berbalut baju hijau, berselang oksigen. Membayangkan dia masih harus puasa setelah operasi berlangsung. Kasihan dia.
Ibu? Bagaimana dengan Ibu ? Apakah Ibu baik-baik saja ?
Aku ingin segera berlari menuju bangsal tempat Ibu berada. Aku melepaskan diri dari pelukan Ayah. Aku mencoba berjalan. Hey..kenapa semua gelap?
Ayah? Ibu? Danu?

Manusia Auksin

0 komentar

Auksin. Mungkin bagi teman-teman auksin sudah tidak lagi asing. Terlebih bagi teman-teman yang berkecimpung dalam bidang IPA khususnya biologi. Hormon pertumbuhan ini ternyata tidak hanya berguna bagi tumbuhan saja teman! Dia juga berguna bagi manusia, meski bukan secara fisik namun secara psikis. Ya, jika kita cemat kita akan mendapatkan satu pelajaran darinya. Masih bingung? Coba deh baca tulisan dibawah ini.

Pangkalan Nyirih, 28 Januari 2011
Kegiatan latihan olimpiade menjadi sering dikunjungi oleh anak-anak non-tim inti yang tertarik untuk belajar sains. Sehingga kegiatan ini menjadi menyerupai klub sains. Aku menjadi lebih bersemangat dalam mengajar melihat keramaian ini. Tentu saja aku tidak akan menghalangi mereka untuk belajar apalagi setelah retorika dari Lili Patra tentang Olimpiade Sains Nasional.
Melihat banyaknya anak-anak yang mengikuti latihan ini, aku pun menyusun sebuah percobaan aneh yang dari sejak SD ingin aku lakukan tetapi tidak aku lakukan karena telah kujawab dengan logikaku sendiri saat itu. Percobaannya adalah menumbuhkan kacang hijau dengan wadah yang berisi kapas basah. Sangat biasa bukan? Tetapi sekarang wadahnya akan kuvariasikan. Ada yang seperti biasa hanya meletakkan kacang hijau pada gelas berisi kapas basah yang diletakkan di bawah sinar matahari. Ada juga yang aneh seperti kapasnya hanya disiram sekali saja selama beberapa hari, ada yang diletakkan dibawah kardus yang tertutup sempurna, ada yang dimasukkan dalam kaleng minuman ringan, ada yang dimasukkan dalam botol air mineral dengan tutup yang hanya dibuka saat menyiram tanaman dan juga ada yang dalam botol air mineral yang tertutup sempurna dengan tutup botol diisolasi. Dan macam-macam lainnya.
Anak-anak kuminta untuk membawa wadah-wadah yang kusebutkan. Tak perlu harus beli, bisa menggunakan barang bekas yang mereka temukan di tempat sampah dan dibersihkan dengan baik. Akhirnya tiba hari eksperimen. Setiap anak akan bertanggung jawab pada tanamannya masing-masing dengan wadah dan perlakuannya masing-masing yang berbeda satu sama lain. Observasi akan dilakukan selama tiga hari untuk melihat hasilnya.
Tibalah pada hari yang ditentukan untuk membandingkan hasilnya. Tentunya yang berada dalam botol yang terisolasi tak tumbuh sama sekali. Sedangkan yang berada dalam gelas tumbuh subur normal. Kemudian yang ditutupi kardus tanpa cahaya matahari tumbuh sangat tinggi tetapi dengan daun kekuningan. Lalu, yang dimasukkan dalam kaleng tumbuh tinggi dan sangat indah dengan daun yang tebal dan hijau. Sebelumnya biar kujelaskan bahwa mengapa ada percobaan dalam kaleng. Karena kaleng ini menunjukkan ruang gelap dengan satu lubang sebagai tempat masuknya cahaya.
Mereka bertanya-tanya mengapa tumbuhan yang berada di dalam kardus dan kaleng lebih tinggi padahal kekurangan cahaya matahari. Dan tumbuhan dalam kaleng bahkan menyusup keluar dari lubang kaleng tersebut. Kemudian kujelaskan kepada mereka tentang hormon yang bernama auksin yang merupakan hormon pertumbuhan bagi tumbuhan. Hormon inilah yang menyebabkan tumbuhan bertambah tingginya. Kujelaskan kepada mereka bahwa hormon ini akan dipecah oleh sinar matahari sehingga tumbuhan yang terkena sinar matahari akan memiliki lebih sedikit auksin dibandingkan yang tidak terkena sinar matahari, tetapi lebih subur daripada yang tidak terkena sinar matahari karena dapat melakukan fotosintesis sebagai sumber energi sementara yang lainnya hanya dapat melakukan respirasi untuk membuat sumber energi.
Kemudian mengenai tumbuhan dalam kaleng, aku jelaskan juga mengenai sifat tumbuhan yang tumbuh ke arah sinar matahari sehingga dapat keluar dari lubang kecil kaleng tersebut. Itu adalah efek dari auksin juga yang menyebabkan pertumbuhan batang. Auksin yang lemah terhadap sinar matahari akan dipecah dibagian yang terekspos sinar matahari sehingga pertumbuhan pada sisi kanan (kita anggap matahari berada di kanan tumbuhan) akan menjadi lambat. Sementara itu, di bagian yang tidak terekspos matahari akan memiliki banyak auksin karena tidak dipecah oleh sinar matahari, yaitu sebelah kiri. Sehingga, batang sebelah kiri akan tumbuh lebih cepat dibandingkan batang sebelah kanan yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam pertumbuhan. Akibatnya batang akan melengkung ke sebelah kanan mengikuti pertumbuhan sisi kanan yang lebih lambat. Inilah peran dari hormon pertumbuhan yang bernama auksin.
Setelah mereka semua mengerti, aku tutup pelajaran dengan sedikit filosofi mengenai auksin. Aku katakan kepada mereka untuk menjadi MANUSIA AUKSIN. Mengapa? Kukatakan kepada mereka bahwa mereka harus tumbuh subur di bawah sinar matahari yang merupakan perumpamaan dari sebuah kondisi yang mudah dan menyenangkan. Tetapi, tak selamanya kita akan menemukan matahari dalam kehidupan kita. Kadang ada kondisi di mana semuanya gelap, seperti tak ada harapan. Karena itu, kita harus menjadi manusia auksin. Dalam terang kita tumbuh subur, dan dalam gelap kita menjadi lebih tinggi, lebih dewasa. Kita juga tidak boleh menyerah dalam mencari cahaya. layaknya auksin yang membimbing tumbuhan untuk menuju ke arah datangnya cahaya. Tak adanya harapan harus dapat membuat kita berusaha lebih keras untuk menemukan harapan tersebut, menciptakan jalan kita sendiri. Dengan demikian, kita akan tetap dapat tumbuh lebih tinggi dan subur, entah ada atau tidak ada matahari dalam hidup kita.
Kawan-kawan, tidak hanya mereka yang harus menjadi manusia auksin. Kita pun harus bisa belajar dari tumbuhan yang berjuang bertahan hidup dalam kegelapan, mencari cahaya untuk dapat membuatnya tumbuh subur. Kita juga tidak boleh menyerah mengejar impian kita hanya karena tak ada harapan atau terdengar mustahil. Kegelapan ada untuk membuat kita lebih berani dan lebih dewasa untuk menemukan cahaya itu. Bahkan di luar angkasa yang gelap pun ada secercah cahaya yang disebut bintang. Beranikah kita mencari cahaya itu dalam kegelapan pekat tanpa menyerah seperti tumbuhan kacang hijau ini?
Dream On!
By :  Bagus Arya Wirapati   (tulisan disadur dari buku Indonesia Mengajar jilid I ).
Kisah ini juga dapat teman-teman baca bersama cerita inspiratif para pengajar muda yang lain di link berikut : Cerita pengajar Muda 

Ternyata Anakku anak yatim

0 komentar

Aku msh saja tercenung mendengar permintaan Akbar, putraku yg duduk di bangku sekolah dasar kelas empat. Usianya memang baru 9 tahun, tetapi cara berpikirnya dewasa sekali. Aku malu, takjub sekaligus haru. Kupandangi wajahnya yg tampan. Ah,…,aku spt melihat dlm cermin. Dua pekan yg lalu, Akbar bertanya padaku apakah bosku jahat sehingga aku harus terus-menerus bekerja siang dan malam. Bahkan sering2 waktu libur juga hrs kuisi dgn tugas ke luar kota atau mengikuti seminar di luar negeri. Tentu saja waktuku untuknya sedikit sekali. Untungnya istriku, ibu rumah tangga yg baik. Aku bangga dan tidak salah memilihnya mjd ibu bagi anak2ku. Walau istriku, Muthia, seorang wartawan paruh waktu di sebuah media cetak ternama di kota ini, tetap saja dia menomorsatukan aku dan Akbar, keluarganya. Padahal kalau dia mau, karier sbg wartawan profesional bisa diraihnya.
”Tapi kan Akbar nggak bisa main sama mama terus, Pa?Mama nggak enak diajak berantem-beranteman. Mama jg nggak jago main catur apalagi ngajarin Akbar renang. Lihat air saja Mama sdh takut,”protesnya suatu hari. Tetapi lagi2 kesibukanku menghadangku bercengkrama dgnnya. ”Pa..,Akbar kangen tuh. Mbok ya luangkan wkt sedikit. Karier kita bukan Cuma di kantor kan, Pa? Tapi juga disini. Di rumah ini. Mjdkan Akbar dan adik2nya kelak mjd anak yg saleh dan salehah. Aku msh sj memandangi wajah polosnya. Tak terasa air mataku menitik dan jatuh membasahi pipi Akbar. Sttt…,kutepuk-tepuk punggungnya agar kembali tidur.
Pukul 22.30 WIB tadi ktk Muthia membukakan pintu, dia berbisisk bahwa Akbar belum tidur krn menunggu sejak sore tadi. Astaghfirullah! Aku baru ingat, kalau aku berjanji akan pulang sore untuk menemaninya bermain catur. ”Eh, Papa,. Baru pulang, Pa?Capek ya? ”tanya Akbar yg terdengar biasa saja justru membuat hatiku pontang-panting.’Aduuuh,…maafin Papa, ya sayang. Papa ada rapat medadak,”kataku mencoba mengajak hatinya dan mendekapinya duduk di ruang keluarga. Kulihat di atas meja sudah terbuka papan catur berikut buah2 catur yg sdh disusun rapi. Disebelahnya kulihat celengan plastik berbentuk mobil VW milik Akbar terbuka dan ada tumpukan uang didekatnya. ”Nggak pa2 kok, Pa. Kita jadi main catur kan,Pa? Nih, sudah Akbar siapin dari tadi papan caturnya, Pa. Oh ya Pa, boleh nggak Akbar pinjam uang.” Tanyanya sambil menghitung uang miliknya. Malam2 begini pinjam uang untuk apa,pikirku. ”Boleh dong sayang. Tapi untuk apa malam2 begini Akbar pinjam uang sampai membobol celengan segala?”tanyaku sambil mengeluarkan dompet bersiap-siap mengeluarkan berapa rupiah pun yg dibutuhkan Akbar. Ah…, rasa bersalah terus menggumpal dan makin menyesakkan dadaku. ”sepuluh ribu deh,Pa,”jawabnya sambil mengumpulkan hasil tabungannya. Kusodorkan selembar puluhan ribu sambil sekali lagi kutanya untuk apa uang2 tersebut.
”Gini Pa..kata Mama, Papa tuh sibuk bukan karena nggak sayang sama Akbar. Tapi karena Papa sibuk sekali dan waktu Papa sangat berharga. Jadi, Akbar tanya sama Mama, gaji Papa tuh berapa sih?. Mama bilang pokoknya cukup untuk kita bertiga. Jadi Akbar kira2 saja. Kalau Mama bilang waktu Papa sangat berharga, pasti gaji Papa gede. Pasti Papa banyak dapat uang dari bos Papa. Karena waktu libur juga Papa pakai buat kerja. Nah, Akbar kira2 kalau dihitung per jamnya gaji Papa seratus ribu, berarti kalau setengah jam jadi lima puluh ribu, kan Pa? Benar?”tanyanya meminta persetujuanku. Aku menganguk perlahan sambil mereka-reka kemana arah pembicaran ini. ”uang tabungan Akbar ini baru ada empat puluh ribu, makanya Akbar pinjam Papa sepuluh ribu, karena Akbar pingin beli waktu Papa untuk bemain catur selama setengah jam. Boleh kan, Pa?Oh ya, ini uangnya lima puluhribu, Pa. Nanti yg sepuluh ribu Akbar ganti kalau tabungan Akbar sudah cukup ya…Nah, sekarang yuk, Pa kita main catur.” Aku tak tahu apa yg harus aku lakukan saat putra kandungku meletakkan uang2 receh hasil tabungannnya plus selembar puluhan ribu di atas telapak tanganku. Ya Allah, ternyata anakku, anak yatim.
Dikutip dr Chici sukardjo “Bolehkah aku memanggilmu ayah”

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers