There can be no “teacher” without ‘pupils’ , no rebel without ‘establishment’.

Arti Peimpin

Pemimpin adalah orang pertama sekaligus orang terakhir dalam sebuah kelompok (Mukti 2013)

This is featured post 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Gunung Prahu

SEUMUR HIDUP KITA SEKALIPUN TIDAK AKAN CUKUP UNTUK MENGELILINGI INDONESIA. I LOVE INDONESIA.

Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Gunung Prahu

0 komentar

Indonesia memang memiliki keindahan alam yang luar biasa. Bahkan Ramon (pembawa acara 100 hari keliling Indonesia-Kompas TV) mengatakan "seumur hidup skalipun tidak akan cukup untuk mengelilingi Indonesia". Aku sih setuju saja dengan yang dikatakannya. Bagaimana dengan kamu?
--
Ok.
Salah satu tujuan wisata yang ingin aku bahas kali ini adalah gunung prahu di daerah wonosobo.


Gunung Prahu adalah sebuah gunung yang terdapat di Dataran Tinggi Dieng tepat di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Berada di koordinat 7°11′13″LU 109°55′22″BT. (1) Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 2565 mdpl, ketinggian yang cukup untuk merasakan dingin pegunungan. Tentu saja, hawa dingin yang ditawarkan lebih dingin dari pada puncak gunung ungaran (2050 mdpl).
Gunung prahu dapat ditempuh selama kurang lebih 3 jam dengan bersepeda motor  dari Semarang. Jika Kamu dari luar kota, tenang saja, banyak alternatif  angkutan untuk pergi ke gunung ini. Kamu bisa memilih menggunakan angkot, travel ataupun kendaraan lain. Ingat, patokannya Cuma satu, turunlah dipertigaan masjid agung dieng.
Menurut salah satu teman yang pernah naik dari beberapa jalur, jalur baru yang dimulai dari pertigaan masjid agung dieng lebih mudah dan dekat daripada jika naik dari jalur lain seperti dari desa petek. Aku sendiri percaya saja karena memang belum pernah naik dari jalur petek. Tapi memang sepertinya yang dikatakan temanku benar, karena jalur dari pertigaan masjid dieng ini tidak terlalu rumit dan susah untuk dilewati meskipun untuk pemula.
Perjalanan dari basecam di pertigaan masjid agung dieng menuju puncak kurang lebih 2 jam (untuk waktu normal), tapi jika kamu sanatai dan menikmati pemandangan selama perjalanan dengan sebentar-sebentar beristirahat, peralanan akan memakan waktu hingga 4 jam atau lebih.
Seperti pada pendakian umumnya, sebelum menuju puncak kita akan melewati terlebih dahulu perumahan warga, makam, ladang penduduk baru kemudian hutan pinus. Jika kamu beruntung, kamu bisa saja membeli sayuran segar dari petani yang tengah memanen hasil lahan mereka. Selain sayuran yang didapat masih segar, tentunya harga yang didapat juga akan lebih murah (dengan menawar tentu saja).
Untuk budget minimal yang harus disiapkan adalah sebagai berikut :

Transportasi motor Semarang- Dieng                      :  30k x 2                               = 60k**
Masuk area wisata dieng                                        : 5k/orang                              = 5k
Tiket pendakian                                                     : 7k/orang                                =7k
Titipan sepeda motor                                            : 5k/hari/motor                   = 10k*
Total minimal per orang = 82k

*(kadang negotiable dan menyesuaikan dengan lama kamu mendaki, pas aku kebetulan kena 10k untuk 2 hari)
**tergantung jenis motor 
Tentu itu belum termasuk konsumsi dan biaya lain-lain.
Ingat, bea konsumsi bakalan lebih murah kalau naik gunung ga sendirian. Kalo sendirian mah, tekor kali. Hehe
Oke ini bagian yang aku suka, sharing foto. Ga semua foto bisa diupload sih, tapi setidaknya biar kamu juga ada gambaran disana kayak apa.
***semua foto diambil dengan kamera hp standar, nokia lumia, tanpa efek dan tanpa edit

 selamat pagi para pendaki. Semoga harimu secerah sang mentari pagi.


Nice picture is not it ?
 

                                               



 Jadi, apa yang kamu tunggu ?
Segera atur waktumu, packing dan segera angkat ranselmu. Lets go to prahu mountain :)
Salam ransel (:


Abah dan Puncak Ungaran

0 komentar

Abah dan Puncak Ungaran


Long week end bulan November lalu, tepatnya sabtu sore, aku tengah asik merampungkan laporan mikrobiologiku. Salah seorang adik kos masuk ke kamar, dan bilang ada yang mencariku. Siapa?
Tanyaku dalam hati.
Ah, ternyata syaiful.
Tumben dia datang tanpa pemberitahuan (pikirku).
"Ana apa pul ?" (#Ada apa pul ? ) Tanyaku
"Ayo mangkat!"
"Heh.. mangkat ngendi ?" (#berangkat kemana ?) TAnyaku heran
"Ungaran "
"Waduh...ko ndadakya?"
Tek. Sebuah ingatan melintas. Aku baru sadar besok ada praktikum fisiologi tumbuhan. Ah, kenapa juga sih praktikum hari minggu.
Dengan sedikit ragu aku akhirnya ikut bareng sepul Ke lab mtk bertemu simu. Simu ternyata sudah sms aku tapi hapeku mati (eh,baru sadar).
Simu punmulai mengambil peralatan yang akan dibawa. 
Aku pergi berbelanja. Syaiful pergi sendiri ga tahu kemana.
Tiba-tiba saja, hp ku berbunyi. Simu sms bahwa temannya tidak jadi berangkat.
Waduh, naik gunung dalam jumlah ganjil ? Keragu-raguanku bertambah.
Iseng, ku sms temanku bagus dan bilang bahwa kami bertiga akan naik ungaran.
Yes, bagus bisa.
Setelah semuanya siap. Bada ashar kami berangkat.
Ditengah perjalanan hujan datang.
Jas hujan yang ku bawa rupanya kurang memadai, alhasil baju yang kupakai basah kuyup.
Brrr dingin luar biasa. Enaknya sih dingin2 gini makan mie trus minum edang jahe. Ups, lupa, lagi puasa hehe.
Perjalananpun dilanjutkan dengan kondisi demikian. 
Entah sudah menjadi TRADISI atau memang kelakuan dari kami jika bepergian slalu saja NYASAR. wah, wah, padahal simu bilang akan lewat jalur pintas nyatanya muter-muter ga karuan cuy.
Skip
Tiba di medini. Sudah magrib, waktunya sholat magrib dan berbuka puasa (bagi yang puasa).
usai solat, dengan kondisi hujan cukup deras, kami berangkat. Sebelumnya motor kami titipkan di rumah salah satu warga di situ.
O ya, FYI, ini adalah perjalanan naik terakhir syaiful dengan HP nya. Karena hp nya ( live walkman) kini sudah berpindah tuan. (foto hp menyusul).
Naik dan terus naik,. Naik lalu nyasar, kembali ke pos pemberangkatan. dan akhirnya melalui jalan yang benar. Jauh bro, 3 jam kurang lebih kami berjalan kaki. Itu ga dihitung sama adegan nyasar lho.
Dan setelah istirahat di promasan (yang ternyata ramai dengan anak-anak hima Ipa UNNES), kami melanjutkan perjalanan dan mendirian tenda di antara tanaman teh.
Ini pertama kali kami menggunakan tenda milik kami sendiri.
 O yah kawan, kenapa aku memberi judul ini abah dan ungaran ?
Lihat foto di atas ya. Lihat baju dan sarung yang kupakai, itu adalah pemberian dari abahku. Ya, walaupun hanya sarung dan kaos obat bawang merah, Alhamdulillah keduanya berfungsi menghangatkan tubuhku. Ah, abah, aku jadi ingin pulang. Moga Engkau sehat disana. Maaf Abah anakmu mbolos praktikum, (tapi ga inhal, Alhamdulillah).

Another picture from this journey :



Honestly it is not a pre-wedd picture! haha

Diadema setosum and Thick-Knee (tragedi baluran )

1 komentar

3rd Annual baluran -PLN Birding competition, merupakan ajang bagi birdwatcher seluruh Indonesia untuk berkompetisi dan bersilahturahmi dengan sesama birdwatcher. Adapun yang diperlombakan meliputi bidang pengamatan dan identifikasi burung dilapangan, identifikasi burung via gambar dan suara dan tentu saja sketsa dan pengetahuan umum keburungan hehe.
Acara dilaksanakan selama 4 hari yakni dari tanggal 13-16 Juli 2012 dengan agenda pengamatan dihari kedua (14 Juli 2012). Tempat pengamatan secara umum dibagi menjadi dua yakni di bawah dan area atas (gunung baluran ). Area dibawah dibagi lagi menjadi 2 zona pengamatan yakni di area Bekol-Bama dan area bajulmati.
Kebetulan aku dan mba helida, yang tergabung dalam tim Riang Pelatuk BSC, mengamati jalur Bekol-Bama. Disinilah salah satu tragedi Baluran terjadi. (Akan diceritakan kemudian bersama perjalanan pP)
Untuk postingan kali ini, ada sedikit cerita mengenai perjalanan keliling pantai di BAluran atau dengan istilah lain field trip.
Senin, 16 Juli 2012 
Matahari pertama dipulau jawa bersinar cerah. Usai sarapan pagi, seluruh peserta berkumpul, diberi pengarahan lalu melakukan field trip ke pantai-pantai di baluran. Sebelumnya, para peserta berjalan kaki menuju pantai Bama, tempat perahu motor yang akan membawa kami berkeliling tengah menunggu. Lumayan jauh jarak dari camp menuju pantai Bama kurang lebih 5 Km.
Selama perjalanan menuju Bama, banyak anggota family Columbidae yang kami temui. Kemungkinan yang kami lihat adalah Treron vernans (punai gading) atau Streptopelia chinensis (tekukur biasa) atau yang lainnya. (Maklum, masih belajar, jadi belum bisa mengidentifikasi burung yang dilihat dengan cepat dan tepat.). Satu yang pasti, kami tidak melihat si Spilornis Cheela di daerah savana. Padahal kemarin kami dapat melihatnya dengan jelas.
Tibalah di Bama. Langsung menuju perahu motor menuju Roma eh salah menuju pantai bilik maksudnya.
Perahu menuju pantai bilik selama lebih dari dua jam, waktu yag sama bagi sang surya membakar kulit penumpang di perahu ku (maklum ga ada penutupnya), untungnya selama itu pula, pemandangan akan pantai-pantai baluran yang pui\tih, bersih, menyejukkan mata.
Sampai di Bilik, langsung saja aku, mas panji dan mas agus langsung menceburkan diri dan berenang di sana. Kurang dari lima menit berenang.
"Kenapa mas?" tanyaku pada mas panji yang terlihat meringis kesakitan.
"kena landak lau" katanya.
Wah wah.. kasian mas panji. Baru renang sebentar, sudah apes. Ga tanggung-tanggung 6 duri si Diadema setosum bersarang dikakinya. Ini nih yang bikin mas panji meringis:
Mas panji kesakitan dan menepi sementara aku mas agus dan yang lain, tetap saja berenang. Baru setelah mas agus ikut menjadi korban aku menepi. Penasaran dengan hewan itu, mas agus mengambilnya 1 dan membuka lalu memakan gonadnya. Aku ikut2an. Hrrrrr amis, asin dan manis rasanya hehe.
Cuaca makin panas, usai berfoto ria aku dan teman-teman mengitari hutan bakau hingga jam 2 kurang.
Selanjutnya, panitia membagikan door prize,, sayang belum rezekinya, ga satupun doorprize kudapat. (kecuali 1 pisau lipat sewaktu menjawab pertanyaan di camp).

                                     Gambar 2 : Situasi pembagian doorprize
Saat pembagian door prize, datanglah burung yang kami tunggu. WWB or wili-wili besar atau Beach-Thick knee atau Burhinus gigantus . Beruntung rasanya melihat mereka :

Maccinon et all (2010) mengunggkapkan bahwa burung ini memiliki ukuran besar (55cm) sesuai namanya. Ciri khas yang dimilikinya adalah kaki panjang dan kuat, tidak ada jari belakang, lutut membesar. PAruh kekar, mahkota dan bagian atas coklat abu-abu, sisi kepala ditandai strip-setrip hitam dan putih. Siulan sedih yang bernada rendah. Suara wili-wili besar.


Thanks to :
Sobat dari Lombok : Lintang


Merbabu part I ---Koreknya mana?

1 komentar

Bagi beberapa orang, naik gunung merupakan hal yang menantang, menghibur dan mengasyikkan. Berangkat dari beberapa anggapan inilah, pada akhirnya aku mencoba untuk mencobanya bersama beberapa teman-temanku. Tidak tanggung-tanggung, gunung yang kami pilih untuk pendakian pertama kali adalah gunung Merbabu. Padahal ada satu gunung yang lebih dekat dari tempat kuliah kami yakni gunung Ungaran.
Persiapan yang kami lakukan terbilang cukup singkat. H-1 kami baru mulai melengkapi peralatan yang akan digunakan. Beberapa alat sudah ada, beberapa kami beli, dan sisanya tentu saja pinjam hehe.
Briefing sejenak usai belanja peralatan,  Si-Mu, yang sering naik gunung diatara kami, menyampaikan apa yang harus dibawa, aku dan gilang mencatat semua peralatan yang harus di persiapkan, termasuk di dalamya tertulis matras, korek, lilin, spirtus, kaleng, nesting, SB, tas carier, baju hangat, dll.
Malamnya, peralatan dibawa ke kosku dan pagi sekitar jam 6 kurang, kami berangkat dengan dua motor. Aku mbonceng  syaiful sedangkan simu dengan gilang. 
Baru 5 menit keluar dari kos, tiba di tikungan pertama, insiden kecil terjadi. Motor yang di setir sepul oleng dan akhirnya
GUBRAK...
motor kami terjatuh. Aku yang membawa tas carier pun pasrah dan ikut jatuh.hehe
Sayangnya, insiden ini tidak kami abadikan dalam bentuk foto.
Perjalanan pada akhirnya kami lanjutkan,, dan sampailah kami di jalur pendakian merbabu via kopeng.
Usai registrasi dan lapor diri, kami mulai mendaki.
Belum sampai di pos 1, nafas kami mulai tidak teratur alias ngos-ngosan, alhasil kami berhenti.
Ini dia rupa kami saatberhenti, beristirahat.
Meski cukup melelahkan, perjalanan terus kami lanjutkan. Semakin kami keatas, semakin terlihat kecil desa-desa di bawah, termasuk pos pemberangkatan. 
Inilah mungkin salah satu kenikmatan sekaligus refleksi bagi kita bahwa jika dari ketinggian tertentu saja kita melihat rumah dan saudara kita menjadi sangat kecil, bagaimana rupa kita jika dilihat dari tempat Allah swt??
Di pos ketiga, kami berhenti untuk memasak. Simu si ahli perapian mulai membuat kompor kecil dari kaleng susu.
Sementara ia sibuk, aku, syaiful dan gilang bergantian sholat. Saat kompor sudah siap tas mlai kami bongkar dan simu mencaricari korek api.
"Koreke ndi mam?"
"Ora ngarti, kayane aku ora nggawa. Lha jare pan tuku nang pasar salatiga? bisane ora mampir"
Simu kesal, diambilnya satu bungkus Indomie rebus dan diremuk lalu dimakan.
(Itu cerita kami, apa ceritamu?)
bersambung

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers