Surat fiksi
Bukit Seberang Unnes, 1 November 2014
Dua
puluh dua tahun yang lalu.
Seorang
wanita tengah berjuang keras di pembaringan. Keringat dengan jelas menetes
deras di dahi yang dipegang dan diusap dengan lembut oleh seorang
lelaki,suaminya. Ya, saat itu, jelas wanita itu merasakan sakit yang luar biasa.
Sakit yang hanya bisa dirasakan oleh kaum hawa saja, sementara kaum Adam hanya
menerka dan menduga seberapa sakitkah rasa itu. Ditengah rasa sakitnya, jauh di
dalam hati wanita itu, dia terus berdoa agar ia mampu menahan rasa sakit itu.
Semua, demi melahirkan janin yang sudah 9 bulan berada di dalam rahimnya.
Wanita
itu tersenyum dengan manis sekali. Diredamnya rasa sakit yang masih jelas nampak
diantara senyumnya. Ya, melihat wajah sang bayi yang baru lahir, rasanya sudah
cukup untuk menutup rasa sakit yang ia terima. Tangis yang semula berasal dari
rasa sakit itupun kini berubah menjadi tangis penuh bahagia. Sang wanita dan
suaminya benar-benar merasa lega. Anak mereka telah lahir kedunia dengan
selamat.
Ya,
mungkin itu sedikit gambaran saat kamu dilahirkan dua puluh dua tahun yang
lalu. Kau tentu saja tidak ingat semua peristiwa itu. Namun kehadiranmu di
dunia ini adalah bukti bahwa wanita itu, yang biasa kau panggil Mama, pernah,
mempertaruhkan seluruh jiwa dan raganya untuk menahan rasa sakit dan melahirkanmu
ke dunia. Maka nikmat Tuhanmu yang
manakah yang engkau dustakan?
Dua
puluh dua tahun genap sudah usiamu saat ini. Kamu pasti sudah merasa ada
perbedaan pada dirimu. Secara fisik, engkau sudah matang dan sudah melewati
masa remaja. Semua tanda-tanda kematangan itu tentu bisa engkau lihat dengan
mudah saat engkau berkaca. Jakun yang mulai membesar, rambut yang mulai tumbuh
dibeberapa bagian tubuhmu dan perubahan lain yang pasti kamu lebih tahu. Secara
emosi kau juga mulai berubah. Kau tidak lagi se grusa grusu dahulu, setidaknya
kau mulai memikirkan dengan matang setiap hal yang akan dilakukan. Apa resiko
jika tidak berbuat dan apa resiko jika diperbuat. Termasuk saat engkau mulai
menaruh rasa itu kepada wanita yang kamu dekati. Kau mulai serius dengan urusan
itu, tidak lagi bermain-main seperti dulu.
Banyak
hal yang masih sampai saat ini aku masih belum tahu tentangmu. Kamu pasti tahu
bahwa aku memang seperti itu. Aku tidak berusaha mengorek dan mencari tahu
dengan detail perihal seseorang, kecuali mereka ingin menceritakannya sendiri,
atau aku benar-benar penasaran padanya. Tentunya itupun dengan caraku, hanya
mencukil sedikit dan membiarkan seseorang yang akan menceritakan semuanya
sendiri. Pengetahuanku akan orang-orang, termasuk dirimu ya masih tergolong sewajarnya,
meskipun aku juga mengetahui beberapa hal pribadi tentangmu.
Dua
puluh dua tahun, usia kita sama di bulan ini. Hari lahirku dan hari lahirmu
hanya terpaut dua pekan. Waktu yang tidak terlalu lama bagi kita (mungkin).
Tapi bagi Ibuku? Hmm…coba dibayangkan saja sendiri. Mungkin saat itu, entah
mana pernyataan yang cukup sesuai, aku yang saat itu terlalu senang dengan
lingkungan di Rahim Ibuku sehingga aku lebih memilih tinggal di sana lebih
lama, ataukah kamu yang terlalu bersemangat dan segera keluar dari Rahim Ibumu?
J
Dua
puluh dua tahun sudah usia kita di bulan ini. Siapa sangka kita dulu pernah
bertemu, jauh sebelum kita kenal di sekolah SMA? Lucu memang jika mengingat
ternyata kamu pernah mengikuti lomba yang sama denganku. Saat itu, aku pulang
dengan tangan hampa dan kamu pulang dengan sebuah piala bertuliskan juara tiga.
Oh, ya ada pula sahabat kita yang lain. Iya, yang juara 1, kamu pasti ingat
bukan dengan dia? Dia yang kini kepalanya di cukur ala tentara, dia yang
jurusan kimia dan pernah jadi ketua hima. Iya, dia, siapa lagi? hehe.
Aku
tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu. Aku percaya, hanya
mengirimkan sms berisi “ Rono ndang ndonga,,,tak amini ko kene” saja
sudah cukup menggambarkan bahwa pada hari ulangtahunmu ini aku masih ingat dan
masih peduli. Ya, aku mengamini doa-doamu dari sini, dari tempatku berada,
semua doa-doamu yang kamu panjatkan padaNya, terutama di hari ini.
Hmm..di
jatah usia yang sudah berkurang 22 tahun dan bilangan angka yang bertambah menjadi
22, aku berharap kamu menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ini dan
hari-hari sebelumnya. Semoga pula persahabatan yang kita miliki tidak mendapat
halangan sehingga bisa berjalan seterusnya. Well, perihal apa yang aku
bicarakan denganmu tempo hari dikamarku aku harap itu tetap menjadi rahasia.
Cukup tiga pihak yang tahu apa yang aku certitakan malam itu, hanya aku kamu dan
Tuhan yang tahu (hahahaha apaan coba).
Aku
juga berharap kamu bisa segera mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan
yang sering membuat kamu bingung. Siapa? Dimana? Kapan? Mengapa? Bagaimana?
Tenang kawan, ingat kata-kata dari teman kita yang lain. Dia selalu mengatakan,
semua akan indah pada waktunya. Yap, seperti itu juga kan yang kamu pelajarri
dijurusanmu? Buah akan masak pada waktunya. Butuh etilen untuk proses pemasakan
buah dan etilen tentu saja bereaksi dengan memerlukan waktu. Seperti itu juga
hidup ini cuy. Waktu akan menghadapkan kita pada proses-proses yang akan
membuat kita semakin matang. Semakin dewasa, dan bertambah kearah baik, tentu
jika diri kita menyesuaikan dengan kondisi yang seharusnya.
Duapuluh
dua tahun. Yah, lumayan banyak juga yah yang aku tulis. Semoga ini juga menjadi
refleksi buatku.
Well,
thanks for all. Happy birthday bro!
Mati lampu
Sejak bada maghrib tadi, kawasan unnes dan sekitarnya mengalami mati listrik. Beberapa sumber mengatakan bahwa peyebab gangguan adalah kerusakan komponen pada salah satu jaringan di gardu Ungaran. Praktis tidak hanya kawasan unnes saja yang mengalami pemutusan aliran listrik sementara melainkan hal serupa juga terjadi di beberapa kota seperti kudus, magelang, jogja dan beberpa kota di daerah pantura.
Saat mati lampu tadi, banyak orang yang mencari-cari lilin dan korek. Lilin dan warung mendadak mengalami kenaikan permintaan dua barang tadi. Ada pula beberapa orang yang cuek saja dengan keadaan gelap. Diantara yang cuek itu, malah megambil gitar dan memainkan beberaapa buah lagu. Tentu saja mereka tidak usah mengeluarkan suara terlalu keras, karena suara mereka menggema. maklum, TV, radio, mp3 yang biasa memutar musik dan suara lain mati karena tidak ada listrik.
Aku sendiri lebih memilih merebahkan diri di kasur. Menerawang dalam gelap sambil berharap hujan turun dengan segera. Bukan apa-apa, menurutku, mati lampu lalu ditambah hujan deras itu sesuatu yang sangat nikmat. Biasanya saat seperti itu, aku berkumpu bersama keluarga di ruang tengah/tamu di rumahku. Sembari bercengkrama, kami tetap melakukan aktivitas menyiapkan bungkusan sembako yang akan dijual keesokan harinya. Tentu saja tidak dalam kondisi sepenuhnya gelap, melainkan diterangi oleh lilin ataupun ceplik.
Mati lampu juga mengingatkanku pada beliau, nenekku. Aku sempat menuliskan beliau tempo hari.
Beliau, yang biasa aku panggil Made (akronim dari Mama Gede atau nenek) memiliki nama lengkap Kaswiyah. Setiap aku pulang, beliaulah yang seringkali ribut mencariku, lalu menanyai bagaimana kuliahku, apakah sudah ujian, kapan lulus, kapankah aku akan berangkat kembali, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Pertanyaan yang sebenarnya normal, namun karena diulang-ulang kadang bosen juga x-x. Mungkin itu memang tanda sayang beliau pada cucunya, aku.
Made merupakan salah satu wanita inspiratif menurut versiku. Meskipun beliau tuna netra, beliau juga memiliki beberapa prestasi yang membanggkan. Satu diantara prestasi itu adalah penghafal alquran terbaik diantara penyandang tunanetra di kabupaten Brebes. Aku pernah melihat sertifikat itu, meskipun sayang sekali sekarang sudah termakan rayap. Kata uwak dan mama, dahulu made masih bisa melihat, namun karena suatu hal lambat laun penglihatannya mengalami kemunduran dan menjadi seperti sekarang ini.
Gelap pada akhirnya mengundang kantuk. mata perlahan menjadi semakin berat, dan kau tahu kan apa yang terjadi selanjutnya?
Huahmmm....bantal dan kasur memanggil untuk ditemani.
Saat mati lampu tadi, banyak orang yang mencari-cari lilin dan korek. Lilin dan warung mendadak mengalami kenaikan permintaan dua barang tadi. Ada pula beberapa orang yang cuek saja dengan keadaan gelap. Diantara yang cuek itu, malah megambil gitar dan memainkan beberaapa buah lagu. Tentu saja mereka tidak usah mengeluarkan suara terlalu keras, karena suara mereka menggema. maklum, TV, radio, mp3 yang biasa memutar musik dan suara lain mati karena tidak ada listrik.
Aku sendiri lebih memilih merebahkan diri di kasur. Menerawang dalam gelap sambil berharap hujan turun dengan segera. Bukan apa-apa, menurutku, mati lampu lalu ditambah hujan deras itu sesuatu yang sangat nikmat. Biasanya saat seperti itu, aku berkumpu bersama keluarga di ruang tengah/tamu di rumahku. Sembari bercengkrama, kami tetap melakukan aktivitas menyiapkan bungkusan sembako yang akan dijual keesokan harinya. Tentu saja tidak dalam kondisi sepenuhnya gelap, melainkan diterangi oleh lilin ataupun ceplik.
Mati lampu juga mengingatkanku pada beliau, nenekku. Aku sempat menuliskan beliau tempo hari.
Beliau, yang biasa aku panggil Made (akronim dari Mama Gede atau nenek) memiliki nama lengkap Kaswiyah. Setiap aku pulang, beliaulah yang seringkali ribut mencariku, lalu menanyai bagaimana kuliahku, apakah sudah ujian, kapan lulus, kapankah aku akan berangkat kembali, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Pertanyaan yang sebenarnya normal, namun karena diulang-ulang kadang bosen juga x-x. Mungkin itu memang tanda sayang beliau pada cucunya, aku.
Made merupakan salah satu wanita inspiratif menurut versiku. Meskipun beliau tuna netra, beliau juga memiliki beberapa prestasi yang membanggkan. Satu diantara prestasi itu adalah penghafal alquran terbaik diantara penyandang tunanetra di kabupaten Brebes. Aku pernah melihat sertifikat itu, meskipun sayang sekali sekarang sudah termakan rayap. Kata uwak dan mama, dahulu made masih bisa melihat, namun karena suatu hal lambat laun penglihatannya mengalami kemunduran dan menjadi seperti sekarang ini.
Gelap pada akhirnya mengundang kantuk. mata perlahan menjadi semakin berat, dan kau tahu kan apa yang terjadi selanjutnya?
Huahmmm....bantal dan kasur memanggil untuk ditemani.
Sannin
Aku masih kikuk saja mengingat apa yang aku ucap sendiri
Ternyata memang beda rasanya saat memberi nasihat pada orang biasa dengan seseorang yang sudah kamu anggap saudara
Ada penekanan di sana
Bukan hanya di lidah saja
Dibagian tubuh yang tidak terlihatpun begitu
Memberi saran atau nasihat memang tidak mudah
Bukan masalah pada apa yang kita sampaikan pada orang yang meminta
Tapi lebih pada hal apakah kita juga bisa melakukan yang telah kita sarankan?
Dan malam itu hanya tiga hal yang bisa aku sarankan padamu bro!
Pada obrolan menjemput malam
Obrolan yang nyaris sama
Tiga tahunan lalu
Oleh tiga orang dibangku panjang
Di beranda kos berlantai tiga
Ternyata memang beda rasanya saat memberi nasihat pada orang biasa dengan seseorang yang sudah kamu anggap saudara
Ada penekanan di sana
Bukan hanya di lidah saja
Dibagian tubuh yang tidak terlihatpun begitu
Memberi saran atau nasihat memang tidak mudah
Bukan masalah pada apa yang kita sampaikan pada orang yang meminta
Tapi lebih pada hal apakah kita juga bisa melakukan yang telah kita sarankan?
Dan malam itu hanya tiga hal yang bisa aku sarankan padamu bro!
Pada obrolan menjemput malam
Obrolan yang nyaris sama
Tiga tahunan lalu
Oleh tiga orang dibangku panjang
Di beranda kos berlantai tiga
Sawahku meranggas kembali
Lama tirta tak menyentuh pertiwi
Yang ada halimun menyelimuti
Membuat sesak udara sedari pagi
Kata mereka ayo bermunajat
Lewat doa lewat sholat
Meminta hujan kepada Tuhan
Ayo bersama beristisqo
Ayolah segera kita meminta
Agar segera pula dikabulkanNya
Agar pertiwi tersnyum lagi
Dan Sri tegak di tanah petani
Lama tirta tak menyentuh pertiwi
Yang ada halimun menyelimuti
Membuat sesak udara sedari pagi
Kata mereka ayo bermunajat
Lewat doa lewat sholat
Meminta hujan kepada Tuhan
Ayo bersama beristisqo
Ayolah segera kita meminta
Agar segera pula dikabulkanNya
Agar pertiwi tersnyum lagi
Dan Sri tegak di tanah petani
Tuhan Maha Romantis
Diposting oleh
Imam fauzi
0
komentar
Apa ya?
Aku ingin menulis coretan itu, tapi ini malah yang ku tulis.
Sebuah lirik lagu, dari sebuah judul novel.
TUHAN MAHA ROMANTIS
Kubertanya pada udara
Yang tak pernah pahami rasa
Rindu setengah mati
Mendera hatiku
Kubertanya pada bulan purnama
Yang tak pernah selalu ada
Seperti dirimu yang jauh dariku
Kini semua telah usai
Jarak telah luruh
Rindu telah kita sulam
Menjadi temu
Tuhanlah yang maha romantis
Tuliskan kisah fantastis
Pertemukan kita lalu
Bersemilah cinta
Tuhanlah yang maha.romantis
Tuliskan kisah fantastis
Menyatukan gambar kita
Dalam bingkai yang apa adanya
***
Awalnya direkomendasiin bukunya, iseng searching malah nemu lagunya.
**
Allah, maaf untuk pekan ini, aku terlalu sibuk dengan rasa ini.
Seharusnya aku memang ingat, seromantis2nya manusia
Lebih romantis engkau
Terimakasih atas rasa malu yang masih Kau beri
Aku ingin menulis coretan itu, tapi ini malah yang ku tulis.
Sebuah lirik lagu, dari sebuah judul novel.
TUHAN MAHA ROMANTIS
Kubertanya pada udara
Yang tak pernah pahami rasa
Rindu setengah mati
Mendera hatiku
Kubertanya pada bulan purnama
Yang tak pernah selalu ada
Seperti dirimu yang jauh dariku
Kini semua telah usai
Jarak telah luruh
Rindu telah kita sulam
Menjadi temu
Tuhanlah yang maha romantis
Tuliskan kisah fantastis
Pertemukan kita lalu
Bersemilah cinta
Tuhanlah yang maha.romantis
Tuliskan kisah fantastis
Menyatukan gambar kita
Dalam bingkai yang apa adanya
***
Awalnya direkomendasiin bukunya, iseng searching malah nemu lagunya.
**
Allah, maaf untuk pekan ini, aku terlalu sibuk dengan rasa ini.
Seharusnya aku memang ingat, seromantis2nya manusia
Lebih romantis engkau
Terimakasih atas rasa malu yang masih Kau beri
Memperbanyak Tunas Pada Pisang
Tumbuhan secara apik dan tertata akan menyuplai sari-sari makanan ke seluruh bagiannya melalui jaringan angkut. Tidak terkecuali dengan bagian tunas. Pada beberapa tumbuhan seperti pisang, tunas juga berfungsi sebagai salah satu cara perkembang biakan, vegetatif. Dengan cara ini perbanyakan tunas, maka kebutuhan akan bibit pisang dapat dipenuhi.
meski demikian, laju permintaan bibit pisang dengan tingkat kemampuan penyediaan tunas pisang seringkali tidak seimbang. Pertunasan alami yang dialami oleh pisang hanya akan menghasilkan 2-3 anakan dalam kurun waktu 2-3 Bulan. untuk itu, perlu dilakukan perlakuan khusus agar tunas yang dihasilkan oleh pisang bisa diperoleh dalam jumlah banyak dan waktu relatif singkat.
TEKNIK MEMATIKAN MERISTEM
Salah satu teknik atau perlakuan pada proses penyiapan tunas pisang sebagai bibit siap tanam adalah dengan cara mematikan meristem. Teknik ini diperkenalkan oleh salah satu peneliti dari balai pengkajian yteknologi pertanian (BPTP) malang, jawa Timur, Paulina Evy Prihardini MP. Evy memperkenalkan teknik mematikan meristem pada petani pisang di tiga desa di Jawa Timur yakni Srimulyo, Sukodono, dan Baturetno di kecamatan Dampit. Pisang yang dijadikan uji coba berupa pisang Kirana. Tunas yang diperoleh dengan penreapan metode ini hanya memerlukan waktu antara 2-3 pekan atau lebih dari setengah dari waktu yang dibutuhkan untuk mem[eroleh anakan dengan cara menumbuhkan tunas secara alami. keunggulan lain dari teknik Evy adalah tunas yang dihasilkan dengan cara ini akan memiliki ukuran dan kualitas yang persis sama baik antara indukan dengan tunas anakan maupun sesama tunas anakan.
CARA MEMATIKAN MERSISTEM
Cara mematikan meristem yang dilakukan oleh Evy adalah dengan cara berikut :
1. Pilih tanaman pisang remaja berumur 6-7 bulan sebagai bahan perbanyakan.
2. Gali bagian akar tanaman, potong anak-anakan yang tumbuh di bonggol
3. bersihkan bonggol dari tanah, akar dan anakan
4. kupas pelepah pisang dengan mengiris di pangkal batang
5. potong sisa batang yang tinggal empulur
6. empulur batang dan bonggol batang disterilkan dengan air bersih
7. Rendam empulur batang dalam larutan fungisida untuk memastikan tanaman pisang bebas penyakit
8. matikan meristem pisang dengan cara mengiris dan melubangi empulur di tengah batang
9. lelehkan lilin di atas wajan
10. sambil menunggu lilin meleleh tanam bonggol hingga permukaan pisang
11. oles dan siramkan cairan lilin itu di lubang dan permukaan bonggol pisang
12. setelah 2 pekan, anakan sudah terbentuk dan dapat dipisahkan 1-1,5 bulan kemudian
13. Tanam bibit pisang dalam polibag berisi media tanam. Setelah berdaun 3 lembar anakan siap ditanam.
#sumber : Trubus edisi Oktober 2014
meski demikian, laju permintaan bibit pisang dengan tingkat kemampuan penyediaan tunas pisang seringkali tidak seimbang. Pertunasan alami yang dialami oleh pisang hanya akan menghasilkan 2-3 anakan dalam kurun waktu 2-3 Bulan. untuk itu, perlu dilakukan perlakuan khusus agar tunas yang dihasilkan oleh pisang bisa diperoleh dalam jumlah banyak dan waktu relatif singkat.
TEKNIK MEMATIKAN MERISTEM
Salah satu teknik atau perlakuan pada proses penyiapan tunas pisang sebagai bibit siap tanam adalah dengan cara mematikan meristem. Teknik ini diperkenalkan oleh salah satu peneliti dari balai pengkajian yteknologi pertanian (BPTP) malang, jawa Timur, Paulina Evy Prihardini MP. Evy memperkenalkan teknik mematikan meristem pada petani pisang di tiga desa di Jawa Timur yakni Srimulyo, Sukodono, dan Baturetno di kecamatan Dampit. Pisang yang dijadikan uji coba berupa pisang Kirana. Tunas yang diperoleh dengan penreapan metode ini hanya memerlukan waktu antara 2-3 pekan atau lebih dari setengah dari waktu yang dibutuhkan untuk mem[eroleh anakan dengan cara menumbuhkan tunas secara alami. keunggulan lain dari teknik Evy adalah tunas yang dihasilkan dengan cara ini akan memiliki ukuran dan kualitas yang persis sama baik antara indukan dengan tunas anakan maupun sesama tunas anakan.
CARA MEMATIKAN MERSISTEM
Cara mematikan meristem yang dilakukan oleh Evy adalah dengan cara berikut :
1. Pilih tanaman pisang remaja berumur 6-7 bulan sebagai bahan perbanyakan.
2. Gali bagian akar tanaman, potong anak-anakan yang tumbuh di bonggol
3. bersihkan bonggol dari tanah, akar dan anakan
4. kupas pelepah pisang dengan mengiris di pangkal batang
5. potong sisa batang yang tinggal empulur
6. empulur batang dan bonggol batang disterilkan dengan air bersih
7. Rendam empulur batang dalam larutan fungisida untuk memastikan tanaman pisang bebas penyakit
8. matikan meristem pisang dengan cara mengiris dan melubangi empulur di tengah batang
9. lelehkan lilin di atas wajan
10. sambil menunggu lilin meleleh tanam bonggol hingga permukaan pisang
11. oles dan siramkan cairan lilin itu di lubang dan permukaan bonggol pisang
12. setelah 2 pekan, anakan sudah terbentuk dan dapat dipisahkan 1-1,5 bulan kemudian
13. Tanam bibit pisang dalam polibag berisi media tanam. Setelah berdaun 3 lembar anakan siap ditanam.
#sumber : Trubus edisi Oktober 2014
Langganan:
Postingan (Atom)





