There can be no “teacher” without ‘pupils’ , no rebel without ‘establishment’.

Arti Peimpin

Pemimpin adalah orang pertama sekaligus orang terakhir dalam sebuah kelompok (Mukti 2013)

This is featured post 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Gunung Prahu

SEUMUR HIDUP KITA SEKALIPUN TIDAK AKAN CUKUP UNTUK MENGELILINGI INDONESIA. I LOVE INDONESIA.

Tampilkan postingan dengan label Penerapan Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penerapan Ilmu. Tampilkan semua postingan

Rumah Belajar

0 komentar



Rumah Belajar

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Selamat sore bapak ibu guru hebat di manapun Anda berada
Pada kesempatan yang berbahagia kali ini 10 September 2019 Saya M Imam Fauzi akan mereview sedikit tentang rumah belajar yang ada pada alamat belajar titik. baik pertama kita buka terlebih dahulu untuk alamat yang dimaksud setelah kita buka kita pilih konten yang akan kita review Saya klik rumah belajar pada rumah belajar Saya klik kembali sesuai dengan apa yang saya ajar yaitu tentang biologi saya pilih untuk laboratorium Maya teknik pada laboratorium Maya kita bisa memilih lagi materi Apa yang akan kita ulas atau Kuta review Saya memilih untuk menguji kandungan protein dalam makanan laborat Emangnya dapat kita gunakan secara online ataupun secara offline Adapun secara offline kita bisa menggunakannya dengan terlebih dahulu mengunduh Maya sesuai apa yang kita perlukan Ingatkan saya gunakan di sini online karena secara offline sudah saya pernah lakukan pada fitur laboratorium Maya di sini untuk membantu guru maupun siswa dalam menambah pemahaman pada beberapa percobaan sederhana atau praktikum pada materi-materi di sekolah keberadaan fitur ini juga mampu meminimalisir waktu praktikum di mana terkadang membutuhkan waktu yang lama dalam memanfaatkan dalam memanfaatkan lip Maya secara online maupun offline memiliki beberapa keuntungan dan kelebihan atau kelebihan dan kekurangan masing-masing Adapun kelebihan pada saat kita melakukannya secara online kita tidak perlu untuk menyimpan laboratorium Aya di dalam laptop namun kekurangannya penggunaannya terbatas pada paket data yang kita miliki Kemudian untuk review konten yang kedua di sini saya akan mereview pada bank soal kita coba untuk kembali pada bank soal kita bisa memilih sesuai dengan adzan di sekolah Apakah tingkat SD SMP ataupun SMA Saya memilih SMA untuk kelas 11 kemudian saya memilih pelajaran yang saya ajar yaitu biologi akan tetapi ketika sudah kita buka ternyata untuk pelajaran biologi ada masih nol ataupun belum tersedia Mandiri ketika di klik akan memunculkan tombol mulai dan pilihan jumlah soal yang akan dijawab Ini juga masih belum dapat memunculkan soal-soal yang dimaksud atau mungkin koneksi saya yang bermasalah



Pada tampilan tersebut pilih salah satu ikon dari fitur yang akan kita eksplorasi. Saya mencoba memilih untuk memilih Bank soal dan Laboratorium maya.


A. Bank Soal
Pada bank soal, kita dapat melihat kumpulan soal-soal yang dapat kita jadikan sebagai bahan latihan siswa atau refrensi Guru dalam menyusun soal baik untuk latihan di rumah, diskusi atau ulangan. Adapun tampilan awal dari fitur ini adalah sebagai berikut :





Karena saya mengajar mata pelajaran PKWU dan Biologi di tingkat SMA maka saya memilih link Sekolah Menengah Atas.  Setelah itu saya memilih kelas 11 dan  memilih mata pelajaran Biologi. Seperti tampilan berikut ini.




Sayangnya, untuk soal evaluasi umum saat saya buka masih 0 entri atau belum tersedia. Untuk link evaluasi mandiri ketika di klik akan memunculkan tombol mulai dan pilihan jumlah soal yang akan di jawab, namun untuk menu ini juga masih belum dapat memunculkan soal-saoal yang dimaksud (atau mungkin koneksi saya yang bermasalah).


B. Laboratorium  Maya
Fitur laboratorium maya mampu membantu Guru maupun siswa untuk menambah pemahaman pada beberapa percobaan sederhana/praktikum pad a materi-materi di sekolah. Keberadaan fitur ini juga mampu meminimalisir waktu praktikum dimana terkadang membutuhkan waktu lama.
Setelah kita klik menu laboratorium maya, kita pilih percobaan yang akan kita lakukan, misal  uji kandungan protein dalam makanan.







Kita dapat memanfaatkan lab maya secara online ataupun offline dengan terlebih dahulu mendownload lab maya. Setelah  kita memilih percobaan kita dapat  mulai melakukan simulasi percobaan.



Untuk memulai menggunakan rumah belajar klik tautan berikut : Rumah Belajar.id
Review Rumah Belajar dengan bantuan STT dan TTS :https://youtu.be/jE1YCoqKnZo

Memperbanyak Tunas Pada Pisang

0 komentar

Tumbuhan secara apik dan tertata akan menyuplai sari-sari makanan ke seluruh bagiannya melalui jaringan angkut. Tidak terkecuali dengan bagian tunas. Pada beberapa tumbuhan seperti pisang, tunas juga berfungsi sebagai salah satu cara perkembang biakan, vegetatif. Dengan cara ini perbanyakan tunas, maka kebutuhan akan bibit pisang dapat dipenuhi.
meski demikian, laju permintaan bibit pisang dengan tingkat kemampuan penyediaan tunas pisang seringkali tidak seimbang. Pertunasan alami yang dialami oleh pisang hanya akan menghasilkan 2-3 anakan dalam kurun waktu 2-3 Bulan. untuk itu, perlu dilakukan perlakuan khusus agar tunas yang dihasilkan oleh pisang bisa diperoleh dalam jumlah banyak dan waktu relatif singkat.

TEKNIK MEMATIKAN MERISTEM
Salah satu teknik atau perlakuan pada proses penyiapan tunas pisang sebagai bibit siap tanam adalah dengan cara mematikan meristem. Teknik ini diperkenalkan oleh salah satu peneliti dari balai pengkajian yteknologi pertanian (BPTP) malang, jawa Timur, Paulina Evy Prihardini MP. Evy memperkenalkan teknik mematikan meristem pada petani pisang di tiga desa di Jawa Timur yakni Srimulyo, Sukodono, dan Baturetno di kecamatan Dampit. Pisang yang dijadikan uji coba berupa pisang Kirana.  Tunas yang diperoleh dengan penreapan metode ini hanya memerlukan waktu antara 2-3 pekan atau lebih dari setengah dari waktu yang dibutuhkan untuk mem[eroleh anakan dengan cara menumbuhkan tunas secara alami. keunggulan lain dari teknik Evy adalah tunas yang dihasilkan dengan cara ini akan memiliki ukuran dan kualitas yang persis sama baik antara indukan dengan tunas anakan maupun sesama tunas anakan.

CARA MEMATIKAN MERSISTEM
Cara mematikan meristem yang dilakukan oleh Evy adalah dengan cara berikut :
1. Pilih tanaman pisang remaja berumur 6-7 bulan sebagai bahan perbanyakan.
2. Gali bagian akar tanaman, potong anak-anakan yang tumbuh di bonggol
3. bersihkan bonggol dari tanah, akar dan anakan
4. kupas pelepah pisang dengan mengiris di pangkal batang
5. potong sisa batang yang tinggal empulur
6. empulur batang dan bonggol batang disterilkan dengan air bersih
7. Rendam empulur batang dalam larutan fungisida untuk memastikan tanaman pisang bebas penyakit
8. matikan meristem pisang dengan cara mengiris dan melubangi empulur di tengah batang
9. lelehkan lilin di atas wajan
10. sambil menunggu lilin meleleh tanam bonggol hingga permukaan pisang
11. oles dan siramkan cairan lilin itu di lubang dan permukaan bonggol pisang
12. setelah 2 pekan, anakan sudah terbentuk dan dapat dipisahkan 1-1,5 bulan kemudian
13. Tanam bibit pisang dalam polibag berisi media tanam. Setelah berdaun 3 lembar anakan siap ditanam.


#sumber : Trubus edisi Oktober 2014

Determinasi seks pada manusia-Mungkinkah laki-laki akan punah?

0 komentar

Masih ingat tanda-tanda hari akhir ? Salah satu yang paling diingat kemungkinan bahwa jumlah laki-laki dan perempuan akan mengalami perbandingan yang sangat besar. Bisa mencapai perbandingan laki-laki dan perempuan 1:50 . Berikut ini sedikit ulasan mengenai hal itu dari sisi genetika. Semoga bermanfaat

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Salah satu ciri makhluk hidup adalah berkembang biak. Untuk melakukan perkembangbiakan, umumnya diperlukan dua individu dimana satu individu berperan sebagai pejantan dan satu yang lain berperan sebagai betina. Hal ini terlihat dengan jelas terutama pada makhluk hidup tingkat tinggi, termasuk manusia. Kedua kelamin  yakni jantan dan betina ditentukan oleh suatu proses yang disebut determinasi seks.
Determinasi seks atau penentuan jenis kelamin dapat dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor lingkungan dan faktor genetik (Widianti et all 2012). Faktor lingkungan meliputi suhu, kelembapan udara, dan semua faktor lain yang berasal dari luar individu. Faktor kedua adalah faktor genetik, yakni faktor yang berasal dari dalam individu dan diturunkan dari induk kepada keturunannya.
Pada manusia, faktor genetik yang dimaksud adalah dua kromosom seks yang terdiri dari kromosom X dan kromosom Y. Seseorang akan memiliki jenis kelamin laki-laki manakala dia memiliki kromosom Y, atau dengan kata lain pada tubuhnya ditemukan satu kromosom X dan satu kromosom Y. Di sisi lain, seseorang akan memiliki jenis kelamin perempuan apabila dia tidak memiliki kromosom Y atau dengan kata lain hanya ditemukan dua kromosom X pada tubuhnya.
Dengan sepasang krosom seks, XX pada perempuan dan XY pada laki-laki, diketahui bahwa untuk setiap perkawinan kemungkinan terlahir anak laki-laki dan perempuan adalah sama, yakni masing-masing sebesar 50 % sebagaimana terlihat pada gambar di bawah ini :
 

Gambar 1 Pola pewarisan kromosom seks pada manusia
Dengan kemungkinan yang sama, seharusnya jumlah anak laki-laki dan perempuan pada suatu tempat/daerah adalah sama atau nyaris sama. Pada fakta di lapangan, dewasa ini, akan lebih mudah ditemukan individu berjenis kelamin perempuan daripada individu berjenis kelamin laki-laki. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa perbandingan anak laki-laki dan perempuan mengalami perubahan yang signifikan pada generasi berbeda.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
a. Bagaimanakah perbandingan jumlah kelahiran anak laki-laki dan perempuan pada generasi yang berbeda ?
C. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah :
a. Mengetahui perbandingan jumlah kelahiran anak laki-laki dan perempuan pada generasi yang berbeda.
D. Manfaat
            Manfaat dari penelitian ini adalah :
a. Menambah pengetahuan dan pengalaman tentang penerapan ilmu genetika terutama pada materi determinasi seks melalui kegiatan membandingkan jumlah kelahiran laki-laki dan perempuan pada generrasi yang berbeda

   
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kromosom Seks
Penentuan jenis kelamin atau determinasi seks pada manusia ditentukan oleh kromosom X dan Kromosom Y. Secara lebih lengkap dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Kromosom X
Kromosom X pada manusia berbentuk metasentrik. 165-Mb kromosom X manusia mengandung sekitar 1500 gene, dimana banyak diantara gen tersebut memiliki fungsi yang berbeda pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Ujung kromosom X dan Y merupakan daerah pseudomonal regions (PAR) yaitu daerah rekombinasi selama meiosis dan mempunyai gen yang sama atau homolog. Daerah khusus Nonpseudosomal regions kromosom X (NPX) dan kromosom Y (MSY) bukan daerah rekombinasi satu sama lain, dan tidak mengandung gen dengan alel yang sama. Perbedaan jumlah gen dari NPX dan MSY berpengaruh terhadap munculnya perbedaan jenis kelamin antara organ XX dan XY (Mustofa 2009).
2.  Kromosom Y
Kromosom Y pada manusia yang menentukan apakah seseorang akan berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Kromosom Y berbentuk akrosentrik. Perbedaan bentuk kromosom Y dan X menyebabkan ada bagian yang homolog dan bagian yang non homolog. Kromosom Y berukuran lebih kecil dari ukuran kromosom X. 60-Mb kromosom Y manusia hanya mengandung sekitar 50 gen fungsional yang menempel pada sekuens DNA yang berulang. Perbedaan kromosom X dan Y dapat dilihat pada gambar berikut :




Gambar 2 Perbedaan struktur dan kandungan informasi  genetik kromosom  X  dan Y
 


B. Deterrminasi seks manusia
Faktor Kromosom
Secara normal, perkembangan parental organ genital pada laki-laki dan permpuan berlangsung sangat kompleks. Jenis kelamin ditentukan oleh tiga faktor yakni kromosom, faktor gonad, dan faktor hormonal. Pada embrio manusia, gonad mulai berkembang menjadi tunas duktus mesonefrik pada minggu ke lima kehamilan. Migrasi sel primordia ke dalam gonadal ridges terjadi antara minggu ke 4 – 6 kehamilan. Pada minggu ke 6, gonad menjadi indifferens, bipotensial, dan bisa membentuk testis atau ovarium. Mereka terdiri atas sel germinal, epitel (granulosa/sel Sertoli), mesenkim (theca/sel Leydig) dan sistem mesonefrik. Duktus Müllerian dan Wolffian terdapat berdampingan. Adanya perbedaan seksual tersebut memerlukan arah yang diatur berbagai gen, dengan faktor penentu gen tunggal yang ada di kromosom Y, yaitu testes`determining faktor (TDF), yang diperlukan untuk diferensiasi testicular, pada minggu ke 6 - 7 kehamilan (Karkanaki et al., 2007).
Gen Sry yang terletak pada lengan terpendek kromosom Y, menyebabkan testis berkembang. Bagian tubulus seminiferus pada testis selanjutnya mengeluarkan MIH (Mullerian Inhibitor Hormon) yang mencegah perkembangan saluran mulleri ( tuba vallopi, uterus dan vagina atas). Testis juga mengeluarkan hormon testosteron yang memacu perkembangan struktur jantan di tempat lain termasuk di dalam otak. Testosteron, yang berubah menjadi 5-DHT karena pengaruh enzim 5-alfa reduktase dalam sitoplasma sel genitalia eksterna dan sinus urogenital, menyebabkan terjadinya diferensiasi gonad laki-laki. Diferinsiasi yang dimaksud, terjadi secara pada minggu 9-12 masa gestasi dan terbentuk sempurna sekitar minggu 12-14 masa gestasi.



BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian     
Penelitian dilakukan pada  pada tanggal 20 Mei-1 Juni 2014 di Desa Sadeng dan Sekaran Kec. Gunungpati Semarang.
B. Subjek Penelitian
Subjek pada penelitian ini adalah warga desa Sadeng dan desa Sekaran Gunungpati. Penelitian dilakukan pada beberapa RT yang memiliki penduduk banyak.
C. Objek Penelitian
Objek yang akan dikaji pada penelitian ini adalah perbandingan jumlah kelahiran anak-laki-laki dan perempuan dari keluarga dengan KK berusia ≥ 60 tahun, dan KK berusia 40 tahun.
D. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitaian deskriptif dengan mengambil sampel keluarga dengan KK berusia ≥60 tahun dan KK 40 tahun masing-masing sebanyak 35 keluarga. Keluarga yang digunakan sebagai sampel selain memiliki KK dengan kriteria yang telah disebutkan, juga harus memiliki keturunan minimal 3 orang. Semua keluarga yang berjumlah 70 keluarga diambil dari daerah sadeng dan Gunungpati Semarang. Variabel pada penelitian ini adalah jumlah anak laki-laki dan jumlah anak perempuan pada keluarga dengan kriteria yang telah ditentukan. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode angket dan observasi. Data selanjutnya dianalis dengan menggunakan analisis deskriptif persentase, dan kualitatif.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Dari hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut:
1. Keluarga Dengan Usia Kepala Keluarga  ≥60 Tahun
NO
NAMA KK
Anak Laki-Laki
Anak Perempuan
1
Pak Saimo-Mukriyem
2
3
2
Pak Yato Wiyono-Katmi
2
2
3
Pak Trimo-Sarinem
4
-
4
Pak Randiyo-Parmi
4
3
5
Pak Manto-Miyem
2
4
6
TN 1
4
2
7
TN 2
6
1
8
TN 3
4
2
9
TN 4
4
1
10
TN 5
4
1
11
Pak Mulyanto-Sriyanti
3
1
12
PAK Ahmad Nur-Sriyuliana
2
1
13
Pak Mohadi-Rumanah
3
1
14
Pak Subardi-Naniek
2
1
15
Pak Syaefudin-Haniatun
3
3
16
TN 6
1
2
17
TN 7
4
1
18
TN 8
4
4
19
TN 9
6
2
20
TN 10
1
2
21
Pak Rohmat-Sutinem
1
5
22
Pak Kusno-Mukirah
3
3
23
Pak Madri-Waskinah
4
2
24
Pak Suyatno-Asih
5
1
25
Pak Hanggar-Wahyuningsih
2
1
26
Pak Soberi-Suminah
3
2
27
Pak Busro-Subiyah
3
3
28
Pak Sulaiman-Ami
3
3
29
Pak Daerobi-Umi Kulsum
2
4
30
Pak Asroni-Mudrikah
2
4
31
Sutikno
2
3
32
As’ad
2
1
33
Rukimin
3
-
34
Maskan
2
1
35
Juraemi
3
-
Total
105
67
           
2. Keluarga Dengan Usia Kepala Keluarga   40 tahun
NO
NAMA KK
Anak Laki-Laki
Anak Perempuan
1
Pak Suyetno-Karti
4
-
2
Pak Sugiyanto-Santi
2
1
3
Pak Samino-Kasinem
1
2
4
Pak Satimo-Narmi
2
2
5
Pak Pardi-Karni
1
2
6
TN 11
1
2
7
TN 12
1
3
8
TN 13
-
3
9
TN 14
2
2
10
TN 15
1
2
11
Pak Sudiran-widiastuti
3
1
12
Pak Sularto-Supiyati
-
2
13
Pak Ali Yudi-Kunarti
-
2
14
Pak Asnawi-Sri Suparti
-
2
15
Pak Abdul Royid-Sa’adatul
1
2
16
TN 16
3
1
17
TN 17
1
3
18
TN 18
2
1
19
TN 19
3
4
20
TN 20
5
5
21
Pak Wahyudin-Wahyuningsih
1
2
22
Pak Sutikno-Tri
1
2
23
Pak Selamet –Rukini
1
2
24
Pak Pasmo-Tukini
1
2
25
Pak Fajar-Nana
-
5
26
Pak Suyono-Ani
3
1
27
Pak Soim-Mona
1
3
28
Pak Saeri-Tarni
4
-
29
Pak Fadli-Harti
1
5
30
Pak Damoni- Mun
3
1
31
Sutikno
2
3
32
As’ad
2
1
33
Rukimin
3
-
34
Maskan
2
1
35
Juraemi
3
-
Total
56
73
*TN =  Tanpa Nama, hal ini karena human error berupa lupa mencatat nama KK


B. Analisis Data
1. Analisi kelahiran anak dengan kepala keluarga berusia ≥ 60 tahun
a. Jumlah kelahiran anak dengan KK ≥ 60 tahun  =  Jumlah anak laki-laki + Jumlah anak perempuan
                                                                         = 105 anak  + 67 anak
                                                                         = 172 anak
b. % kelahiran anak laki-laki =  x 100%
                                           =  x 100%
                                           = 61 %
c. % kelahiran anak perempuan =  x 100%
                                                 =  x 100%
                                                 = 39  %
d. Perbandingan antara kelahiran laki-laki : kelahiran perempuan =  61% : 39 %

2. Analisis kelahiran anak dengan kepala keluarga  berusia 40  tahun
a. Jumlah kelahiran anak dengan KK 40 tahun  =  Jumlah anak laki-laki + Jumlah anak perempuan
                                                                         = 56 anak  +  73 anak
                                                                         = 129 anak
b. % kelahiran anak laki-laki =  x 100%
                                           =  x 100%
                                           = 43,4  %
c. % kelahiran anak perempuan =  x 100%
                                                 =  x 100%
                                                 = 56,6  %
d. Perbandingan antara kelahiran laki-laki : kelahiran perempuan =  43,4% : 56,6 %


C. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa pada keturunan dengan kepala keluarga (KK) berusia ≥ 60 tahun, kelahiran anak laki-laki memiliki jumlah kelahiran lebih banyak daripada kelahiran anak perempuan. Dengan demikian, persentase kelahiran anak laki-laki juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan persentase kelahiran perempuan.
Di sisi lain, pada hasil analisis juga dapat diketahui bahwa pada keturunan dengan kepala keluarga (KK) berusia 40 tahun kelahiran anak laki-laki memiliki jumlah kelahiran lebih sedikit daripada kelahiran anak perempuan. Jadi, persentase kelahiran anak laki-laki juga lebih rendah jika dibandingkan dengan persentase kelahiran laki-laki.
Perbandingan antara kelahiran anak laki-laki pada keluarga dengan KK berusia ≥ 60 tahun  dengan KK berusia 40 tahun adalah 61% berbanding 43,4% dan 33% berbanding 56% untuk kelahiran anak perempuan. Terlihat pada jarak selama 20 tahun, angka kelahiran laki-laki baik dalam jumlah maupun persentase mengalami penurunan. Di sisi lain, angka kelahiran perempuan baik dari jumlah dan peresentase mengalami kenaikan signifikan.
Kondisi ini mengindikasikan adanya suatu evolusi, terutama pada kromosom Y yang menentukan seseorang akan berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Graves (2002), menyatakan bahwa kromosom Y mengalami semacam evolusi dengan menghilangnya beberapa gen yang ada pada kromosom Y. Hal ini dibuktikan melalui penelitan Graves pada mole voles , sejenis rodentia atau hewan pengerat dari genus Ellobius.
Gen awal pada kromosom Y untuk genus Ellobius selain mengandung gen Sry juga mengandung Rbmy dan Ube 1y. Secara perlahan dan dalam waktu relatif singkat, Rbmy dan Ube 1y menghilang dan tidak lagi ditemukan pada kromosom Y. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 4  Proses hilangnya gen dari kromosom Y pada mole voles (genus Ellobius)
Pada genus ini, gen Sry ditemukan tiada pada dua spesies yakni E. lutescens yang masing-masing jenis kelamin memiliki XO, dan E. trancei yang masing-masing memiliki XX dengan salah satu X inactive pada salah satu jenis kelamin. Pada spesies ketiga yakni E. fuscopillus kedua jenis kelamin pada spesies ini masih memiliki XY dan XX secara sempurna. Meskipun demikian tidak terjadi kebingungan jenis kelamin, karena fungsi dari gen-gen pada Y digantikan oleh gen-gen lain yang ada pada X.
Grave (2002), menghitung secara sederhana tentang kromosom Y pada manusia. Jumlah gen pada kromosm Y yang telah hilang, dapat berasal dari sejumlah gen yang ada dan ditemukan pada kromosom Y lebih dari seratus ribu tahun yang lalu. Jadi, bagian yang non homolog antara Y dan X kemungkinan pada masa terdahulu merupakan bagian yang homolog.  Setidaknya terdapat 995 gen yang hilang sejak Y mulai berdiferentiasi sekitar 170-310 juta tahun yang lalu, atau 3-6 gen yang hilang untuk setiap tahun.
Kehilangan gen ini kemungkinan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah kelahiran anak laki-laki pada hasil penelitian di atas. Jika kondisi berkurangnya gen pada Y terus terjadi, maka tidak menutup kemungkinan kromosom Y pada manusia akan hilang dan menimbulkan ledakan jumlah populasi perempuan. Hal ini, lantaran hanya pada kromosom Y dapat ditemukan gen Sry. Gen Sry sendiri merupakan gen yang menyebabkan testis berkembang utnuk kemudian menghasilkan testosteron (Mustofa, 2002).  Kemungkinan lain apabila Y hilang adalah tergantikannya peran Sry dengan suatu gen sebagaimana terjadi pada Ellobius.


BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
1. Terjadi perbedaan antara jumlah kelahiran laki-laki dan perempuan pada generasi yang berbeda
B. Saran
1. Pengambilan data jumlah kelahiran anak laki-laki dan perempuan dilakukan tidak hanya untuk dua generasi saja, sebaiknya ditambah sehingga hasil yang didapat lebih terlihat
2. Pengambilan data disertai juga dengan data pendukung berupa data hasil observasi pada instansi pemerintahan seperti kantor kecamatan atau kelurahan



Daftar Pustaka
Graves, J.A.M. 2002. The Rise and fall of SRY. TRENDS in Genetics 18 (5) : 259-264
Karkanaki A, Prras N, Katsikis I, Kita M, Panidis D. 2007. Is the Y Chromosome all that s required for sex determination ?  Hippokratis 11(3): 120-123
Mustofa, Samsul. 2009. Peran Kromosom saeks Terhadap Perkembangan Otak. Majalah Kesehatan Pharma Medika 1 (2) : 54-60
Widianti, Tuti et all. 2012. Buku Ajar Genetika. Semarang : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang


 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers