Tampilkan postingan dengan label PPL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PPL. Tampilkan semua postingan
Kisah Si Melon yang hilang
Mataku mengantuk. Mulutku sudah menguap-uap lebar
sedari tadi. Langit-langit kamar sudah tidak nampak. Gelap. Lampu langganan
dari genset tetangga malam ini padam lebih awal. Hari hujan dan banyak kilat.
Mungkin pemilik mesin genset sangat sayang pada mesinnya barangkali tersambar
petir. Mungkin juga pemilik genset juga sudah mengantuk lebih parah dariku saat
aku baru mulai menulis cerita ini. Kemungkinan terakhir yang aku tepis adalah
pemilik mesin tahu bahwa salah satu pelanggannya adalah seorang guru SM3T yang
sendirian dan berbahaya jika malam-malam tidak lekas tidur. Bisa-bisa terlintas
pikiran yang tidak-tidak. Pikiran tentang kandasnya hubungan asmara lantaran
mengikuti program ini misalnya?hehe.
Aku tahu bahwa aku sudah semakin mengantuk. Ini
terlihat dari kesadaranku yang mulai timbul tenggelam. Mataku sebentar terjaga
dan sebentar terpejam. Segelas kopi hitam yang aku minum lima belasan menit
lalu nampaknya tidak terlalu efektif mengusir rasa kantuk. Meski begitu,
jari-jari tangan nampaknya masih siaga penuh. Semangat 86 untuk mengetik kata
demi kata. Kesadaran memang tidak seratus persen tapi alam bawah sadar memberi
perintah lebih tegas,”Malam ini harus memulai untuk membuat cerita pendek
tentang pengalaman SM3T!”.
Hari Minggu Sore di bulan Maret. Seperti sore-sore
sebelumnya, Ibu-ibu di dusun balai Ingin Hilir mengajakku bermain voli. Aku
yang memang tidak ada sesuatu yang dikerjakan tentu saja mau ikut. Tentu saja
tidak cuma ibu-ibu saja yang ikut bertanding. Bapak-bapak dan abang-abang juga
banyak yang ikut bermain. Jadi tim voli yang bermain merupakan tim campuran.
“Smash Pak Ozi..,” Seru Katan sembari memberikanku
bola umpan.
Aku yang memang kurang mahir dalam bermain voli tidak melakukan apa yang
Katan minta. Aku hanya mendorong bola melewati net. Semacam dunk kalau dalam basket. Masuk. Poin tim
kami bertambah.
“Sorry..,”ucapku pada Katan.
“Santai Jak pak,”jawabnya.
Permainan semakin lama semakin seru. Tanpa terasa sudah memasuki rubber set. Tim lawan yang diketuai Bu
Minun memberikan perlawanan yang cukup sengit.
Beberapa kali terjadi jual beli serangan dan rally panjang.
Sedang seru-serunya bermain, tiba-tiba dua orang laki-laki berusia 20
tahun datang menuju lapangan voli tanpa berbaju. Hanya mengenakan celana jins
panjang. Baru pertama kali aku melihat wajah mereka berdua.
“Mungkin mereka ingin bermain,”pikirku.
Jarak 1 meter dari lapangan, mereka berhenti. Mereka
mengucapkan kalimat dalam dialek Melayu Tayan. Aku sama sekali tidak bisa
menangkap apa yang mereka ucapkan. Tapi dari bahasa tubuh yang mereka
tunjukkan, mereka meminta agar kami berhenti bermain bola voli. Aku pun berdiri
dari posisi merecieve bola. Mereka
berdua menghampiriku sambil kembali mengucapkan kalimat yang tidak aku
mengerti.
Katan, secara sigap tiba-tiba maju dan berdiri di depanku. Bang Ir, juga sama.
Mereka berdua mencoba mencairkan suasana.
“Mana guru olahraga SMP?!,” tanya salah satu laki-laki tanpa baju itu.
Kali ini dengan bahasa Indonesia.
“Kenape? Ada urusan Ape?”, tanya Katan.
“Mane?!”,tanya dia kembali.
Katan masih berdiri di depan laki-laki itu,
membelakangiku. Bersiap dengan segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi
setiap saat. Aku pun demikian.
“Aku nda ga trima dibilang nyolong tabung gas sekolah,” kata laki-laki
itu.
“Siape yang nuduh kau macam tuk?” Jawab Katan.
“Sidak anak SMP nyan tek bilang kalau kata guru olahraga sidak yang
nyolong tabung gas tu yang mabuk. Siape gi balai ingin yang mabuk kalau bukan
kamek?”, sahut mereka.
Sekolah tempatku bertugas (SMPN 4 Tayan Hilir) memang
sering kemalingan. Apa saja yang ada di sekolah diambil sekalipun itu hanya
alat-alat praktikum. Kemarin lusa giliran ruang TU yang dijebol dengan paksa
melalui lubang ventilasi di atas pintu. Tabung gas di dalam ruang itu raib.
Berhasil dibawa maling. Tapi seingatku, tidak pernah aku menyebutkan
permasalahan ini dikelasku mengajar hari sabtu kemarin. Hanya beberapa siswa
saja yang tahu kasus ini. Aku juga tidak pernah menyebut atau menuduh siapa
yang mencuri tabung gas atau pencurian sebelumnya, karena tidak ada saksi dan
bukti. Tentu jika aku melakukannya aku melanggar aturan hukum dan menimbulkan
fitnah.
“Nda da bah guru olahraga di Sitok. Yan tek orang Tayan. Dah balik dia”,
ucap Bu Minun.
“Anak SMP yang mana? Siape namenye?”, tanya Katan.
Kedua laki-laki tak berbaju itu maju. Mencoba
merangsek menerobos bang Ir dan katan. Tentu saja Katan dan Bang Ir mencoba
menghalau. Situasi semakin memanas.
“Usah kau ikut-ikutan Tan. Aku tahu kau tuh siip. Tapi die tuh buat
perkara. ****## (mengumpat dalam bahasa melayu Tayan)”.
“Sabar luk...tenang luk...Dia bah nda tahu ape-ape. Kalo na ngadu ke
kepala sekolah Jak,” Kata Katan.
Laki-laki tanpa baju berambut jabrik masih mencoba
menghalau Katan dan Bang Ir.
“Siape Kepala Sekolah nyan?! Adekah orangnye!”, tanya lelaki tanpa baju
satunya lagi yang bertubuh kurus.
“Pak Pur. Ade di rumah”
“Ayoklah kesian”, ajak lelaki tanpa baju bertubuh kurus itu.
Katan dan dua laki-laki itu lantas berjalan menuju rumah dinas.
“Ir, kau kawankan mereka,” kata Bu Minun.
Permainan bola voli berakhir. Semua orang yang ada di
lapangan, termasuk para penonton ikut menuju rumah dinas. Orang-orang yang
rumahnya kami lewati juga ikut ke rumah. Penasaran dengan apa yang terjadi.
Bang Ir yang semula berada di belakang tahu-tahu sudah ada di depan.
“Assalamualaikum...”, ucap Bang Ir.
Bu Tini, isteri kepala sekolah, keluar dari kamar dan menjawab
salam,”Waalaikum salam”.
“Pak Pur ade kah ka Tini?”, tanya Bang Ir.
“Ade, ade ape nyan ramai-ramai mitok?” tanya Bu Tini.
“Ka Tini tenang Jak. Ini ada perlu dengan Pak Pur Bu”, kata bang Ir
mencoba menenangkan Bu Tini.
Dua orang tanpa baju itu ikut masuk ke dalam rumah. Tanpa
salam, lalu ikut mencari-cari Bapak kepala sekolah. Bu Tini terlihat kaget dan
sedikit ketakutan. Dia segera masuk ke dalam kamar mencoba memanggil suaminya.
Sementara Bang Ir dan Katan mengajak kedua laki-laki itu keluar rumah dan duduk
di beranda rumah.
Semakin lama semakin banyak orang dusun yang datang
berkumpul di teras rumah. Mulai dari
anak-anak hingga dewasa. Semua masih dengan pertanyaan yang sama di benak
mereka,”Ada apa ini?”.
“Ada apa ini? Usah kau buat onar di mitok,”ucap Pak Ilyas, suami Bu
Minun.
“Nda pak...,” Jawab laki-laki
kurus tanpa baju.
Pak Pur akhirnya keluar. Wajahnya terlihat kelelahan.
Wajar saja, dia baru saja datang dari Kota Sanggau. Masih belum sempat berganti
baju. Celananya saja masih celana jins yang ia pakai dari kota.
“Ada apa?”,
tanya Pak Purdianto.
“Saye ngga
terime saya dituduh nyuri tabung gas smp,” Kata lelaki bertubuh kurus.
“Siapa yang
bilang begitu?”, tanya Pak Pur.
“Sidak
(mereka) anak SMP yang bilang kalau guru olahraga bilang orang yang mabuk yang
nyuri tabung gas sekolah. Siapa lagi di Balai Ingin ini yang suka mabuk kalau
bukan kami? Kami ngga trima nama kami jadi jelek seperti nyan (itu)!”, ucap
lelaki tanpa baju bertubuh kurus.
“Anak SMP
yang mana?”, tanya Pak Pur.
“Pokoknya
ada, akupun lupa nama sidak?”, jawab lelaki tanpa baju berambut jabrik.
“Anak sini
bukan?”, tanya Pak Pur kembali.
“Bukan anak
sini. Kame dengar waktu nyan tek di Bukit Sidak bilang seperti itu”. Kata kedua
laki-laki itu nyaris bersamaan.
“Pokoknye
kami ngga trima nama kami jadi jelek macam tu. Guru olahraga tu harus tanggung
jawab.”
“Awas saja,
orang Jawa ke Kalimantan jadi Tapai,”ancam laki-laki bertubuh kurus.
“Eh, kau
punya mulut yang benar dikit ngomongnya! Nyaman benar ngomong miyan!”, Pak
Karim yang ada di antara kerumunan warga ikut memberikan suara.
“Kami kenal
Pak Ozi, ga mungkin juga Pak Ozi bakal ngomong seperti itu!”,ucapnya menambahi.
“Ok, guru
olahraga di SMP itu dia,” ucap Pak Pur sembari menunjuk ke arahku.
“Mas,
sekarang mas coba bilang. Apa mas pernah ngomong sesuatu seperti yang mereka
katakan?”, tanya Pak Pur padaku.
“Tidak Pak.
Demi Allah, aku nda pernah bilang seperti itu apa lagi di depan
anak-anak”,Jawabku.
“Usah kau
bawa-bawa nama Tuhan!”, kata lelaki bertubuh kurus.
“Kalau bawa nama Tuhan saja tidak percaya lalu mau
sumpah pakai nama siapa lagi” ,pikirku.
“Saya
nanya, emang sebelumnya kita pernah bertemu? Kita pernah kenal? Belum kan? Mana
mungkin saya nuduh-nuduh orang yang saya juga belum pernah ketemu?”, ucapku
sambil bergetar menahan emosi.
“Tuh. Dia
jak bilang dia ngga pernah ngomong seperrti itu. Ga mungkin juga dia bohong
bawa nama-nama Tuhan”, ucap Pak Pur.
“Bapak ngga
usah bela dia Pak!”, laki-laki bertubuh kurus berdiri dari duduknya. Emosi.
“Eh. Siapa
yang bela orang. Kau berani tidak sumpah kaya dia?”, ucap Bu Tini.
“Usah ibu
ikut campur urusan kame!”, jawab laki-laki bertubuh kurus.
“Eh...nyaman
benar kau ngomong. Dia tuh laki aku. Aku bininya. Ini juga rumah kame!”, jawab
Bu Tini ngga mau kalah.
“Tenang Ka
Tini,”ucap Bang Ir sembari memberi isyarat dengan mengulurkan tangan.
Situasi
semakin memanas. Beberapa warga nampak bersiap untuk turun tangan jika terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan. Beberapa orang lari, memanggil tokoh dusun agar
datang menenangkan. Tidak lama berselang, Pak RT dan salah satu tokoh datang.
“Kenape ini
Mat?”, tanya Pak RT pada laki-laki bertubuh kurus yang ternyata bernama Amat.
Amat diam
saja tidak menanggapi pertanyaan Pak RT. Gantian laki-laki berambut jabrik yang
menjelaskan. Masih dengan nada emosi.
“Dahlah,
gini Jak. Besok kan Senin, upacara. Murid-murid juga datang semua. Kalian ke
Sekolah. Tunjukkan mana yang ngomong dan menyebarkan tuduhan itu!”, kata Pak
Pur.
“Kalau
emang yang dikatakan kalian benar dan Pak Ozi salah. Saya yang jamin dia akan
bertanggung jawab.”
“Tuh. Gitu
aja mat. Pak Pur udah ngasih kite solusi. Sekarang dah balik,” ucap Pak RT.
Amat diam
saja. Matanya menatap tajam ke arahku.
Kedua
laki-laki tanpa baju itupun akhirnya mau untuk meninggalkan rumah dinas setelah
lebih banyak lagi tokoh dusun yang menyuruh mereka pulang.
“Sabar
mas...namanya juga cobaan. Hehe”, ucap salah satu warga menenangkanku.
Semua yang
masih ada di rumah dinas termasuk Katan dan Bang Ir tertawa, mengingat yang
mengatakan hal itu adalah orang yang dulu jelas-jelas tidak suka dengan
kedatanganku pertama kali di Dusun balai Ingin.
Keesokan harinya di sekolah tidak diadakan upacara. Baik saya maupun Pak
Purdianto merasa penasaran apakah memang benar ada anak didik kami yang
menyebarkan berita tidak baik seperti itu?
Karena penasaran saya pun mengajukan pertanyaan yang
sama di semua kelas, mulai dari kelas 7 hingga kelas 9.
“Adakah yang tidak suka jika Bapak mengajar di sini? Apakah ada yang mengatakan bahwa Pak Ozi
menuduh seseorang mencuri di sekolah kita?. Jika ada, coba acungkan tangan atau
silahkan datang ke kantor bertemu saya di waktu istirahat,”ucapku.
Tentu saja jawaban yang aku peroleh dari para siswa adalah tidak.
Amat dan temannya tidak kunjung datang ke sekolah bahkan sampai hari satu
minggu semenjak kejadian itu. Terus terang, aku merasa jengkel dan tidak
nyaman. Pak Pur mungkin menangkap ketidaknyamanan yang aku rasakan. Sebenarnya
bukan tidak nyaman lantaran aku menjadi tertuduh penyebar fitnah, tapi lantaran
pandangan warga dusun yang berubah menjadi penuh rasa kasihan setiap kali aku
melewati mereka.
Selama satu minggu itu pula banyak tokoh dusun yang
meminta agar kejadian itu dilaporkan ke pihak berwajib karena ada unsur
pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan dan ancaman. Warga rupanya
juga tidak suka dengan perangai Amat dan kawannya yang memang seringkali
terlibat dalam kasus pencurian di dusun.
Hari senin di pekan selanjutnya, secara resmi Pak
Purdianto selaku kepala SMP Negeri 4 Tayan Hilir melayangkan surat tuntutan
kepada aparat desa agar segera menyelesaikan permasalahan yang terjadi secara
kekeluargaan. Jika tidak kejadian itu akan diangkat ke persidangan. Menurut pak
Pur, hal itu juga agar menjadi pelajaran bagi masyarakat supaya sadar hukum dan
tidak berlaku senaknya sendiri terutama pada guru. Oleh petugas Desa secara
langsung surat itu mendapatkan respon dengan cepat. Amat dan kawannya serta
ketua RT dan kepala dusun dipanggil menghadap ke kantor desa dan mendapatkan
nasihat dari aparat desa.
Tiga hari setelah surat tuntutan dilayangkan, Amat dan
kawannya, ketua RT dari tempat mereka tinggal dan tempat saya tinggal, Pak Pur,
ketua dusun, aparat desa dan perwakilan tokoh masyarakat berkumpul di rumah
dinas SMP. Hasil pertemuan akhirnya diperoleh perjanjian damai. Pihak Amat dan
kawannya meminta maaf karena mendengarkan berita dengan tidak cermat lantaran
masih dalam kondisi mabok. Mereka juga meminta maaf karena sudah menuduhku
menyebarkan berita tidak baik tentang mereka serta mencabut ancaman yang pernah
keluar dari mulut mereka. Jika di lain waktu kejadian yang sama terulang
kembali maka pihak Amat siap untuk dilaporkan kepada pihak yang berwajib.
September di Bumi Daranante-Sanggau
Selamat datang September. Itu yang aku
katakan pada diriku sendiri setelah bangun dari tidur. Tentu saja, sebelum itu
aku bersyukur atas nikmat Allah karena masih dikaruniai hidup. Udara masih
terasa dingin. Lamat-lamat aku dengar suara air mengalir. Aku lantas mengambil
senter dan berjalan menuju ke arah sumber suara. Alhamdulillah, ternyata air
dari bukit yang dilewatkan dengan pipa menuju rumah tempatku tinggal mengalir
kembali. Pagi ini, alirannya cukup deras. Namun karena masih mengantuk, aku
lebih memilih kembali ke kamar hehe. Entahlah, hari itu aku merasa semua badan
terasa sakit. Masuk angin mungkin.
Baru setelah sholat subuh lah,
aktifitas mengisi gentong-gentong dan berbagai wadah air (mulai dari ember,
panci, dandang dan baskom) dimulai. Karena aliran air pagi ini cukup deras,
maka pengisian air tidak memakan waktu yang lama. “Lumayan yah mas, bisa
dipakai untuk cerita di Jawa,” kata Ibu Tini, Isteri Pak Pur. Beliau adalah Ibu
angkat sekaligus Isteri dari Bapak Kepala Sekolah.
Betul, Kami bertiga bersama-sama
menempati satu tempat tinggal. Sebuah rumah babinsa dengan 2 kamar tidur, sebagaimana
telah aku ceritakan sebelumnya. Kehadiranku dalam rumah itu, mungkin sedikit
mengisi nuansa baru (atau mungkin malah mengganggu?) bagi pasangan Bapak dan Ibu
Pur. Sampai hari ini, beliau berdua masih belum dikaruniai keturunan. Semoga
saja tahun ini, sebelum aku kembali ke Jawa mereka berdua sudah dikarunia
keturunan. Amin.
Tapi, kata temanku, sebut saja Sishol
(:P), kehadiranku itu paling tidak membuat waktu mereka untuk menikmati waktu
menjadi terganggu, haha. Betul juga sih. Ya mau bagaimana lagi, lah aku mau
nyewa rumah sendiri juga nda di izinkan beliau bertiga, malah kamare ndadak dicat anyar barang haha. Belum lagi baru
beberapa hari setelah aku tinggal aku mengetahui fakta bahwa ternyata Ibu
setiap tanggal 3-16 an setiap bulannya berangkat menuju Sanggau untuk berdagang
kain dan baju. Otomatis, waktu intens antara Bapak dan Ibu juga berkurang.
Sebagaimana doaku (setiap ingat) semoga, bagaimanapun kondisi beliau berdua,
semoga tahun ini kebahagian mereka bisa menjadi lebih lengkap dengan hadirnya
seorang anak.
Berbicara tentang anak, hari ini aku
tampil perdana di depan anak-anak kelas 8 dengan materi sistem gerak. Lengkap sudahlah
aku mengajar di kelas 7,8 dan 9 SMPN 4 Tayan Hilir untuk mata pelajaran IPA.
Ada juga jam tambahan berupa mata pelajaran TIK kelas 8 dan 9. Untuk kelas 8
baru akan masuk pertama besok, hari Rabu. Sejauh ini, aku masih mencoba untuk
mengenal anak-anak lebih dekat, meskipun tetap harus ada batasan antara kami.
Harapannya, agar mereka tidak sungkan untuk bertanya perihal apa-apa yang aku
ajarkan dan yang belum mereka pahami. Sekalipun aku tidak menjamin seratus persen
bahwa semua yang mereka tanyakan akan
aku jawab dengan baik dan memuaskan, setidaknya dengan keterbatasanku (di sini
tanpa sinyal dan listrik) aku ingin berusaha sebisa mungkin menghantarkan
mereka pada pemahaman yang lebih.
Tidak selamanya bukan murid selalu di
bawah guru atau kemampuan guru selalu di atas murid? Justru harusnya guru
berbangga jika murid bisa melampaui kemampuan guru. Kondisi dimana siswa mencapai
titik yang lebih tinggi dari apa yang pernah diajarkannya. Aku juga ingin terus
berproses. Bukankah begitu seharusnya? Guru dan murid sama-sama berproses.
Berproses untuk menjadi lebih baik. Meminjam kata-kata Ka Ricky Elson, kita
terus berproses, membangun diri, membangun Negeri.
#Inilah Indonesia Mam. Bukan hanya
Semarang, Jogja, Solo, Magelang, Bandung, Jakarta dan Bali. Inilah bagian dari
salah satu pulau terbesar di Indonesia. Kalimantan. Selamat! karena sudah
berada di sini lebih dari satu minggu. Setidaknya sampai saat ini, inilah waktu
terlama berada di luar Pulau Jawa. Tentu saja besok, lusa dan hari-hari
seterusnya akan menjadi pencapaian-pencapaian baru. Mari kita nikmati segala
keterbatasan yang ada. Bukankah menjadi suatu hal yang romantis (:P) ketika
menelpon keluarga harus dengan berdiri bahkan berjinjit? Bahkan tidak menutup
kemungkinan menelpon dengan terlebih dahulu mendaki bukit ? Menerima SMS
setelah mengerek HP di tiang bendera? Atau kenikmatan dan keasyikan serta
tantangan lain semacam mandi di sungai, bertemu setiap hari dengan babi dan
anjing yang dilepas bebas, dan menjadi Dai dan guru ngaji dadakan? Teruntuk
diriku sendiri dan kawan-kawan SM3T se-Indonesia dimanapun kalian ditugaskan, apapun
keterbatasan (baca:kenikmatan) yang ada dan kalian dapatkan, enjoy sajalah. Tak
usah berkeluh kesah karena itu justru akan menambah beban bagi kita sendiri.
Ingat-ingat lagu pramuka.
Apa guna keluh kesah...
Apa guna keluh kesah ...
Pramuka tak pernah
bersusah...
Apa guna keluh
kesah.....
Tetaplah semangat hai diriku, hai
jiwa-jiwa muda yang terpanggil untuk mengabdi dan mencemburkan diri dalam
masyarakat baru di pelosok nusantara. Kamu kuat, dan kamu hebat. Hai diriku dan
kawan-kawan SM3T, jangan lupa untuk terus mengupgrade dan meluruskan niat kita.
Lakukan yang terbaik, perihal gaji, tunjangan, beasiswa PPG dan lain-lain itu
hanyalah bonus semata. Jangan menjadikannya sebagai tujuan utama. J
***
Masih di awal September. Udara sore
hari ini terasa panas. Aku dan Pak Pur melakukan sedikit olahraga dengan
bermain bulutangkis di lapangan sekolah. Satu set pertama aku menang dari Pak
Pur. Set kedua, Pak Pur digantikan oleh salah satu tetangga (yang maaf karena
namanya saya lupa). Karena posisiku yang berganti dan menghadap ke matahari
secara langsung, ditambah dengan kemampuan mengolah cock yang baik maka aku
kalah pada set kedua tadi. Oh ya, perlu dijelaskan dulu, bahwa di sekolah
terdapat tiga jenis lapangan. Pertama adalah lapangan voli, kedua adalah
lapangan futsal, dan ketiga adalah lapangan bulutangkis. Semua fasilitas
tersebut secara defacto dan dejure adalah milik sekolah. Namun pada preaktik di
lapangan, ketiganya digunakan secara umum oleh warga di sekitar lingkungan
sekolah. Mengingat jumlah sarana yang terbatas, maka setiap cabang (voli,
futsal dan badmintaon) menggunakan sistem gugur. Maksudnya, sekali kalah
langsung diganti, baru ketika yang lain ada yang kalah bisa bermain lagi.
Karena sistem itu pulalah, pak Pur yang kalah dariku pada set pertama langsung
digantikan. Baru setelah aku kalah di set kedua, pak Pur masuk dan bermain
kembali.
Sesuai rencana, aku ijin terlebih
dahulu meninggalkan lapangan badminton untuk menuju bukit cinta :D. Bukit dekat
sekolah, dimana biasa ada sinyal yang cukup stabil untuk menelpon. Hasil
komunikasi dengan teman-teman, aku mendapat info bahwa kawan SM3T penempatan
Sambas yang mengalami kecelakaan sudah bisa kembali beraktifitas secara normal.
Alhamdulillah. Kabar selanjutnya datang dari wakorkab Sanggau, Mas Arif.
Alhamdulillah, kali ini dia dapat aku hubungi setelah satu minggu tidak ada
kabar. Mas Arif berkata bahwa sudah ada keputusan dari dinas terkait penempatan
yang diterima oleh ke empat anggotaku, yakni Maya, mas ajiz, mas heru dan mas
arif. Maya positif dipindahkan menuju ke SDN 7 Mangkau sementara ketiga kawan
yang lain tidak mengalami pemindahan tugas. Dengan demikian, terjadi pemindahan
posisi jika diurutkan dari jarak terdekat-terjauh menjadi maya, mas ajiz, mas
heru dan di ujung entikong baru ada mas arif. Jarak antara sekolah menuju ke kecamatan
entikong menurut mas Arif adalah sekitar 3 jam.
Nada suara mas Arif menampakkan rasa
yang tidak biasa. Seingatku, nada bicara yang beberapa kali aku dengar pada
saat prakondisi adalah nada suara dengan semangat dan keceriaan. Sore tadi
terasa berkurang. Semoga saja beliau sehat-sehat di sana. Mungkin, mas Arif
merasa kaget dan terkejut dengan keputusan yang diberikan oleh Dinas, padahal
mas Arif sudah berusaha menghubungi
jajaran dinas dan Pak Sokheh juga, namun keputusan tetap seperti semula.
Hanya satu yang mengalami pemindahan tugas. Hal yang menjadi faktor
keterkejutan mas Arif mungkin adalah fakta bahwa dusun tempat dia akan
ditugaskan, yang terdiri atas 66 KK, semua beragama non muslim. Otomatis tidak
ada masjid. Jarak dengan masjid di kecamatan entikong dapat ditempuh dengan
ojek yang harus dibayar sebesar 300 ribu rupiah sekali PP. Bisa dibayangkan
jika setiap Jumat beliau harus turun ke kecamatan untuk sholat Jumat. Tekor
juga lah. Semoga saja mas Arif bisa lebih legowo, diberikan kesehatan,
keikhlasan, kekuatan dan kesabaran ekstra untuk menjalani pengabdian satu tahun
kedepan. Doa serupa juga untuk kawan-kawan SM3T Sanggau pada khususnya dan Kab
lain pada umumnya.
Refleksi hari ini ditutup dengan
pembelajaran budaya melayu. Sedikit kosa kata baru.
Ngala=singkong
Pak Ulung = Bapak (anak sulung)
Pa Su/ Pa Usu = Bapak (anak bungsu)
Pak Nis = Bapak (anak kelima)
Pa Unggal = Bapak tunggal
Among
(melayu sambas) = digunakan untuk memanggil orang dengan nama yang sama persis
misal imam dengan imam
Sekolah Satu Atap
Apa masalah yang sering kali dihadapi oleh orang-orang daerah saat akan menyekolahkan anak mereka menuju sekolah menengah?
Salah satu diantara banyaknya masalah yang ada adalah jarak antara rumah menuju sekolah menengah yang terlalu jauh, bahkan melebihi jauh dan susahnya jarak tempuh antara rumah mereka dengan sekolah dasar. Kondisi tersebut, membuat banyak orangtua berpikir ulang tentang anak-anak mereka. Selain jarak yang lebih jauh, kebanyakan orangtua juga memiliki kekhawatiran terhadap kemampuan adaptasi anak mereka.
Sebagai upaya untuk memfasilitasi keberlanjutan program wajib belajar sembilan tahun, yang mengharapkan bahwa anak-anak di Indonesia memiliki pendidikan sekurang-kurangnya sebagai tamatan SMP serta untuk mengefisienkan pembangunan sekolah dengan mempertimbangkan jumlah siswa yang ada, maka pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan program sekolah satu atap.
Sekolah satu atap merupakan sekolah yang menggabugkan antara sekolah dasar dengan sekolah menengah.
Jadi, dalam satu komplek bangunan bisa kita jumpai murid-murid dengan tingkat pendidikan yang berbeda. Dilihat dari alur koordinasi, sebuah sekolah satu atap dapat dibedaka menjadi dua tipe. Tipe pertama adalah sekolah satu atap yang memiliki satu kepala sekolah dan memimpin guru dan staff sekolah meliputi sekolah dasar dan menengah. pada sekolah tipe ini, guru-guru yang mengajar di SD berkemungkinan juga mengajar di beberapa mata pelajaran di Sekolah Menengah (SMP). Tipe sekolah yang kedua adalah sekolah satu atap yang memiliki dua kepala sekolah dan staff guru untuk masing-masing kepala sekolah, namun masih melakukan koordinasi antar kepala sekolah dan terletak pada satu tempat (sekolahan) yang sama.
Menurut saya, keberadaan sekolah satu atap (SD-SMP) sangat tepat untuk diterapkan, karena masih banyak daerah di Indonesia yang terpencil dan terisolir sehingga akses untuk menuju sekolah menengah sangat susah, bahkan tidak jarang harus mempertaruhkan nyawa mereka ketika berangkat sekolah. Keberadaan sekolah satu atap selain mendekatkan antara sekolah dengan siswa, juga mendekatkan pemerintah dengan salah satu tujan NKRI yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 pada alinea ke-4 yakni "mencerdaskan kehidupan bangsa".
Tentu saja, setelah sekolah satu atap dibangun, perlu adanya pengelolaan yang baik. Untuk itulah peran dan partisipasi kepala sekolah, guru, staff sekolah dan tidak lepas pula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam menjamin keberlangsungan sekolah sangat diharapkan.
Referensi :
*Lalu, apakah di daerah SM-3T nanti akan berjumpa dengan sekolah satu atap?
Kita tunggu saja nanti. Terus berdoa agar lolos program sm3T. Amin
Persiapan wawancara #SM3T
Tanggal 4 nanti akan ada wawancara sm-3t di Unnes.
Alhamdulillah aku satu di antara peserta yang mendapatkan undangan untuk mengikutinya.
Berhubung belum ada bayangan seperti apa model wawancara yang akan dilakukan, aku iseng-iseng browsing. Alhamdulillah, tidak sedikit para senior sm3T angkatan sebelumnya (1-4) yang berbagi pengalaman mereka pada tiap tahapan di SM3T. Salah satu yang aku pelajari adalah tentang sekolah satu atap. Permasalahan ini (katanya) menjadi pertanyaan rutin pada saat wawancara.
Baiklah, aku lanjutkan terlebih dahulu belajarku.
Tenang saja, aku akan bagi apa yang aku pelajari nanti (Insya Allah).
Semoga wawancara SM3T berjalan lancar dan menghasilkan hasil yang terbaik. Amin.
Alhamdulillah aku satu di antara peserta yang mendapatkan undangan untuk mengikutinya.
Berhubung belum ada bayangan seperti apa model wawancara yang akan dilakukan, aku iseng-iseng browsing. Alhamdulillah, tidak sedikit para senior sm3T angkatan sebelumnya (1-4) yang berbagi pengalaman mereka pada tiap tahapan di SM3T. Salah satu yang aku pelajari adalah tentang sekolah satu atap. Permasalahan ini (katanya) menjadi pertanyaan rutin pada saat wawancara.
Baiklah, aku lanjutkan terlebih dahulu belajarku.
Tenang saja, aku akan bagi apa yang aku pelajari nanti (Insya Allah).
Semoga wawancara SM3T berjalan lancar dan menghasilkan hasil yang terbaik. Amin.
Keinginan untuk mendaftar #SM3T
SM3T. Sarjana Mengajar Daerah Terdepan, Terluar dan Terdalam, merupakan program dari pemerintah dalam upaya melakukan pemerataan pendidikan melalui penyaluran tenaga pengajar ke daerah-daerah 3T.
Program ini pertama kali di lakukan pada saat saya semester awal di unnes, sekitar tahun 2010. Saat itu, secara tidak sengaja aku melihat sm3t d web univ yang sedang saya akses sebagai pengenalan universitas pada mahasiswa Baru. Insya Allah sm3t akan masuk tahun kelima program ini berjalan.
Sejak awal program ini berlangsung. saya sudah merasakan sesuatu yang berbeda. Ada sebuah keinginan yang mendorong dan mengatakan pada saya bahwa saya sebaiknya mengikuti program ini. Mengajar saudara-saudara kita di pelosok sana sembari mengenali indonesia lebih dalam. Anda juga pasti menginginkannya bukan?
Tapi apa pasal, saat itu saya masih semester awal, masih mulai berkuliah. Jadi tentu belum bisa untuk ikut berkecimpung di dalamnya.
Tentu saja, sudah lulus S1 merupakan salah satu sarat utama di samping sarat-sarat yang lain, seperti lolos seleksi tertulis dan tes wawancara, serta penempaan di prakondisi selama kurang lebih 2 minggu.
Waktu berjalan, dan kini, dalam hitungan hari pendaftaran ptogram sm3t akan mulai dilakukan.
Lebih tepatnya pendaftaran dimulai pada tanggal 7maret hingga 9juni 2015.
Insya Allah saya akan mendaftar.
Meskipun, secara jujur sering kali saya masih bertanya dalam hati, "Apakah saya layak untuk mengikuti program ini?
Apa yang bisa saya berikan di sana?
Apa yang aku siapkan untuk bekal di sana?
Bagaimana jika begini? Bagaimana jika begitu?"
Banyak lagi pertanyaan lain yang berkeliaran di dalam pikiran saya. Bismillah saja, yang penting saya sudah berusaha. Masalah saya bisa di terima untuk menjadi dari sm3t V atau tidak, biarlah penilai yang memberikan kepitusan, dan sebaik-baiknya penilai adalah Allah, jadi biarkan Allah yang menilai apakah saya layak ataukah tidak. Saya hanya berdoa saja semoga yang terbaik lah yang saya dapatkan. Amin
Sabda-Nya"Berdoalah padaKu niscaya Aku kabulkan"
Program ini pertama kali di lakukan pada saat saya semester awal di unnes, sekitar tahun 2010. Saat itu, secara tidak sengaja aku melihat sm3t d web univ yang sedang saya akses sebagai pengenalan universitas pada mahasiswa Baru. Insya Allah sm3t akan masuk tahun kelima program ini berjalan.
Sejak awal program ini berlangsung. saya sudah merasakan sesuatu yang berbeda. Ada sebuah keinginan yang mendorong dan mengatakan pada saya bahwa saya sebaiknya mengikuti program ini. Mengajar saudara-saudara kita di pelosok sana sembari mengenali indonesia lebih dalam. Anda juga pasti menginginkannya bukan?
Tapi apa pasal, saat itu saya masih semester awal, masih mulai berkuliah. Jadi tentu belum bisa untuk ikut berkecimpung di dalamnya.
Tentu saja, sudah lulus S1 merupakan salah satu sarat utama di samping sarat-sarat yang lain, seperti lolos seleksi tertulis dan tes wawancara, serta penempaan di prakondisi selama kurang lebih 2 minggu.
Waktu berjalan, dan kini, dalam hitungan hari pendaftaran ptogram sm3t akan mulai dilakukan.
Lebih tepatnya pendaftaran dimulai pada tanggal 7maret hingga 9juni 2015.
Insya Allah saya akan mendaftar.
Meskipun, secara jujur sering kali saya masih bertanya dalam hati, "Apakah saya layak untuk mengikuti program ini?
Apa yang bisa saya berikan di sana?
Apa yang aku siapkan untuk bekal di sana?
Bagaimana jika begini? Bagaimana jika begitu?"
Banyak lagi pertanyaan lain yang berkeliaran di dalam pikiran saya. Bismillah saja, yang penting saya sudah berusaha. Masalah saya bisa di terima untuk menjadi dari sm3t V atau tidak, biarlah penilai yang memberikan kepitusan, dan sebaik-baiknya penilai adalah Allah, jadi biarkan Allah yang menilai apakah saya layak ataukah tidak. Saya hanya berdoa saja semoga yang terbaik lah yang saya dapatkan. Amin
Sabda-Nya"Berdoalah padaKu niscaya Aku kabulkan"
Parenting I
Banyak dari
kita, semasa kecil bermain dengan bebas di lingkungan sekitar. Melihat, meraba,
membau dan terkadang mencicipi sesuatu yang asing dan baru dilingkungan diamana
kita bermain. Baik sadar ataupun tidak indera yang kita miliki (sebagai
karunia-Nya) kita gunakan dengan baik. Dari hal itu kita mendapatkan
memori-memori baru tentang rasa, bau, nama, dan secara sadar dan tidak sadar
pula mulai mengelompokkan banyak hal berdasarkan kelompok yang kia buat
sendiri.
Mungkin, hal ini
akan jarang kita temui pada anak-anak di masa sekarang. Masa dimana anak lebih dimanjakan
dengan kecanggihan teknologi dibandingkan pelajaran secara langsung. Salah satu
contoh (yang lucu) adalah penggunaan tampilan slide dalam media tablet (dan sejenisnya) dalam memperkenalkan
bagian-bagian tumbuhan pada anak-anak. Menurut hemat saya, bukankah akan lebih
baik jika kita menggunakan tumbuhan nyata
dibanding tumbuhan maya? Tentu saja
(menurut saya) mereka akan mendapatkan nilai lebih manakala kita membawakan
kepada mereka suatu tanaman utuh. Menunjukkan bagian-bagian tumbuhan mulai dari
akar, batang dan daun dan membiarkan mereka untuk mengeksplorasi bagian-bagian
tersebut. Birakan saja mereka meraba, memegang dan bahkan tidak menutup
kemungkinan mereka akan mencium bau dari masing-masing bagian tumbuhan. Tapi
jangan sampai kita membiarkan mereka memakan/ menccicipinya, apalagi jika
tumbuhan yang kita bawa terindikasi zat aktif berbahaya.
Mengenalkan
dengan cara diatas pastinya akan lebih berkesan dibandingkan menggunakan media
virtual saja. Meskipun keduanya sama-sama bisa mencapai tujuan, dalam hal ini
mengenalkan bagian-bagian tumbuhan tapi saya yakin bahwa efek ikutan yang
didapatkan anak akan berbeda. Dalam penjelasan pada paragraf sebelumnya sudah saya
sebutkan beberapa efek ikutan seperti penggunaan indera peraba, pembau dan
(mungkin) pengecap.
Sebagai orang
yang lebih dewasa baik yang sudah, akan dan berencana untuk memiliki anak,
saran saya adalah kenalkan putra dan putri kita pada hal-hal baru di sekitarnya
yang memang layak untuk mereka ketahui.
Usahakan untuk menampilkan contoh
kongkret mengingat anak-anak terkadang memiliki daya imajinasi yang
berbeda-beda.
Langganan:
Postingan (Atom)




