There can be no “teacher” without ‘pupils’ , no rebel without ‘establishment’.

Arti Peimpin

Pemimpin adalah orang pertama sekaligus orang terakhir dalam sebuah kelompok (Mukti 2013)

This is featured post 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Gunung Prahu

SEUMUR HIDUP KITA SEKALIPUN TIDAK AKAN CUKUP UNTUK MENGELILINGI INDONESIA. I LOVE INDONESIA.

D(a)N(u)

0 komentar

Imaji malam hari
Sebuah permintaan tulisan dari seorang adik angkatan

**
#
Gerhana bulan. Bumi menghalangi cahaya matahari yang mengarah ke bulan. Alhasil, bulan yang semula terang terlihat sedikit gelap. Peristiwa yang tidak setiap hari dapat aku saksikan dari jendela kamar rumahku ini. Banyak legenda dan kepercayaan yang mengiringi peristiwa ini. Di beberapa tempat, ibu-ibu hamil ribut menabuh apa saja untuk mengusir roh jahat agar tidak mengganggu janin yang dikandungnya. Di tempat lain, puluhan bahkan ratusan orang berkumpul, berdoa bersama, memohon pada Tuhan agar diberi keselamatan. Aku lebih memilih untuk menikmati peristiwa ini tanpa melakukan apa-apa. Aku hanya keluar kamar, menuju teras yang ada dan duduk di sana menatap langit.
Cahaya bulan perlahan kembali normal. Terang. Hari ini tanggal 15 dalam kalender Jawa. Bulan tengah purnama. Aku memandangi bulatan penuh bulan yang menawan. Ah, andai ia dapat berbicara ingin rasanya aku berbincang-bincang dengannya. Menceritakan apa-apa yang tengah aku rasakan saat ini.
**
“Jadi bagaimana dok?”, tanya Ibuku pada dokter dihadapan kami.
“Sepertinya anak Anda tidak mengalami masalah berarti Bu. Mungkin sakit perutnya dikarenakan dia memakan makanan yang kurang sehat,” jawab sang Dokter.
Ibuku terlihat sedikit lega mendengar jawaban Dokter. Di elus-elusnya kepalaku dengan lembut.
“Sabar ya nak,”begitu bisiknya ditelingaku.
Aku hanya mengangguk lemah. Tangan kananku seperti tidak mau lepas memegangi perutku yang masih saja sakit. Sesekali keringat dingin di dahi aku usap dengan tangan kiriku.
“Baik Bu. Ini resep untuk anak Ibu. Semoga dia cepat sembuh,” ucap dokter menutup pembicaraan.
“Terimakasih dok. Permisi,” Ibu pamit.
Aku dan Ibu pulang. Di tengah perjalanan aku perhatikan wajah Ibu dengan seksama. Dia tetap cantik meski tanpa riasan mahal. Mungkin perawatan tradisional nenek yang diturunkan pada Ibu menyumbang peran besar pada kecantikan Ibu. Aku sesekali melihat Ibu meracik sendiri lulur wajah dengan bahan-bahan sederhana di halaman belakang rumah. Kakakku- Devi, sesekali ikut-ikutan memakai lulur wajah Ibu. Aku ? Tentu saja tidak. Aku anak laki-laki. Mana mungkin aku seperti ibu dan kakak?
**
Kringg...
Bunyi Hp dari dalam kamar membuyarkan lamunanku. Sedikit kesal, aku melangkah masuk kembali ke dalam kamar. Hp ku kembali berbunyi. Dua pesan lain secara berurutan masuk. Pesan pertama dari layanan operator. Pesan kedua sama saja. Hanya pesan ketiga yang menyita perhatianku.
Vi, tolong bawakan Pakaian Ibu dan danu ke  RSUD Pemalang.
Pesan singkat dari Ayahku itu membuatku bertanya , Ibu dan danu di rumah sakit ? Apa yang terjadi dengan mereka ? Mengapa semenjak sore tadi tidak ada orang di rumah selain Bi Inah?
Ada apa  Yah? Siapa yang sakit dan sakit apa?
Sembari menunggu sms balasan, aku bergegas menyiapkan pakaian Ibu dan adikku.
Beruntung, Bi Inah dengan sigap membantuku menyiapkan semua. Masing-masing ada tiga stel pakaian milik Ibu dan danu yang kami masukkan ke dalam tas.
Bi Inah, seperti biasa, tidak terlalu banyak bicara. Tapi aku sangat yakin beliau tahu ada sesuatu yang tengah terjadi.
“Bi, tolong jaga rumah yah?”, ucapku.
Bi Inah hanya mengangguk dengan mantap.
Aku bergegas berangkat. Sepeda motor kunyalakan. Malam minggu, jalanan yang aku lalui cukup ramai dengan sepeda motor dari pasangan muda-mudi yang ingin menghabiskan malam ini dengan berjalan-jalan dengan pasangannya. Seharusnya, aku masih bisa seperti mereka jika malam Jumat kemarin, Andi tidak memutuskanku. Sial, kenapa aku memikirkan kelakuan mereka? Apa aku iri ? Entahlah. Ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan itu semua. Sepeda motorku bertambah laju. “Aku harus segera sampai,”pikirku.
**
Mengapa aku merasa semakin dingin? Mengapa aku merasa semakin banyak cairan yang jatuh dari dahiku ? Mengapa pandanganku semakin kabur ? Aku ingin berbicara, tapi susah.
“Bu..,”akhirnya aku berhasil mengeluarkan suara.
“Ya Dan,” Jawab Ibuku. Beliau menoleh kepadaku.
“Dan,, kamu kenapa? Kamu pucat sekali,” Ibuku Panik.
“Yah, kita langsung ke rumah sakit saja. Danu semakin kurang baik kondisinya,”.
“Ok”, jawab ayahku.
Kami bergegas ke rumah sakit. Saat kami tiba, Ayah dengan sigap mengangkatku dan meminta suster membawakan ranjang dorong. Ibu terlihat sangat cemas. Jujur saja, aku merasa takut. Apa yang akan terjadi nanti ?
**
Aku tiba di rumah sakit. Segera aku menelpon Ayah, menanyakan posisinya. Aku segera masuk dan mencari Ayah. Tidak terlalu lama untuk menemukannya.
“Kenapa Yah?”, tanyaku singkat.
“Danu harus di operasi. Dia mengalami gangguan akut di bagian usus buntu,” jawab Ayah.
“Lalu Ibu?”
“Ibu terlalu kaget, dia pingsan saat mendengar dokter harus mengoperasi Danu.”
“Lalu?”
“Ibu masih belum sadar sampai sekarang. Dia ada di ruang UGD. Danu ada di situ,” ucap Ayah sambil menunjuk ruang operasi di depan kami.
Tanpa terasa, mataku berkaca-kaca. Ibarat bendungan yang jebol, air mataku dengan segera tumpah. Membayangkan dokter dan suster yang tengah melakukan pembedahan. Membayangkan tangan mereka penuh dengan darah. Mebayangkan adik kecilku terbaring lemah tak berdaya, berbalut baju hijau, berselang oksigen. Membayangkan dia masih harus puasa setelah operasi berlangsung. Kasihan dia.
Ibu? Bagaimana dengan Ibu ? Apakah Ibu baik-baik saja ?
Aku ingin segera berlari menuju bangsal tempat Ibu berada. Aku melepaskan diri dari pelukan Ayah. Aku mencoba berjalan. Hey..kenapa semua gelap?
Ayah? Ibu? Danu?

Lain kali

0 komentar

Jumat sebelas maret lalu
Sebuah cerita setelah menunggu lebih dari tiga minggu

Aku keluar dari ruang perkuliahan
Langsung berjalan menuju laboratorium
Mengirim beberapa baris kata
Terkirim dalam bentuk pesan kepada Bu L*na
Melangkah
Sesekali melirik layar
Siapa tahu Beliau membalas

Laboratorium sepi
Aku masuk kedalam ruang laboran
Bercengkrama dengan laboran yang ada
Aku haus dan pergi ke kantin
 Hampir dibayarin tapi aku udah bayar duluan
Toh aku hanya butuh segelas air mineral

Kembali melihat layar
Adakah sms masuk?
Ooo layar hitam yang terpampang
Bateraiku diam habis energi baterai
Aku tenang saja
Menunggu

Lima belas menit berlalu
Setengah jam lebih
Wajah yang ditunggu belum terlihat
Kemana?

Laboran yang ramah
Mengajak sholat Jumat berjamaah
Ya, sebentar lagi aku menyusul
Aku masih ingin menunggu kedatangan dosbingku

Dua belas kurang seperempat
Aku bergegas segera beranjak
Nasib mungkin belum bisa bertemu

Mungkin memang ujian kesabaranku

Pulang ke kos sebentar.
Baterai di charge dan dinyalakan
Pesan?
Ada dua terlihat
Salah satu nama seperti kilat
 Bu L*na
Saya ada kuliah jam 13. saya di jurusan. Bagaimana?
Berkas ada di lab. Silahkan ambil

Sarung dan baju koko
Waktu sholat sudah dekat
Sms balasan singkat

Sholat usai
Bergegas ke jurusan
Menunggu dan mencari
Beliau mengajar bro! Sabar!

Duduk menanti

Tiga menjelang empat
Bu L*ina datang melangkah cepat
Alhamdulillah
Ups!? Beliau sedikit marah
Aku mencoba meminta maaf
Aku salah
Tapi Hp ku juga salah
Tapi Hp benda mati
Ah sudahlah

Lain kali....
harus lebih siap lagi
Argumen, bahan, waktu, energi, dan senyum`



 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers