SPBN
SPBN -Sarjana Pengangguran Beban Negara. Semoga kita yang akan dan sudah lulus tidak
masuk ke dalam golongan ini. SPBN sendiri pertama kali saya dengar dari seorang
teman dekat yang kuliah di salah satu
kampus Negri di Semarang. Saat itu, saya baru beberapa hari selesai sidang skripsi
dan tengah menyelesaikan revisi dari penguji. Saat bertemu dengan teman saya
yang akrab disapa poli, saya seperti biasa memberikan salam dan mengulurkan
tangan untuk berjabat tangan. Saat berjabat tangan itulah pertama kali saya
mendengar istilah ini. Seingat saya, seperti inilah kalimat yang diucapkannya
pada saat kami berjabat tangan, “Selamat mam…selamat jadi beban Negara”. “Jleb!”
Saat saya mendengar istilah ini pertama kali, saya kaget dan merasa seperti ada
sesuatu yang mengganjal, mungkin istilah
sekarang “Sakitnya tuh disini …(sambil nunjuk hati)”. Ucapan itu, menurut saya
cukup sarkastik alias bernada menyindir dan masuk dalam sindiran garis keras.
Sebenarnya,
tanpa dibilang bahwa mahasiswa fresh
graduate atau pun menjelang lulus dan belum memiliki pekerjaan sebagai
kelompok SPBN pun aku sudah memikirkannya, meskipun dengan istilah yang
berbeda. Ya, setidaknya sebagai
mahasiswa yang pernah dikasihani negara (penerima beasiswa) selama dua periode, aku sadar bahwa aku
harus memiliki kontribusi aktif kepada masyarakat sebagai balasan atas dana yang aku peroleh. Jika
ditelusuri tentu saja dana yang aku peroleh berasal dari uang Negara
yang mana salah satu sumber pemerolehannya adalah pajak yang dibayarkan oleh
masyarakat baik dari kalangan atas, menegah hingga lapisan bawah.
Aku hanya
jujur saja saat ditanya oleh poli, apa yang bakal aku lakukan terutama waktu
menunggu wisuda. Tentu saja, setelah semua administrasi berkaitan dengan wisuda
selesai aku ingin pulang dan bertemu dengan orangtuaku. Aku ingin sejenak
beristirahat dan merefresh kembali isi kepala sebelum kembali lagi pada
rutinitas dan dunia kerja. Setidaknya selama 1-2 minggu. Toh, aku juga merasa
tidak tega jika mendengar cerita mama
bahwa abah mengalami sakit di bagian perut. Tempat dimana luka operasinya
berada. Wajar bukan jika aku ingin pulang dan sedikit jalan-jalan?
Sebenarnya
aku sudah mengutarakan apa rencana ku pada salah satu kakak ku untuk mengisi 3
bulan menunggu waktu wisuda. Namun, menurut mba, lebih baik jika aku dirumah
dulu, membantu orang tua, sembari mengajar di sekolah-sekolah dekat rumah.
Menurutnya itu lebih baik dari rencana baik milikku. Rencana ini tentu saja
tidak bisa aku ceritakan pada poli, sekalipun dia salah satu teman karibku.
Dari
kejadian ini, aku kembali berpikir bahwa ternyata memang masyarakat pada
umumnya memiliki gambaran demikian. Seseorang yang telah menyelesaikan
pendidikannya harus dengan segera mendapatkan pekerjaan yang jelas dan memiliki
“kantor”. Tidak perduli apakah penilai itu lulusan dari pendidikan tingkat yang
mana, pandangan seperti itu tetap berlaku. Jika demikian, lalu bagaimana dengan
orang-orang yang mengisi hari-harinya dengan pengabdian, dengan hal-hal
positif, dan tidak memiliki “kantor”? Bagaimana jika mereka malah memiliki
kepuasan batin dan memberikan kebermanfaatan lebih banyak untuk orang-orang
sekitar dari mereka yang sudah memiliki kantor dan pekerjaan?
Hmm…
entahlah. Yang pasti akan lebih bagus jika kita sudah selesai dari suatu
pendidikan, kita bekerja, berkantor dan tentu saja memiliki kontribusi dan
hal-hal positif untuk orang-orang sekitar. Semoga kita menjadi salah satu
bagian didalam golongan ini. Amin
Sekedar pengingat--> tweet dari pak Ridwan kamil…
"Jika
kita tidak bisa memberi solusi. Janganlah kita ikut membebani."