There can be no “teacher” without ‘pupils’ , no rebel without ‘establishment’.

Arti Peimpin

Pemimpin adalah orang pertama sekaligus orang terakhir dalam sebuah kelompok (Mukti 2013)

This is featured post 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Gunung Prahu

SEUMUR HIDUP KITA SEKALIPUN TIDAK AKAN CUKUP UNTUK MENGELILINGI INDONESIA. I LOVE INDONESIA.

7 Bulan

0 komentar

Mengajar. Suatu keniscayaan bagi orang-orang yang biasa dipanggil guru, sensei, ustad atau panggilan yang semakna. Diperlukan bukan hanya penguasaan akan apa yang diajarkan saja, melainkan juga seni dalam memahami kondisi. Kondisi tempat mengajar, kondisi yang diajar dan yang terkait dengannya.
Tidak terasa, sudah mau 7 bulan mengajar di SMP Negeri 4 Tayan Hilir, Kec. Tayan Hilir Kabupaten Sanggau. Sudah banyak hal yang berubah sejak aku pertama kali datang kesini. Perubahan di sekolah, baik dari kondisi sekolah, siswa maupun guru, dan perubahan yang terjadi pada diriku sendiri.
Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari pengalamanku mengajar di sini.
Jika dibilang pengabdian, aku merasa malu sendiri. Niatku tidak 100% untuk mengabdi. Ada alasan-alasan manusiawi yang mendorongku untuk mengikuti program bertajuk"Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia" yang pada akhirnya membutku mengajar di SMP Negeri 4 tayan Hilir. Kawan, terlalu banyak hal yang ingin aku tulis di sini, tapi waktuku tidak mencukupi. Cukup untuk sementara aku bercerita di buku harianku. Pemberian seorang sahabat. Buku kecil, tapi insya Allah buku itu sangat bermanfaat.
7 bulan mengajar.
Minggu-minggu ini terasa semakin berat dalam mengajar. Semakin sering terjadi hari di mana aku mengajar seorang diri untuk tiga tingkatan kelas (VII-IX) dengan tiga mata pelajaran yang berbeda. Aku menikmatinya. Hanya saja staminaku ternyata tidak mau berbohong bahwa mengondisikan 3 kelas dengan 73 siswa itu bukanlah perkara yang mudah dan ringan. Butuh tenaga ekstra, suara yang lebih keras, dan kesabaran dengan senyuman selebar mungkin. Kurang salah satu saja, dapat dipastikan bahwa kondisi anak-anak akan semrawut, hehe.
Dimana kah Engkau wahai guru-ku?
Andai ada salah satu dari murid-muridku yang menanyakan pertanyaan itu, pasti sekelebat rasa nyeri hadir didada. Sering kali para guru tidak hadir ke sekolah dan seperti tadi pagi, aku menjadi seorang dalang dengan 3 lakon yang berbeda dan dimainkan sekaligus!
Apa yang sedang Engkau kerjakan oh Guru-ku?
Jika pertanyaan itu yang muncul, aku hanya tersenyum. mencoba menjelaskan pada mereka dengan bahasa sesederhana mungkin. membuat suatu pemahaman pada mereka, bahwa saat mereka nantinya dewasa akan ada suatu kondisi yang memakasa mereka memilih salah satu dari beberapa tugas yang diamanahkan pada mereka. Nak, kehidupan orang dewasa, apalagi yang sudah berkeluarga itu banyak sekali yang perlu dipikir.
Sekalipun menurutku itu bukanlah alasan. Negara sudah memberikan hak kalian, maka tuntaskanlah kewajiban kalian untuk mengajar para murid!
Aku suka mengajar.
Tapi jika terus di hantamkan pada kondisi seperti ini, sanggupkah aku?
Sabarkah aku?
Maukah aku untuk memaafkan "mereka "?
Siapkah aku untuk terus semangat dan tersenyum di depan para murid?
ah, nak, kalian membuatku tak bisa berkata-kata lagi.

Epilog (Tayan, hujan dan pengabdian)

0 komentar



Laki-laki itu masih duduk di luar pondok kopi. Dia sadar bahwa tubuhnya mulai basah terkena pias hujan yang turun dengan deras. Hujan paling deras dalam sepekan ini. Mbok Mirna, si pemilik kedai kopi sudah berulangkali menawarkan pada laki-laki itu untuk masuk ke dalam kedainya. Berlindung dari pias air hujan, namun laki-laki itu hanya tersenyum, menggeleng sedikit dan mengucapkan terimakasih.
Laki-laki itu bukan tidak sadar bahwa dirinya kini mulai basah. Dia merasa menikmati suasana hujan. Pandangannya tidak luput dari sungai Tayan yang ada di depannya. Saat angin bertiup menyapu hujan, saat itu juga seolah terbentuk sapuan tirai di permukaan sungai, membentuk ombak-ombak kecil yang indah dipandang.
Suara ribut air hujan. Suara desir angin yang menyapunya. Teriakan dan tawa anak-anak dikejauhan yang bermain hujan-hujanan. Semua itu membuatnya enggan untuk beranjak. Sekalipun hanya masuk ke dalam kedai kopi milik Mbok Mirna.
Agak ragu, tiba-tiba laki-laki itu merogoh saku celananya. Diambilnya kunci motor miliknya dan ditimang-timang. Laki-laki itu kembali menatap hujan. Dia tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. Diambilnya topi di meja kedai kopi tempatnya sekarang. Dia beranjak, melangkah keluar dari kedai kopi itu. Membiarkan dirinya basah bukan lagi karena pias tapi karena terguyur air hujan. Dia menyalakan sepeda motor miliknya dan diarahkannya menuju ke utara. Ke arah rumah dinas miliknya.
Laki-laki itu terus tersenyum. Sesekali ia melihat keatas lalu tertawa dan membuka mulutnya lebar-lebar. Air hujan itu lantas sedikit banyak masuk kedalam mulutnya. Manis, segar dan melegakan. Air hujan yang diminumnya seolah menyingkirkan beban kerjanya selama sepekan ini.
Terlalu asyiknya dia menengadah ke atas. Dia lupa memperhatikan semua yang ada di depannya.
Hal yang terakhir yang dia ingat adalah bunyi keras dua benda yang bertumbukan lalu beberapa orang memanggil namanya dengan samar-samar. Perlahan, rasa dingin menjalar di seluruh badannya. Lambat laun yang dilihatnya kini gelap. Semakin gelap. Tubuhnya terasa dingin. Semakin dingin.

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers