There can be no “teacher” without ‘pupils’ , no rebel without ‘establishment’.

Arti Peimpin

Pemimpin adalah orang pertama sekaligus orang terakhir dalam sebuah kelompok (Mukti 2013)

This is featured post 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Gunung Prahu

SEUMUR HIDUP KITA SEKALIPUN TIDAK AKAN CUKUP UNTUK MENGELILINGI INDONESIA. I LOVE INDONESIA.

Diadema setosum and Thick-Knee (tragedi baluran )

1 komentar

3rd Annual baluran -PLN Birding competition, merupakan ajang bagi birdwatcher seluruh Indonesia untuk berkompetisi dan bersilahturahmi dengan sesama birdwatcher. Adapun yang diperlombakan meliputi bidang pengamatan dan identifikasi burung dilapangan, identifikasi burung via gambar dan suara dan tentu saja sketsa dan pengetahuan umum keburungan hehe.
Acara dilaksanakan selama 4 hari yakni dari tanggal 13-16 Juli 2012 dengan agenda pengamatan dihari kedua (14 Juli 2012). Tempat pengamatan secara umum dibagi menjadi dua yakni di bawah dan area atas (gunung baluran ). Area dibawah dibagi lagi menjadi 2 zona pengamatan yakni di area Bekol-Bama dan area bajulmati.
Kebetulan aku dan mba helida, yang tergabung dalam tim Riang Pelatuk BSC, mengamati jalur Bekol-Bama. Disinilah salah satu tragedi Baluran terjadi. (Akan diceritakan kemudian bersama perjalanan pP)
Untuk postingan kali ini, ada sedikit cerita mengenai perjalanan keliling pantai di BAluran atau dengan istilah lain field trip.
Senin, 16 Juli 2012 
Matahari pertama dipulau jawa bersinar cerah. Usai sarapan pagi, seluruh peserta berkumpul, diberi pengarahan lalu melakukan field trip ke pantai-pantai di baluran. Sebelumnya, para peserta berjalan kaki menuju pantai Bama, tempat perahu motor yang akan membawa kami berkeliling tengah menunggu. Lumayan jauh jarak dari camp menuju pantai Bama kurang lebih 5 Km.
Selama perjalanan menuju Bama, banyak anggota family Columbidae yang kami temui. Kemungkinan yang kami lihat adalah Treron vernans (punai gading) atau Streptopelia chinensis (tekukur biasa) atau yang lainnya. (Maklum, masih belajar, jadi belum bisa mengidentifikasi burung yang dilihat dengan cepat dan tepat.). Satu yang pasti, kami tidak melihat si Spilornis Cheela di daerah savana. Padahal kemarin kami dapat melihatnya dengan jelas.
Tibalah di Bama. Langsung menuju perahu motor menuju Roma eh salah menuju pantai bilik maksudnya.
Perahu menuju pantai bilik selama lebih dari dua jam, waktu yag sama bagi sang surya membakar kulit penumpang di perahu ku (maklum ga ada penutupnya), untungnya selama itu pula, pemandangan akan pantai-pantai baluran yang pui\tih, bersih, menyejukkan mata.
Sampai di Bilik, langsung saja aku, mas panji dan mas agus langsung menceburkan diri dan berenang di sana. Kurang dari lima menit berenang.
"Kenapa mas?" tanyaku pada mas panji yang terlihat meringis kesakitan.
"kena landak lau" katanya.
Wah wah.. kasian mas panji. Baru renang sebentar, sudah apes. Ga tanggung-tanggung 6 duri si Diadema setosum bersarang dikakinya. Ini nih yang bikin mas panji meringis:
Mas panji kesakitan dan menepi sementara aku mas agus dan yang lain, tetap saja berenang. Baru setelah mas agus ikut menjadi korban aku menepi. Penasaran dengan hewan itu, mas agus mengambilnya 1 dan membuka lalu memakan gonadnya. Aku ikut2an. Hrrrrr amis, asin dan manis rasanya hehe.
Cuaca makin panas, usai berfoto ria aku dan teman-teman mengitari hutan bakau hingga jam 2 kurang.
Selanjutnya, panitia membagikan door prize,, sayang belum rezekinya, ga satupun doorprize kudapat. (kecuali 1 pisau lipat sewaktu menjawab pertanyaan di camp).

                                     Gambar 2 : Situasi pembagian doorprize
Saat pembagian door prize, datanglah burung yang kami tunggu. WWB or wili-wili besar atau Beach-Thick knee atau Burhinus gigantus . Beruntung rasanya melihat mereka :

Maccinon et all (2010) mengunggkapkan bahwa burung ini memiliki ukuran besar (55cm) sesuai namanya. Ciri khas yang dimilikinya adalah kaki panjang dan kuat, tidak ada jari belakang, lutut membesar. PAruh kekar, mahkota dan bagian atas coklat abu-abu, sisi kepala ditandai strip-setrip hitam dan putih. Siulan sedih yang bernada rendah. Suara wili-wili besar.


Thanks to :
Sobat dari Lombok : Lintang


Merbabu part I ---Koreknya mana?

1 komentar

Bagi beberapa orang, naik gunung merupakan hal yang menantang, menghibur dan mengasyikkan. Berangkat dari beberapa anggapan inilah, pada akhirnya aku mencoba untuk mencobanya bersama beberapa teman-temanku. Tidak tanggung-tanggung, gunung yang kami pilih untuk pendakian pertama kali adalah gunung Merbabu. Padahal ada satu gunung yang lebih dekat dari tempat kuliah kami yakni gunung Ungaran.
Persiapan yang kami lakukan terbilang cukup singkat. H-1 kami baru mulai melengkapi peralatan yang akan digunakan. Beberapa alat sudah ada, beberapa kami beli, dan sisanya tentu saja pinjam hehe.
Briefing sejenak usai belanja peralatan,  Si-Mu, yang sering naik gunung diatara kami, menyampaikan apa yang harus dibawa, aku dan gilang mencatat semua peralatan yang harus di persiapkan, termasuk di dalamya tertulis matras, korek, lilin, spirtus, kaleng, nesting, SB, tas carier, baju hangat, dll.
Malamnya, peralatan dibawa ke kosku dan pagi sekitar jam 6 kurang, kami berangkat dengan dua motor. Aku mbonceng  syaiful sedangkan simu dengan gilang. 
Baru 5 menit keluar dari kos, tiba di tikungan pertama, insiden kecil terjadi. Motor yang di setir sepul oleng dan akhirnya
GUBRAK...
motor kami terjatuh. Aku yang membawa tas carier pun pasrah dan ikut jatuh.hehe
Sayangnya, insiden ini tidak kami abadikan dalam bentuk foto.
Perjalanan pada akhirnya kami lanjutkan,, dan sampailah kami di jalur pendakian merbabu via kopeng.
Usai registrasi dan lapor diri, kami mulai mendaki.
Belum sampai di pos 1, nafas kami mulai tidak teratur alias ngos-ngosan, alhasil kami berhenti.
Ini dia rupa kami saatberhenti, beristirahat.
Meski cukup melelahkan, perjalanan terus kami lanjutkan. Semakin kami keatas, semakin terlihat kecil desa-desa di bawah, termasuk pos pemberangkatan. 
Inilah mungkin salah satu kenikmatan sekaligus refleksi bagi kita bahwa jika dari ketinggian tertentu saja kita melihat rumah dan saudara kita menjadi sangat kecil, bagaimana rupa kita jika dilihat dari tempat Allah swt??
Di pos ketiga, kami berhenti untuk memasak. Simu si ahli perapian mulai membuat kompor kecil dari kaleng susu.
Sementara ia sibuk, aku, syaiful dan gilang bergantian sholat. Saat kompor sudah siap tas mlai kami bongkar dan simu mencaricari korek api.
"Koreke ndi mam?"
"Ora ngarti, kayane aku ora nggawa. Lha jare pan tuku nang pasar salatiga? bisane ora mampir"
Simu kesal, diambilnya satu bungkus Indomie rebus dan diremuk lalu dimakan.
(Itu cerita kami, apa ceritamu?)
bersambung

 

MY MIND © 2011 Design by Best Blogger Templates | Sponsored by HD Wallpapers