skip to main |
skip to sidebar
Suatu hari, ketika sang Presiden sedang berdiskusi ringan dengan para
menterinya, tiga pemuda bangsawan yang tampan menghadap. Dua orang di
antaranya berkata, "Kami berdua bersaudara. Ketika ayah kami sedang
bekerja di ladangnya, dia dibunuh oleh pemuda ini, yang sekarang kami
bawa kepada tuan untuk diadili. Hukumlah dia sesuai dengan Hukum yang
berlaku di negara ini." Sang Presiden menatap orang yang ketiga dan
memintanya untuk berbicara.
"Walaupun di sana tidak ada saksi sama sekali, Allah, Yang selalu Hadir,
mengetahui bahwa mereka berdua berkata yang sebenar-benarnya," kata si
tertuduh itu.
"Aku sangat menyesal ayah mereka terbunuh di tanganku. Aku orang dusun.
Aku tiba di kota ini tadi pagi. Di pinggir kota, aku turun dari kudaku.
Kudaku mulai memakan ranting-ranting pohon yang bergelantungan melewati
tembok. Segera setelah aku melihatnya, aku menarik kuda menjahui
ranting-ranting tersebut.
Pada saat itu juga, seorang laki-laki tua yang sedang marah mendekatiku
dengan membawa sebuah batu yang besar. Dia melemparkan batu itu ke
kepala kUdaku, dan kudaku langsung mati. Karena aku sangat menyayangi
kuda itu, aku kehilangan kendali diri. Aku mengambil batu itu dan
melemparkannya kembali ke orang tersebut. Dia roboh dan meninggal.
Jika aku ingin melarikan diri, aku dapat saja melakukannya. Aku tidak
bermaksud membunuh orang itu, tetapi kenyataannya dia mati di tanganku.
Sekarang tuanlah yang berhak mengadili aku."
Sang Presiden berkata, "Engkau telah melakukan membunuh. Menurut hukum,
engkau harus menerima hukuman yang setimpal dengan apa yang telah engkau
lakukan."
Walaupun pernyataan itu berati satu pengumuman kematian, pemuda itu
tetap bersabar; dan dengan tenang dia berkata, "Kalau begitu,
laksanakanlah. Namun, aku menanggung satu tanggung jawab untuk menyimpan
harta kekayaan anak yatim yang harus aku serahkan kepadanya bila ia
telah cukup umur. Aku menyimpan harta tersebut di dalam tanah agar aman.
Tak ada seorangpun yang tahu letaknya kecuali aku. Sekarang aku harus
menggalinya dan menyerahkan harta tersebut kepada pengawasan orang lain.
Kalau tidak, anak yatim itu akan kehilangan haknya. Beri aku tiga hari
untuk pergi ke desaku dan menyelesaikan masalah ini."
Sang Presiden menjawab, "Permintaanmu tidak dapat dipenuhi kecuali ada
orang lain yang bersedia menggatikanmu dan menjadi jaminan untuk
nyawamu."
"Wahai Presiden," kata pemuda tersebut, "Aku dapat melarikan diri sebelumnya jika aku mau. yakinlah bahwa aku akan kembali."
Sang Presiden menolak permintaan itu atas dasar hukum. Pemuda itu
memandang kepada orang-orang yang berkerumun di sekeliling Presiden.
Dengan memilih secara acak, ia menunjuk seseorang dan berkata, "Orang
ini akan menjadi jaminan bagiku."
Orang itu adalah seorang sesepuh negara yang paling dicintai dan
disegani. Tanpa keraguan sedikit pun, sang Sesepuh setuju untuk
menggantikan pemuda itu.
Si tertuduh pun dibebaskan untuk sementara waktu. Pada hari ketiga,
kedua penggugat itu kembali ke sang Presiden. sang sesepuh ada di sana,
tetapi tertuduh itu tidak ada.
Kedua penuduh itu berkata: "Wahai sesepuh, anda bersedia menjadi jaminan
bagi seseorang yang tidak anda kenal. Seandainya dia tidak kembali,
kami tidak akan pergi tanpa menerima pengganti darah ayah kami."
Presiden berkata: "Sungguh, bila pemuda itu tidak kembali, kita harus
melaksanakan hukuman itu kepada sesepuh." Mendengar kata-kata tersebut,
setiap orang yang hadir di sana mulai menangis, karena sang Sesepuh,
orang yang berakhlak sempurna dan bertingkah laku sangat terpuji,
merupakan cahaya dan inpirasi bagi semua penduduk negeri tersebut.
Ketika hari ketiga itu mulai berakhir, kegemparan, kesedihan dan
kekaguman orang-orang mencapai puncaknya. Tiba-tiba pemuda itu muncul.
Dia datang dengan berlari dan dalam keadaan penat, berdebu dan
berkeringat.
"Aku mohon maaf karena telah membuat Anda khawatir," dia berkata
terengah-engah, "Maafkan aku karena baru tiba pada menit terakhir.
Terlalu banyak yang harus aku kerjakan. Cuaca akhir-akhir ini sangatlah
panas dan perjalanan ini teramat panjang. Sekarang aku telah siap,
laksanakanlah hukumanku."
Kemudian dia berpaling kepada kerumunan massa dan berkata, "Manusia
selalu menepati ucapannya. Orang yang tidak dapat menepati kata-katanya
sendiri adalah orang munafik. Siapakah yang dapat melarikan diri dari
kematian, yang pasti akan datang cepat atau lambat? Apakah
saudara-saudara berpikir bahwa aku akan menghilang dan membuat
orang-orang berkata, "Penduduk negeri ini tidak lagi menepati ucapannya
sendiri?"
Kerumunan massa itu kemudian berpaling kepada sang Sesepuh dan bertanya
apakah ia sudah mengetahui sifat yang terpuji dari pemuda tersebut. sang
Sesepuh menjawab, "Tidak, sama sekali.
Tetapi, saya tidak merasa mampu untuk menolaknya ketika dia memilih
saya, karena hal itu sesuai dengan asas-asas kemuliaan. Haruskah saya
menjadi orang yang membuat rakyat berkata bahwa tak ada lagi perasaan
haru dan kasih sayang yang tersisa di negeri ini?"
Hati dan perasaan kedua penuduh itu tersentuh dan bergetar. Mereka lalu
menarik tuduhannya, seraya berkata, "Apakah kami harus menjadi orang
yang membuat rakyat berkata bahwa tiada lagi rasa belas kasihan di
negeri ini?"
Disadur dari :
planet aqidah: Orang Beriman Selalu Menepati Janji
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan untuk memberikan komentar terhadap tulisan ini, demi tulisan yang lebih baik di lain hari.